Renungan Harian Sabtu 4 Agustus 2018

Roma 12:3

“Berdasarkan kasih karunia yang dianugerahkan kepadaku, aku berkata kepada setiap orang di antara kamu: Janganlah kamu memikirkan hal-hal yang lebih tinggi dari pada yang patut kamu pikirkan, tetapi hendaklah kamu berpikir begitu rupa, sehingga engkau menguasai diri menurut ukuran iman yang dikaruniakan Allah kepada kamu masing-masing.

Manusia adalah makhluk berpikir. Manusia biasanya memulai segala sesuatu sebagai buah dari pikirannya. Tentu, kemampuan manusia untuk berpikir ditentukan oleh latarbelakangnya masing-masing dan dipengaruhi oleh latarbelakang keluarga, pendidikan, pengalaman, usia, profesi, lingkungan dan lain sebagainya. Buah pikiran menjadi perspektif hidup di mana manusia menterapkannya dalam hidupnya sehari-hari. Pengaruh pikiran sangat kuat, bahkan banyak ilmuan yang mengatakan bahwa orang yang bisa mengendalikan pikirannya dengan baik, maka orang tersebut adalah orang yang arif dan teduh, terutama lagi ketika dia memikirkan sesuatu yang patut dipikirkan dan mengabaikan sesuatu yang tidak patut dipikirkan. Namun, kenyataannya, banyak juga ditemukan orang yang memikirkan sesuatu yang tidak patut dipikirkan dan tidak memikirkan apa yang patut dipikirkan. Nah ini yang aneh dan menyusahkan.

Dalam nas ini, kita diingatkan agar kita jangan bermain-main dengan pikiran kita; dengan kata lain, baiknya kita memikirkan yang patut kita pikirkan sesuai dengan kapasitas kita masing-masing. Sebab, di dunia ini, sangat nyata, bahwa setiap orang memiliki bagiannya masing-masing di dalam perjalanan kehidupan ini. Nilai yang patut untuk dipikirkan itu tergantung kepada kita masing-masing untuk menilai apakah ini layak, harus/wajib, sebaiknya untuk dipikirkan atau tidak.

Belakangan ini, banyak pemikir yang “sedang ngopi” membicarakan politik dan ekonomi yang sebenarnya para pemikir itu tidak ada hubungannya dengan itu. Boleh dikatakan seberapa hebat pun dia membicarakan hal tersebut, tidak ada gunanya kepadanya, keluarganya dan pekerjaannya, sementara banyak yang harus dipikirkan tentang keluarga, dirinya dan pekerjaannya. Ada juga dalam perusahaan, bawahan memikirkan apa yang patut dilakukan atasannya, sementara dia tidak memikirkan bagaimana melakukan dan meningkatkan kinerjanya.

Sama halnya dengan anak-anak dan orangtua, di mana anak-anak terkadang memikirkan banyak hal yang seharusnya dilakukan oleh orangtuanya, sementara dia tidak memikirkan apa yang harus dilakukannya dengan studi atau keberadaannya. Orangtua juga terkadang lebih mengatur guru dari anak-anaknya di sekolah, sementara yang dilakukannya itu bukan bagiannya. Kini tiba saatnya kita kembali memeriksa diri kita dan tahu diri, siapa kita, apa kapasitas kita dalam hidup ini, supaya kita tahu membuat ukuran apa yang patut dan tidak patut bukan hanya dipikirkan, tapi juga dikatakan atau dilakukan. Dengan demikian, kita tidak akan pernah sesat berpikir, berkata-kata atau berbuat, dan kita juga akan bisa menguasai diri dan menahan diri untuk tidak terlalu jauh mencampuri urusan yang bukan urusan kita dan bukan kapasitas kita. Semua diserahkan pada bagiannya masing-masing supaya semua kehidupan berjalan dengan teratur. Ternyata juga, bagian penguasaan diri ini adalah ciri khas dari orang yang beriman atau ciri khas orang yang berpencerahan baik dari Tuhan. Selamat berpikir dengan baik dan memikirkan hal yang patut sesuai dengan kapasitas kita. Amin. (FIS).

Pararat

Leave a Reply

Your email address will not be published.