Renungan Harian Minggu 10 Juni 2018

MINGGU KEDUA SETELAH TRINITATIS

ALLAH PENOLONG DAN PENEBUS (Yesaya 41;14-20)

Yesaya 41 masuk dalam Deutro Yesaya, menggambarkan kondisi bangsa Israel ketika mereka terbuang ke Babel. Di sana mereka menderita, tertindas dan teraniaya. Kenapa mereka terbuang? Bukankah mereka umat pilihan Allah yang dikasihi Allah. Pembuangan adalah hukuman bagi mereka karena dosa-dosa mereka. Di balik hukuman itu ada pengharapan, ada pemulihan, ada keselamatan bila mereka mengakui dan menyesali dosa-dosa mereka, kemudian memohon pengampunan dan bertobat.

Dalam nats ini sangat jelas bahwa umat Allah hanyalah cacing dan ulat, artinya umat yang lemah dan tidak berdaya tanpa Allah Penolong dan Penebus. Allah berjanji akan memberikan keajaiban bagi umatNya. Apakah itu? Kekuatan, kesejahteraan berupa air dan makanan yang berlimpah, lingkungan hidup yang baik dan menyegarkan mata memandang berupa pohon-pohon tempat berteduh dari panas matahari dan angin kencang. Semua ini akan dilihat, diketahui, diperhatikan dan dipahami bangsa lain bahwa Allah Israel yang Mahakudus. Penolong dan Penebus yang merencanakan dan melaksanakannya.

Kita sebagai orang Kristen adalah minoritas di negeri ini. Kita sering dianggap cacing dan ulat di negeri ini. Artinya, kita dianggap lemah tanpa kekuatan. Tetapi ingat, Allah dalam Yesus Kristus bukanlah Allah yang tidur, tetapi Allah yang hidup. Melalui pengorbanan Tuhan Yesus di kayu salib, kita telah ditebus. Biarpun kita minoritas dalam jumlah tetapi dalam kualitas kita harus mayoritas, karena kekuatan kita hanya dari Tuhan yang dapat mengalahkan dunia ini. Jadi jangan lemah, jangan pesimis tetaplah optimis untuk firman Tuhan. Amin

Pararat

Leave a Reply

Your email address will not be published.