Renungan Harian Kamis, 28 Juni 2018

“Dan kepada mereka dipesankan, supaya mereka jangan merusakkan rumput-rumput di bumi atau tumbuh-tumbuhan ataupun pohon-pohon, melainkan hanya manusia yang tidak memakai meterai Allah di dahinya” (Wahyu 9:4)

 

Penghakiman Allah atas bumi sebagai bagian dari kesulitan besar masih berlanjut. Yohanes melihat bintang yang jatuh ke atas bumi, yang menerima anak kunci lubang jurang maut. Dari lubang jurang maut itulah keluar belalang-belalang. Belalang-belalang itu ditugaskan bukan untuk merusak tumbuhan maupun pepohonan. Bagai sebuah gerombolan, belalang-belalang itu bertugas menyiksa manusia selama lima bulan. Namun belalang-belalang itu tidak diberikan otoritas untuk membinasakan orang.

Walau tidak berakibat fatal atau mematikan, sengat belalang-belalang itu akan menimbulkan rasa sakit yang teramat sangat. Rasa sakit itu sedemikian rupa sampai membuat orang-orang yang terkena sengat merasa ingin mati, tetapi tidak bisa.

Sungguh ironis respons manusia yang tidak percaya kepada Allah. Allah telah memberikan masa lima bulan sebagai batas waktu berlangsungnya siksaan itu. Ini memperlihatkan bahwa Allah belum bermaksud menghukum manusia untuk selama-lamanya. Itu berarti kehadiran belalang-belalang dalam waktu lima bulan merupakan alat untuk memperingatkan manusia, dengan tujuan agar manusia bertobat dan berbalik kepada Allah. Namun sayang, manusia malah merespons dengan keinginan untuk melepaskan diri dari penghakiman Tuhan dengan cara mati. Waktu lima bulan adalah waktu untuk bertobat dan bukan untuk mati.

Penglihatan Yohanes ini menjadi sebuah peringatan keras bagi kita untuk peka terhadap segala sesuatu yang mungkin saja merupakan teguran Tuhan. Kepekaan kita dapat terbentuk bila kita memiliki kedekatan dengan Dia. Karena itu jalinlah persekutuan dengan Dia hari lepas hari melalui dengar-dengarkan akan firman-Nya. Maka bacalah Alkitab tiap- tiap hari. Amin.

(Pdt P Manalu,S.Th)

Pararat

Leave a Reply

Your email address will not be published.