Renungan Harian Kamis 2 Agustus 2018

Keluaran 23:8

“Suap janganlah engkau terima, sebab suap membuat buta mata orang-orang yang melihat dan memutarbalikkan perkara orang-orang benar”.

Zaman now ini, kita tidak heran lagi tentang praktek suap yang kerap terjadi di banyak lembaga pemerintahan dan swasta, lembaga hukum, perusahaan, lembaga pendidikan bahkan di lembaga agama. Ini terbukti dengan banyaknya ditemukan praktek suap sebagai hasil penangkapan dari pihak berwajib. Praktek suap ini sangat meresahkan bahkan mampu merusak kepercayaan rakyat akan lembaga hukum bahkan sampai kepada level yang mengatakan bahwa kebenaran bisa dibeli dengan uang, kebenaran ditentukan oleh uang, kebenaran ditentukan oleh yang berkuasa, atau kebenaran itu semu.

Suap merupakan usaha yang dilakukan orang-orang tertentu untuk mensukseskan apa yang diinginkan dengan cara membayar kepada orang yang bisa mengabulkan. Kebenaran akan dikesampingkan, namun keinginan dan hasrat diutamakan. Selama hal ini menguntungkan tanpa memikirkan ini baik atau tidak, suap akan terlaksana. Suap bisa memutarbalikkan kebenaran, yang salah bisa benar, yang benar bisa salah. Ini sangat memalukan dan sangat tidak terhormat. Suap sarat penipuan, rekayasa, pembodohan, penindasan bahkan kecurangan dalam kehidupan. Suap juga menutup mulut orang mengatakan kebenaran, sebaliknya membuka mulut orang mengatakan yang tidak benar. Jika ini terjadi maka begitu buruknya perjalanan hidup manusia. Penegakan kebenaran akan jauh dari harapan orang-orang benar, namun menjadi keuntungan orang-orang fasik.

Ternyata, banyak orang yang suka disuap, sebagaimana anak kecil yang disuapin makanan, sebab begitu enaknya “disuapin”; sebab tidak perlu lelah dan letih bahkan berjerih payah, berpeluh untuk bekerja. Duduk santai, tenang, tidak perlu membuang energy namun “suap” datang dan tinggal hanya membuka mulut dan mengunyah. Kondisi ini yang membuat manusia begitu mudah digoda oleh budaya suap. Ditambah lagi ada yang berkepentingan dan sudah mempersiapkan diri untuk menjadi hamba melakukan penyuapan.

Itu sebabnya, diperintahkan kepada kita, agar budaya suap harus dihindari bahkan dihapuskan. Jangan mau menjadi pelaku suap dan jangan mau menjadi pelaku penerima suap. Untuk apa menikmati kebenaran semu, untuk apa hidup dalam dusta dan kebohongan? Untuk apa memperoleh kemenangan atau keinginan buah dari kecurangan? Untuk apa pula mendapat keuntungan hidup dari suap? Untuk apa pula menikmati kekayaan hasil dari suap? Bukankah ini sama saja menikmati kekotoran hidup?

Ketika kita sudah hidup di dalam Tuhan, hidup di dalam kebenaran, kita memiliki integritas dalam hidup. Untuk itu jangan memberikan diri kita jatuh dalam tipu daya iblis, sebab iblis juga tidak pernah memberikan sesuatu yang baik pada akhirnya, justru iblis menawarkan kenikmatan duniawi untuk menghancurkan manusia. Untuk itu, jangan beri kesempatan kepada si iblis menguasai hidup kita, sebaliknya, biarlah Tuhan yang menguasai hidup kita. Tidak ada gunanya kekayaan kita peroleh dari hasil kejahatan,sebab semuanya akan berakhir dengan tragis dan kesiasiaan. (FIS).

Pararat

Leave a Reply

Your email address will not be published.