Renungan Harian Jumat 3 Agutus 2018

“Kesudahan segala sesuatu sudah dekat. Karena itu kuasailah dirimu dan jadilah tenang, supaya kamu dapat berdoa” (1 Petrus 4:7)

Seseorang yang mendapat musibah berat, misalnya kebakaran rumah, kecelakaan anggota keluarga yang menyebabkan kematian, musibah korban perampokan, mendapat hasil pemeriksaan kesehatan yang buruk, bankrut, PHK, kehilangan harta, dan lain sebagainya, mampu membuat seseorang itu menjadi terkejut, histeris, stress atau depressi, sehingga bisa mengakibatkan hilangnya semangat dan kekuatan dalam melanjutkan kehidupan. Situasi ini akan menggiring dia untuk tidak bisa tenang dan tidak mampu menguasai diri lagi karena sudah putus atau hilang harapan, atau bisa juga menjadi galau dan bingung dalam kehidupan. Hal ini bisa dikatakan kondisi wajar sebagai efek dari musibah yang menimpa.

Namun, pada kesempatan ini, kita diingatkan oleh Firman Tuhan agar dalam segala hal kita harus mampu menguasai diri dan harus bisa tenang di dalam menghadapi apapun dalam hidup kita. Ternyata juga bukan hanya karena kesusahan orang tidak bisa menguasai diri dan tenang, tetapi juga karena kesenangan hati juga bisa membuat orang lepas kendali, sehingga meluapkan kesenangan hatinya dengan cara yang salah (pesta pora/mabuk-mabukan). Ketenangan hati dan penguasaan diri sangat dibutuhkan pada zaman ini, mengingat banyaknya hal yang sangat mengkuatirkan dalam hidup kita. Mulai dari masalah ekonomi, susahnya mencari kerja, susahnya mempertahankan kerja, susahnya naik jabatan, susahnya naik gaji dan pendapatan, susahnya pengobatan yang baik bagi kesehatan, susahnya fasilitas pendidikan yang baik dan murah, keadaan keamanan yang tidak kondusif, perpolitikan yang tidak jelas, belum lagi masalah di keluarga dan pertemanan, dan lain sebagainya. Jika kita tidak mampu menguasai diri dan hidup dalam keteduhan/tenang, maka kita akan mengalami kesulitan dalam melanjutkan kehidupan. Sebab kita hidup panik dan kuatir, sehingga kita hanya fokus kepada masalah yang kita hadapi, jadi lupa kepada sumber inspirasi atau kekuatan yang dari Allah yang bisa kita peroleh dari doa. Namun, bagaimana mungkin kita berdoa jika suasana hati tidak tenang; atau bagaimana mungkin kita bisa berdoa, sementara kita tidak bisa menguasai hati kita.

Itu sebabnya, dibutuhkan kemampuan untuk keteduhan hati dan pengendalian diri dalam menghadapi apapun, sebab pengendalian diri atau penguasaan diri adalah buah dari kearifan/hikmat dari Tuhan. Hikmat dari Tuhan hanya diperoleh dari Firman Allah, bukan dari yang lain. Untuk itu, tetaplah hidup di dalam Firman Tuhan, sehingga kita tetap diberikan pencerahan dan perspektif kehidupan kita selalu dibaharui dan disegarkan dengan Firman Tuhan. Firman Tuhan yang menjadi kebenaran absolut akan membentuk pribadi kita sebagai pribadi yang kuat dan tangguh di dalam mengarungi samudera kehidupan. Kita tidak tahu kapan akhir dari hidup kita, dengan kata lain, kita tidak tahu kapan dan bagaimana kesudahan hidup kita. Namun kita pasti tahu bahwa Tuhan tetap mengasihi dan menyertai kita di dalam setiap nafas kehidupan yang sedang kita miliki. Untuk itu, tetap fokus kepada persekutuan yang baik dengan Tuhan di dalam doa, sebab melalui doa kita bisa menyegarkan hati, pikiran, iman, jiwa dan roh kita, bahkan hidup kita. Doa merubah banyak hal dalam hidup kita, agar hidup kita bisa BAIK di mata Tuhan. Mulailah segala sesuatu dengan doa dan akhirilah segala sesuatu dengan doa juga; maka dengan sendirinya hidup kita ditutup bungkus dengan doa. Doa menjadi tanda bahwa kita memiliki persekutuan yang baik dengan Tuhan; sehingga persekutuan yang baik ini membuka pintu berkat dan dicurahkan kepada kita. Selamat berdoa di dalam keteduhan. Amin. (FIS).

Pararat

Leave a Reply

Your email address will not be published.