Pemuda dan Gereja (4)

Ditulis oleh Pdt. PT. Sitio, S.Th (HKBP Lubuk Baja)
Sambungan: Pemuda dan Gereja (3)

2.1. Kekerasan dan kesetaraan gender.

Kekerasan dalam bentuk tawuran, perkelahian antar geng, antar lorong, disatu sisi dan kekerasan terhadap wanita di sisi yang lain turut juga mewarnai kecenderungan di tengah-tengah masyarakat. Termasuk di dalam kelompok ini adalah penjualan wanita dan anak-anak menjadi komoditi sex. Kecenderungan ini sudah dibaca oleh dewan Gereja sedunia ketika mencanangkan tahun 2001-2010 sebagai dekade anti kekerasan. Pemuda dalam hal ini perlu kreatif, merealisir semangat pembaharuan yang sifatnya oikumenis tersebut. Sikap ekstrim terhadap wanita berpangkal dari sikap atau pandangan merendahkan wanita. Itu sebabnya kesetaraan gender juga seharusnya menjadi tema di dalam percakapan-percakapan pemuda, yang didasari dari pemahaman teologis.

III. Sektor (Jemaat) Sebagai Sentral Pelayanan Pemuda: Masa Depan Gereja

Apabila kita mencermati pemuda dan interaksinya di tengah-tengah masyarakat, baik dalam rangka pelayanan pemuda di tengah-tengah masyarakat, maupun dampak interaksi di tengah-tengah mayarakat terhadap kerusakan pemuda, maka kita tentulah bertanya di mana itu terjadi? HKBP sering mengeluhkan bahwa warganya dalam hal ini pemuda tidak lagi tertarik beribadah ke HKBP tetapi lebih suka ke persekutuan-persekutuan di luar HKBP. Ini menjadi persoalan serius, karena mustahil kita berbicara pelayanan pemuda sementara pemudanya sendiri tidak ada. Dalam hal ini kita juga bertanya, di mana para pemuda ‘digarap’, kalau bukan di sektor atau di jemaat-jemaat! Keberhasilan memastikan di mana itu terjadi sangat menentukan keberhasilan dalam menganalisis atau mendiagnosa realita kehidupan pemuda dan pada gilirannya menentukan keberhasilan kita dalam mendesign pelayanan pemuda dimasa yang akan datang. Dengan demikian kita sedang menjalani suatu proses design berdasarkan kebutuhan dan dengan pendekatan masalah. Kita akan melihat di mana pelayanan pemuda yang strategis, yang seharusnya menjadi pusat perhatian HKBP:

3.1. Strategi Satu: Bertindak Lokal dengan Jangkauan Global

Kita dapat melihat HKBP sebagai suatu system. Dalam system tersebut semua komponen-komponen harus saling terkait dan saling membangun sebagai tubuh Kristus. Hal-hal yang institusional datang dari pusat ataupun distrik, hal-hal yang instruksional datang dari distrik dan resort, dan akhirnya hal-hal yang sifatnya strategis ada di tengah-tengah jemaat dan sektor. Design pelayanan yang didominasi pada tingkat pusat ataupun distrik harusnya dilihat sebagai koordinasi untuk mewadahi suatu sikap yang jangkauannya lebih luas (nasional). Sehingga apabila tingkat tersebut menjadi sangat teknis, maka itu akan menjadi suatu pemborosan. Seharusnya, khususnya dalam hal ini pemuda, pusat perhatian harus dilakukan di jemaat atau sektor. Kalau kita meneliti dan memasuki persoalan-persoalan tadi, maka kita akan dibawa akhirnya ke tempat di mana persoalan itu dimulai, itu tidak lain di jemaat atau disektor. Oleh karena itu, perhatian HKBP terhadap pemuda harus difokuskan dan dimulai ditingkat sektor dan jemaat. Cara berpikir yang demikian, yaitu dari bawah ke atas, atau dari skopus yang terkecil ke yang terbesar memenuhi model pemuridan seperti di dalam Alkitab.

3.2. Strategi Dua: Penentuan Model yang Tepat untuk Tempat yang Tepat

Pokok-pokok masalah sosial di atas memang sifatnya umum. Namun, ketika mendesign pelayanan pemuda di tingkat sektor atau jemaat, haruslah dipertimbangkan hal-hal yang khusus kalau HKBP menghormati keunikan pergumulan setiap sektor atau jemaat. Hal ini semakin penting jika menyadari  keragaman jemaat atau sektor di HKBP. Misalnya pembagian yang selama ini dikenal dengan kategori maju, transisi, dan tradisional. Untuk itu perlu dilakukan penelitian kebutuhan sektor atau jemaat yang kemudian dibantu dengan analisis SWOT (Strenght, Weakness, Opportunity, Threat)[5]. Ketiga kategori (maju, transisi, dan tradisional) yang biasa dipergunakan tersebut pada dasarnya adalah satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan tetapi perlu dibedakan demi efektifitas pelayanan. Karena satu kesatuan, maka seharusnya ketiga model tersebut saling melengkapi.

3.3. Strategi Tiga: Kemitraan yang Oikumenis

Karena tubuh Kristus itu adalah oikumenis, dan arena pemuda adalah bagian yang integral di dalam jemaat maka kemitraan pemuda dengan Gereja-gerja lain di tingkat internasional sudah sangat mendesak. Hal ini dapat menolong untuk melihat persoalan-persoalan kepemudaan secara internasional, dengan demikian sangat terbuka kemungkinan saling menopang, saling menolong dalam mewujudkan pelayanan yang bermutu di tempat masing-masing. Kemitraan yang seperti ini memang secara administrative dilakukan di tingkat distrik ataupun pusat, tetapi jangkauan atau pengaruhnya seharusnya menyentuh secara konkrit bagi sektor atau jemaat. Seperti sudah diuraikan akhirnya toh persoalan-persoalan di tengah-tengah masyarakat membawa kita ke tempat di mana persoalan itu dimulai: sektor atau jemaat.

[5]Sebagai contoh penerapannya dalam dunia pendidikan bisa dilihat misalnya: Dr. Tagor Pangaribuan, TQM., menerapkan pendekatan pendidikan bermutu dalam tindak dan layanan pendidikan, di dalam: Universitas HKBP Nommensen dalam tindak dan layanan pendidikan, FKIP HKBP Nommensen, 2004, hlm.82-91.

Bersambung…
HKBP Lubuk Baja, Batam

Pararat

Leave a Reply

Your email address will not be published.