Pemuda dan Gereja (2)

Ditulis oleh: Pdt. PT. Sitio, S.Th (HKBP Lubuk Baja)
Sambungan dari Pemuda dan Gereja (1)

II. Pemuda dan masyarakat:
Gereja adalah Gereja atau tidak sama sekali. Bagaimana mengukurnya? Salah satunya adalah apakah Gereja tetap melaksanakan fungsinya sebagai Gereja, apakah Gereja tetap hadir sebagai Gereja di tempat di mana dia berada. Sebagus apapun pelayanan didesign tetapi kalau tidak menyentuh persoalan-persoalan yang muncul di tengah-tengah masyrakat, maka itu bukanlah pelayanan yang bermutu. Ada beberapa bahan yang bisa didiskusikan dalam pra-konsultasi ini antara lain:

2.1. Pemuda di Tengah-tengah Kemajemukan Bangsa.

Di antara banyaknya kemajemukan, yang paling membutuhkan perhatian kita sekarang adalah kemajemukan agama. Banyak persoalan-persoalan di tengah-tengah masyarakat akhir-akhir ini bernuansa agama. Itu sebabnya dialog antar umat beragama mutlak dilakukan. Memang dialog antar umat beragama dalam rangka dialog kerja, bekerja sama menghadapi persoalan-persoalan kemasyarakatan masih perlu terus ditumbuhkembangkan. Namun hal yang sangat penting yang kurang diperhatikan adalah dialog yang mencoba membuka diri dengan pertanyaan: adakah dan sejauh manakah keterbukaan teologi (Kristen) yang bisa dan mungkin dilakukan? Pertanyaan ini perlu ditindak lanjuti untuk menemukan jawaban, yang pada akhirnya memperlengkapi pemuda dalam berinteraksi dengan saudara-saudara yang tidak seiman khususnya dengan muslim. Sebagai bahan untuk diskusi saya menawarkan konsep dialog dengan saudara-saudara kita muslim sebagai dialog keluarga Abraham. Artinya kita berdialog bukan sebagai orang asing satu dengan yang lain tetapi sebagai satu keluarga.

Dalam era globalisasi konteks lokal, nasional dan internasional sudah “interrelated” sehingga jika kita tidak mengenal siapa kita (identitas) yang berhubungan dengan keber”ada”an dan konteks, maka kita akan terputar oleh arus yang dikuasai oleh multi-cooperation, yang tidak memuja Allah tapi mammon. Dampaknya,  konteks global sekarang adalah mengabaikan nilai-nilai kemanusiaan dan keutuhan interrelationship dari semua ciptaan. Sehingga yang nampak adalah ketidakadilan.

Perbedaan dianggap sebagai ancaman bukan kekayaan yang saling menopang. Hal ini disebabkan karena yang memiliki, yang berkuasa, yang lebih pintar menindas/ memanipulasi yang tidak/ kurang memiliki, yang tidak berkuasa (powerless) dan yang bodoh. Saling berbagi (the idea of sharing) tidak dikenal dalam era ini. Prinsip Doa Bapa Kami dan kotbah di Bukit yang diajarkan oleh Yesus tidak berlaku di era perdagangan bebas dan global market ini. Manusia kini, amat cepat terserap oleh pola pikir dan tindak yang ditawarkan oleh global market ini, karena mereka menguasai dunia informasi. Termasuk pemuda Gereja.

Konsumerisme, hedonisme, pragmatisme, kebudayaan instant (coffee three in one) mengarahkan kita menjadi individualisme yang tidak sesuai dengan pola local (kebatakan- hula-hula, anakboru dll) dan nasional (gotong royong, musyawarah mufakat) yang berorientasi kepada kekuasaan (power)  dan uang (money). Semua orang menuntut dilayani bukan melayani. Yang tinggi direndahkan dan yang rendah ditinggikan tidak dikenal pemuda kini.

Ekonomi dan politik adalah berkaitan dan sangat berhubungan dengan keberadaan agama. Keterkaitan ketiga aspek ini dan yang dimana aspek agama adalah yang the most sensitive, maka jika Gereja belum mengertikan Pancasila sebagai civil religion[1], muncullah seperti yang kita kenal di tanah air tragedi Ambon dan Poso, juga di dalam pemerintah RI yang disebut “teroris.”  Ini adalah penampakan umum sebagai dampak negatif dari pluralisme kita (kepercayaan/iman dan suku). Penampakan khusus adalah masalah intra-church. Maraknya gerakan “haleluyah“ (bisa dimasukkan Pentakosta dan Karismatik) jangan dengan cepat dimengerti sebagai buah dari pekerjaan Roh Kudus. Ini adalah buah dari tatanan global market[2].

Berdasarkan pemaparan di atas, bisa dikatakan bahwa sebagai pemuda yang hidup di konteks kini tidak gampang. Karena tidak hanya complex tapi juga complicated (seperti status di Facebook ya…), jika kita tidak mempunyai identitas yang jelas tentang siapa dan dimana kita.

Pengangguran karena putus sekolah dan tidak dapat kerja adalah dampak dari era yang high competition ini.  Konsep keluarga juga sudah bergeser dikarenakan komoditi ekspor Indonesia yang menghasilan devisa yang tinggi buat negara adalah TKI dan TKW. Pemuda banyak yang jebolan keluarga yang kita sebut “broken home.“  Banyak yang melarikan diri [3], dari pada stress lebih baik ke narkoba, miras, berjudi, atau menjadi aktif di kegiatan-kegiatan yang positif seperti GMKI, pemuda Gereja HKBP atau Persekutuan-persekutuan doa yang menjamur kini.

Dalam era sejuta pilihan ini, pemuda harus mempunyai kemampuan untuk memilih. Kemampuan ini haruslah dilandasi bekal pengetahuan yang didapatkan dari bangku sekolah dan pendidikan keterampilan sehingga memampukannya berpikir secara global dan bertindak lokal, serta keteguhan iman. Perpaduan kedua ini jelas berhubungan dengan pemunculan sikap yang kerja keras, inovatif, kreatif dan jujur.


[1] Bagaimana konsep dan penerapan pendidikan bermutu untuk semua, dapat dilihat misalnya: Prof. Dr. Daulat P. Tampubolon, Pendidikan Bermutu Untuk Semua. Suatu Reformasi Manajemen Pendidikan. Disajikan pada orientasi Applied Approach STT-HKBP Pematangsiantar 2-4 Juni 2007.

[2] Civil religion stands somewhat above folk religion in its social and political status, since by definition it suffuses an entire society, or at least a segment of a society; and is often practised by leaders within that society. On the other hand, it is somewhat less than an establishment of religion, since established churches have official clergy and a relatively fixed and formal relationship with the government that establishes them. Civil religion is usually practiced by political leaders who are lay people and whose leadership is not specifically spiritual

[3] Bandingkan Iman Santoso, “Misi Gereja Dalam Era Pluralisme Budaya Dan Teknologi Canggih,” dalam Masihkah Benih Tersimpan, penyunting F. Suleeman, Jakarta: BPK, 216-7

[4] Eka Dharmaputra menuliskan bahwa dalam menghadapi  status quo dan kemapanan disekitarnya, generasi muda a. melarikan diri,b. Menghanyutkan diri dan c. Reaktif dan agresif, lihat  Pergulatan Kehadiran Kristen di Indonesia, Jakarta: BPK, 570.

Bersambung….
HKBP Lubuk Baja, Batam

Pararat

Leave a Reply

Your email address will not be published.