Mandok hata :)

Oleh: Pdt. Daniel T.A. Harahap

Mandok hata atau berbicara di depan publik adalah bagian penting atau bahkan terpenting dari pertemuan komunitas Batak. Tidak ada pertemuan tanpa acara yang disebut mandok hata atau penyampaian kata-kata ini. Pada hakikatnya semua orang (lelaki dan menikah?) harus berbicara dan menyampaikan kata-katanya. Soal kata-kata itu lebih dulu dipikirkan atau sekadar asal bunyi lain soal. Mandok hata atau menyampaikan kata-kata adalah hak atau jambar setiap orang. Tidak memberi kesempatan seorang Batak (baca: lelaki) bicara sama saja dengan menghinanya atau bahkan menganggapnya tidak ada di dunia ini. Itu bisa berakibat perkelahian atau perang saudara.

Bagi banyak orang muda acara mandok hata ini acapkali dianggap membosankan. Jika dua puluh orang hadir dalam suatu acara maka duapuluh orang itu harus bicara satu per satu bergiliran. Bagaimana kalau tiga puluh ? Memang pada masa kini telah ada upaya untuk memotong acara mandok hata ini lebih singkat dengan membentuk sistem perwakilan berbicara, namun usaha ini acap lebih sering gagal. Dalam pertemuan-pertemuan Batak, baik di adat maupun gereja, kesepakatan untuk mewakilkan pembicaraan entah kenapa selalu dilanggar baik dari segi jumlah pembicara apalagi durasi atau panjangnya.
Sebagai seorang Batak dan pendeta gereja Batak, saya sudah lama menyimpulkan bahwa orang Batak pada umumnya memang sangat suka dan sangat bangga jika disuruh berbicara di depan publik. Mungkin mulanya dia terkesan menolak memakai alasan ini-itu, namun saya berani mengatakan penolakan itu sebenarnya lebih banyak basa-basi atau hanya sekadar sopan-santun. Pada dasarnya si Batak memang suka sekali bicara (girgir manghatai) dan menganggap dirinya pantas dan mampu bicara di depan orang banyak.

Dalam satu segi hal ini sebenarnya sangat positif dan modal bagus untuk demokrasi, keadilan dan kesetaraan. Juga bekal bagus untuk berprofesi sebagai pengacara, jaksa, calo, presenter, dan berbagai profesi lain yang sangat mengandalkan kemampuan berkata-kata. Pendeta?

Namun di segi lain saya juga berkesimpulan bahwa orang Batak jika disuruh bicara di depan orang banyak entah kenapa selalu melebar atau bahasa Bataknya: rarat. Acap kali juga mengalami selip lidah sehingga menimbulkan masalah baru. Mengapa? Itulah yang hendak saya tuliskan dan saya yakin pasti mendapat tanggapan atau sanggahan.

Pertama: orang Batak (saya tidak tahu orang Jawa atau Cina) jarang menuliskan pidato, kotbah apalagi kata sambutannya. Memang suku Batak memiliki aksara sendiri (dan itu sering dibangga-banggakannya) namun jika jujur orang Batak sebenarnya belum sampai pada kebudayaan tulisan. Jangankan menulis dalam aksara Batak, menulis memakai aksara latin sebagian besar malas. Orang Batak sampai sekarang sebagian besar masih berada pada kebudayaan lisan. Mari kita cek: berapa persen orang Batak yang membawa catatan saat disuruh pidato atau menyampaikan kata sambutan? Saya yakin tak sampai sepuluh persen. Bahkan mungkin dibawahnya. (Moga-moga ada yang bikin survey). Berapa persen pendeta Batak yang menuliskan kotbahnya? Berapa persen orang Batak yang membuat buku?

Berhubung tidak dituliskan maka wajar sekali jika kata sambutan atau pidato atau kotbah itu berlepotan, melebar- meluber, beranak-pinak atau berputar-putar. Atau hanya perulangan demi perulangan dari kata-kata sebelumnya alias latah. Bahkan saat mandok hata maaf menyampaikan kata-kata kepada Tuhan atau berdoa pun si Batak kadang atau selalu rarat juga.

Inti yang hendak saya katakan adalah mungkin orang Batak harus belajar memaksa diri untuk menuliskan apa yang hendak dikatakannya baik kepada sesama manusia maupun kepada Tuhan.

Kedua: disiplin. Sebenarnya bukan hanya Batak namun hampir semua orang Indonesia masih kurang disiplin. Kekurangdisiplinan ini terjadi di semua ruang dan bentuk kehidupan. Banyak orang bukan saja tidak disiplinsaat berkendara, bekerja dan juga berbicara. Banyak orang tidak disiplin waktu apalagi waktu berbicara. Sikap semberono dan ugal-ugalan itu bukan hanya bisa terjadi di jalan namun sering juga dinampakkan dalam pembicaraan. Apalagi jika yang bersangkutan berbicara memakai mik dan speaker. Kelakuannya bisa seperti supir mobil tangki atau truk besar!

Ketiga: ego dan nafsu yang terlalu besar. Mengapa orang Batak selalu rarat atau menyimpang jika berbicara depan publik? Menurut saya mungkin juga karena perasaan keakuan ditambah nafsu yang terlalu besar. Sebagian besar atau semua orang Batak merasa dirinya raja atau minimal hebatlah. Dan di bawah sadar, keinginan menunjukkan ke-raja-an dan ke-hebat-an itu dimanifestasikan melalui bicara sebanyak-banyaknya, sebesar-besarnya dan juga sekuat-kuatnya. Seolah-olah pameo tong kosong nyaring bunyinya dianggap tidak berlaku bagi orang Batak.

Ada orang yang ingin memasukkan segala-galanya ke dalam mulutnya. Ada pula orang yang ingin mengeluarkan segala-galanya dari mulutnya. Kerakusan bisa dalam hal makan namun bisa juga terjadi dalam hal bicara. Dua-duanya sebenarnya tanda ketidakmampuan mengendalikan nafsu. Sekaligus tanda kurang beradab. Pertanyaan: apakah Anda mau disebut serakah atau malah kurang beradab?

Keempat: latah. Banyak orang Batak mungkin menganggap mandok hata atau bicara depan orang banyak telah menjadi hal yang sangat rutin, biasa, dan karena itu tidak perlu dipikirkan dalam-dalam lagi. Tinggal mengulang atau “memforward” kata-kata sebelumnya serta membunga-bungainya tanpa penghayatan. Kata-kata sudah tersedia tinggal mengucapkannya saja. Sebab itu jangan heran jika banyak sekali kata sambutan (juga kotbah dan bahkan doa) asal bunyi saja. Klise dan garing.

Lantas bagaimana? Tak tahulah. Saya hanya bisa mengatakan ulang pameo nenek moyang Batak: jolo dinilat bibir asa didok hata (basahilah dulu bibir sebelum berkata-kata). Artinya: pikir masak-masak pendapat sebelum mengucapkannya. Unang pagirgirhu mandok hata. (jangan terlalu rajin berkata-kata). Satu lagi, ingat Amsal Kitab Suci: dalam banyak bicara pasti ada pelanggaran. Horas. Manghatai ma hita!
sumber: rumametmet.com

Publikasi > Artikel Umum
HKBP Lubuk Baja, Batam

Pararat

Leave a Reply

Your email address will not be published.