Pemuda dan Gereja (Catatan Akhir)

Sengaja tidak disebutkan sebagai penutup, tetapi sebagai catatan akhir untuk mengakhiri tulisan tersebut, karena memang materi ini dimaksudkan untuk memperlengkapi dan sengaja dituliskan sedemikian rupa sehingga terbuka untuk didiskusikan. Karena akhirnya pemuda sendirilah sebagai subjek yang menentukan apa yang menjadi kebutuhan di lingkungannya masing-masing.

Pemuda dan Gereja (9)

Kondisi yang dihadapi dunia pada saat ini, mau tidak mau juga dihadapi oleh Gereja di setiap dunia. Yang jadi permasalahan sekarang adalah : Apakah Gereja memiliki sikap yang jelas tentang kondisi ini ? Apakah Gereja berbuat sesuatu untuk menyelesaikan masalah ini ?

Pemuda dan Gereja (8)

Gereja dalam rentang perjalanannya mengemban tugas panggilan yang sama dan sepanjang jaman tidak pernah berubah. Satu-satunya dasar dan sumber yang amat valid bagi Gereja dalam menunaikan tugas panggilannya adalah Alkitab. Berdasarkan amanat Alkitab, Gereja adalah persekutuan orang-orang percaya yg diutus ke dalam dunia

Pemuda dan Gereja (7)

Berlandaskan tugas panggilan Gereja, setiap orang Kristen pada dasarnya mengemban tugas untuk menjadi transformator dalam kehidupan masyarakat masa kini. Di kalangan pemuda Gereja, istilah transformator/ transformasi cukup popular (kan ada filmnya, Transformer…hehehe). Bahkan dari kalangan pemuda HKBP Lubuk Baja, saya mendengar suara yang menghendaki agar HKBP melakukan transformasi dengan memberi ruang yang lebih luas bagi pemuda.

Pemuda dan Gereja (6)

Gereja berada dalam konteks kehidupan masyarakat yang sedang mengalami perubahan sosial. Arus perubahan sosial tampaknya cukup kuat mempengaruhi hidup dan kehidupan kita dalam berGereja maupun dalam bermasyarakat. Ada dua fenomena perubahan sosial, secara khusus yang erat berkaitan dengan kehidupan pemuda

Pemuda dan Gereja (4)

Kekerasan dalam bentuk tawuran, perkelahian antar geng, antar lorong, disatu sisi dan kekerasan terhadap wanita di sisi yang lain turut juga mewarnai kecenderungan di tengah-tengah masyarakat. Termasuk di dalam kelompok ini adalah penjualan wanita dan anak-anak menjadi komoditi sex. Kecenderungan ini sudah dibaca oleh dewan Gereja sedunia ketika mencanangkan tahun 2001-2010 sebagai dekade anti kekerasan.

Pemuda dan Gereja (3)

Karl Barth pernah mengatakan kepada mahasiswa di Holand bahwa theology is politic. Dengan perkataan ini dia mau menekankan bahwa Gereja, dalam hal ini pemuda, mau tidak mau harus mencermati situasi politik. Gereja tidak boleh tabu terhadap politik kalau Gereja menginginkan pewartaannya menyentuh secara konkrit persoalan-persoalan kemanusiaan.

Pemuda dan Gereja (2)

Gereja adalah Gereja atau tidak sama sekali. Bagaimana mengukurnya? Salah satunya adalah apakah Gereja tetap melaksanakan fungsinya sebagai Gereja, apakah Gereja tetap hadir sebagai Gereja di tempat di mana dia berada. Sebagus apapun pelayanan didesign tetapi kalau tidak menyentuh persoalan-persoalan yang muncul di tengah-tengah masyrakat, maka itu bukanlah pelayanan yang bermutu.

Pemuda dan Gereja (1)

Ditulis oleh Pdt. PT. Sitio, S.Th.
Berbagai definisi tentang kata pemuda sangat banyak kita dapati. Baik ditinjau dari fisik maupun phisikis akan siapa yang pantas disebut pemuda serta pertanyaan apakah pemuda itu identik dengan semangat atau usia.
Princeton mendefinisikan kata pemuda (youth) dalam kamus Webstersnya sebagai “the time of life between childhood and maturity; early maturity; the state of being young or immature or inexperienced; the freshness and vitality characteristic of a young person”.