BERPEGANG TEGUH PADA PENGAKUAN IMAN

Nast : Heber 4:12-16

Bagi penulis Kitab Ibrani, pemahaman mendasar tentang apa artinya menjadi seorang Kristen adalah bagaimana orang percaya menempatkan kepercayaannya di dalam Kristus. Secara teori, jemaat mula-mula kemungkinan besar telah mendapatkan “defenisi” yang benar tentang hal tersebut namun mereka tidak memiliki pemahaman yang jelas tentang apa artinya hidup oleh iman di dalam Yesus. Untuk berbagai alasan, mereka tergoda untuk menaruh atau membagi kepercayaan mereka di tempat lain selain Yesus. Tetapi ketika mereka beralih ke orang atau hal-hal yang lain maka hidup mereka benar-benar jauh dktkari Yesus.

Penulis menunjukkan kepada pembacanya bahwa kurangnya kepercayaan kita berbanding lurus dengan kurangnya pemahaman kita tentang Yesus Kristus. Untuk menumbuhkian iman mereka, penulis berfokus pada pemberitaan tentang keindahan Pribadi, karya dan cinta kasih Yesus, kesetiaan dan anugerah Allah Tritunggal yang dinyatakan di dalam diri Yesus.

Di awal suratnya, penulis menggambarkan bahwa Allah adalah Allah yang berbicara, yang menyatakan diriNya lewat ciptaanNya. Namun pada akhirnya Allah memilih untuk tidak selalu berbicara melalui para nabiNya, tetapi berbicara dan hidup bersama dengan ciptaanNya melalui diri AnakNya; Tuhan Yesus Kristus. Dan apa yang kita pelajari di dalam Yesus, yang penulis ingin agar pembaca berhati-hati untuk mempertimbangkan, adalah bahwa Allah menyatakan bahwa Ia telah memberikan diriNya kepada manusia dengan tujuan untuk membuat kita, ciptaanNya, menjadi putra dan putriNya, anak-anak yang berkenan kepadaNya.

Pada bagian sebelumnya penulis mengeluarkan peringatan kepada para pembacanya untuk tidak menolak kasih karunia Allah seperti yang dilakukan oleh generasi Israel yang telah dilepaskan dari perbudakan di Mesir.

Sekarang penulis memberikan fundasi pemberitaannya di dalam pribadi dan karya Yesus. Yesus adalah Firman yang hidup, Imam Besar kita yang telah kembali ke hadirat BapaNya sehingga kita dapat “mendekat dan memasuki takhta kasih karunia tersebut”. Kita bisa menerima anugerah tersebut karena Allah, di dalam Kristus, telah memasuki bagian terdalam hidup kita untuk mengubah dan memulihkan kita dan membawa kita kepada Bapa. Mari kita awali sermon ini di dalam pemahaman yang demikian.

Pertama-tama, pembicaraan penulis tentang Firman Allah yang hidup. Terjemahan bahasa Indonesia oleh LAI dan kebanyakan terjemahan lainnya membuat kata-kata sifat berada sejajar atau bersama; Firman Allah hidup dan kuat dan lebih tajam. Jadi, bagian ini sering dianggap mengacu pada Alkitab. Namun dalam bahasa Yunani, hidup adalah kata pertama dalam kalimat dan memiliki penekanan yang berbeda dengan dua kata sifat lainnya; aktif dan lebih tajam. Sehingga kalimat ini menjadi “Hidup adalah firman Allah, aktif dan tajam!” dan yang kemudian dipahami dengan kalimat Allah yang hidup yang aktif dan lebih tajam dari pedang (Boi do muse taida di Bibel na marhata Batak, didok disi, “AI na marngolu do hata ni Debata…”, ndang dibahen disi namangolu, yang hidup, alai na marngolu, memiliki hidup”. Namarlapatan adong do ngolu ni Hata ni Debata I, ima dibagasan dirini Jesus Kristus).

Hal ini bisa demikian karena penulis mengacu kepada Yesus, Firman yang Hidup (bukan kepada Alkitab, atau Firman Allah (hata ni Debata). Penulis berfokus pada Allah Tritunggal, yang dikenal di dalam diri Yesus, imam besar yang Agung. Dia kembali ke pembahasannya tentang imamat Yesus di bagian berikut dengan kata-kata, “sejak saat itu kita mempunyai Imam besar …” Jadi semua ini menunjuk kepada Firman yang Hidup menjadi Yesus (Gabe daging ma Hata I, Joh. 1:14).

Dalam ayat 13, penulis menyatakan bahwa di hadapan Allah tidak ada makhluk yang tersembunyi.

Hal ini memiliki dua arti, yang pertama: jika kita tidak ingin Tuhan dapat melihat ke dalam rahasia terdalam hati kita atau kita mencoba menutupi keburukan kita yang dikamuflasekan dengan sikap-sikap baik yang dibangun di atas kemunafikan, maka hal ini akan lebih seperti peringatan. Hal yang kedua adalah bertujuan untuk mendorong dan menguatkan para pembaca agar “Memiliki dan Perduli!”. Penulis mengatakan bahwa Allah tidak memberikan kepada kita firman yang mati, tetapi Firman yang hidup dan yang selalu bekerja. Jangan khawatir, tidak ada satu tempatpun di dalam hati kamu yang Dia tidak dapat capai dengan firmanNya untuk membebaskan dan memulihkan.

Mari kita pikirkan sejenak, bagaimana jika kita mengidap penyakit kanker yang telah menyebar ke berbagai organ tubuh kita. Lalu vonis dokter mengatakan bahwa hidup kita telah berada di ujung maut. Di tengah-tengah situasi yang sangat mencekam tersebut, bukankah sesuatu yang sangat menggembirakan ketika ternyata ada peralatan kedokteran yang baru saja ditemukan yang dapat memisahkan setiap sel kanker tersebut dari setiap tempat mereka terikat? Dan alat ini mampu bekerja hingga ke sendi dan sum-sum kita. Tidak ada tempat yang tidak dimasukinya untuk membuang seL-sel kanker dari setiap sel tubuh kita ini. Demikian analoginya.

Bagian ini adalah kabar baik. Namun sayangnya, banyak orang yang beranggapan dan lebih menenkankan bahwa bagian ini adalah suatu peringatan, dengan penekanan bahwa pemahaman di sini adalah bahwa kita tidak bisa bersembunyi dari hadapan Allah- Dia akan menemukan kita walau kita berusaha bersembunyi dengan berbagai cara dan pasti akan mendapat hukuman dari Allah.

Kita perlu mencatat bahwa sebelumnya dalam surat Ibrani ini kita diberitahu bahwa tujuan Allah mengirimkan Yesus kepada kita adalah untuk membawa “banyak orang kepada kemuliaan” dan Yesus digambarkan sebagai pelopor atau pemimpin keselamatan kita (2:10). Yesus, yang menguduskan adalah satu dengan kita yang sedang dikuduskan (2:11). Ayat-ayat ini dapat kita pahami dengan mencoba mengertia apa yang penulis pikirkan ketika ia menulis dan berbicara dalam ayat ini tentang karya Firman Allah yang Hidup. Dalam karya dan tindakan menguduskanNya, Dia mampu untuk masuk ke dalam semua pikiran kita, memori, kekuatiran, kebencian, dosa dan perbuatan-perbuatan kotor kita dan menembuhkan kita dari semuanya. Kita tidak sekadar dinyatakan baru, tapi benar-benar merupakan suatu ciptaan baru. Betapa indahnya kenyataan bahwa kita tidak bisa menyembunyikan apa pun dari Allah. Jika kita mampu melakukannya, bagaimana mungkin kita benar-benar masuk dan hidup di dalam peristirahatanNya?

Berikutnya Penulis menyebut Yesus Imam Besar Agung “yang telah melintasi semua langit”. Apa yang ingin Penulis tekankan? Hal ini terhubung dengan citra Yesus sebagai Imam Besar yang Agung.

Imam adalah orang yang dapat masuk ruang Maha Kudus. Ini adalah tempat paling sakral di tabernakel (bait Allah) dan dipahami sebagai ruang tahta Allah. Di sinilah Allah tinggal bersemayam dan tinggal jika sedang bersekutu dengan umatNya, namun di tempat yang terpisah. Orang Israel selalu diingatkan tentang perbedaan dan kekudusan Allah yang mereka. Sebuah tirai tergantung antara ruang Maha Kudus dan ruang lainnya dari Kemah Suci. Hanya Imam Besar yang bisa masuk ruang Maha Kudus dan ini hanya bisa dilakukannya sekali setahun, yakni pada Hari Pendamaian atau Hari Penebusan dosa. Dia harus melalui persiapan khusus sebelum ia berdiri di hadirat Allah atas nama seluruh Israel.

Yesus, Imam Besar yang Agung, yang menjadi seperti kita dan menderita kematian bagi kita dan dosa-dosa kita, bukan hanya melewati tirai di tabernakel, tetapi Ia melewati langit untuk tiba di hadirat Allah. Tidak hanya sebagai “Anak Allah”, tetapi sebagai Yesus, saudara kita yang sesungguhnya dan yang sejati.

Dalam gambaran tentang Yesus, penulis ternyata mengeksplore kemampuan Imam ini dalam hal mampu bersimpati dengan kelemahan kita. Pribadi yang satu ini, yang telah melintasi langit, bukanlah orang yang hanya berdiri di atas kita, memandang dan membantu dari kejauhan, yang tidak memiliki pengetahuan nyata dari hidup yang kita alami. Tidak, Dia mampu bersimpati dengan kelemahan kita, karena “dalam segala hal Dia telah dicobai seperti kita.

Dalam pemakaian sehari-hari, kata “simpati” ini dipahami dalam arti “mengasihani” atau “turut merasakan kesedihan”. Tapi kata Yunani jauh lebih kuat dari ide ini. Secara harfiah kata Sympatheia berarti “merasakan penderitaan yang sama dengan atau bersama”. Yesus tahu kelemahan kita dan Ia menderita bersama kita; mengambil penderitaan kita dan membuatnya menjadi penderitaanNya sendiri untuk menyembuhkan kita. Dia yang Maha Kudus bukannya menjauhkan diriNya dari dosa dan kehancuran kita, Ia malah datang kepada kita dan menanggung semua dosa dan kelemahan kita.

Apa yang ingin disampaikan oleh penulis kepada pembaca? Pertama, ia mendorong orang percaya untuk “terus berpegang teguh kepada pengakuan”. Pengakuan berarti “untuk menyatakan sikap” dan juga berada dalam perjanjian dengan seseorang atau sesuatu. Para pembaca mengaku bahwa Yesus memang Anak Allah dan Imam Besar yang Agung, tetapi mereka tergoda. Penulis ingin mereka menyadari bahwa mereka tidak lagi berpegang teguh pada pengakuan mereka dan agar mereka segera kembali kepada pengakuan yang benar.

Yang kedua adalah, “Marilah kita dengan percaya diri mendekat ke takhta kasih karunia, supaya kita menerima rahmat dan menemukan kasih karunia untuk membantu pada waktunya.” Apa yang harus kita lakukan dengan pemahaman kita tentang Firman Allah yang Hidup yang adalah Imam Besar kita? Kita harus mendekat. Karena Allah di dalam Kristus telah begitu sangat dekat dengan kita maka sekarang kita dapat mendekat kepadaNya, dengan iman. Tabut dalam ruang maha suci dianggap takhta Allah. Jadi dengan Yesus sebagai Imam Besar kita, kita sendiri sekarang dapat “pergi ke balik tirai” dan berada dalam hadirat Allah. Dan kita tidak mendekati dalam ketakutan melainkan dengan kepercayaan diri. Dengan kata lain kita masuk seolah-olah kita adalah milik tahkta tersebut, karena Yesus Imam Besar itu.

 

Pdt.Tumpal Petrus Sitio, S.Th
Pendeta HKBP Kebon Jeruk

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *