REFLEKSI RASA MALU DAN RASA BERSALAH

Togap Balduin Silalahi, SH.*)

index

Kata Ibrani untuk menggambarkan rasa malu dipakai kata “bosheth”. Keadaan “bosheth” ini digambarkan dalam Kejadian 3 : 8 – 10. Ketika Adam dan Hawa menyadari telah berbuat salah (melanggar perintah Allah) mereka menjadi malu satu sama lain dan malu serta takut bertemu Allah.

Dari keadaan merasa malu ini, mereka kemudian saling melemparkan tanggung jawab. Tidak ada rasa merasa bersalah. Itulah karakter dasar manusia. Bila berbuat salah, hanya terbatas menjadi malu (Itupun bila mengaku telah berbuat salah).

Dalam ilmu psikologi, Freud mengatakan demikian : “….sepanjang pasien menyakini bahwa rasa bersalah adalah ketololan, maka ia tidak akan pernah merasa bersalah. Ia hanya akan merasa “sakit”. (Freud, 1923).

Hakikinya, sifat dan perilaku manusia adalah ibarat bandul, selalu berayun-ayun antara kutub kebaikan dan kutub keburukan.

Perbedaannya tatkala, sama-sama berbuat keburukan, sensasi hati dua manusia bisa berlainan. Ada yang diterjang perasaan malu, ada pula yang ditikam perasaan bersalah. Rasa malu dan rasa bersalah beda-beda tipis.

Orang yang didera rasa malu lebih hirau pada dirinya sendiri. Jadi wajar jika reaksinya cenderung defensif. Alih-alih mengoreksi kesalahannya serta mengatasi akibatnya terhadap orang lain, orang yang merasa malu lebih terdorong untuk mencari jalan guna menutup-nutupi kekeliruannya. Berbeda dengan perasaan bersalah; ini menjadi pijakan bagi individu untuk menemukan penawar atas kepahitan yang telah diakibatkannya terhadap pihak lain. Orang malu, kendati dalam hatinya mengaku bersalah, malah bisa marah-marah.

Dia tak terima dituding. Itulah rasa ‘sakit’ yang Freud maksud sebagaimana kutipan di awal tulisan ini. Artinya, orang tersebut menolak memikul tanggung jawab atas kelakuan tak semenggahnya. Kalau bisa, ia ujung-ujungnya malah bisa mendesak pihak yang disakiti untuk meminta maaf. Sementara orang bersalah, walau di dalam hatinya juga ada endapan perasaan malu, lebih jujur untuk mengakui kekeliruannya. Ia tanggung risiko atas kealpaannya itu. Ia, hilirnya, meminta maaf kepada pihak yang telah dirugikan.

Baik perasaan malu maupun perasaan bersalah, keduanya dapat dimanfaatkan untuk keperluan pembangunan karakter. Perasaan malu, ketika dijadikan sebagai target pengembangan diri, dibangun lewat cara penghukuman.

Penindakan atau pendekatan represif lebih kental di dalamnya. Mempertajam rasa malu butuh pendekatan lebih instan daripada mengasah rasa bersalah. Itu karena rasa malu lebih dekat dengan kodrat berpikir manusia saat menyikapi dunianya, yakni pada saat berada dalam situasi yang positif, manusia akan cenderung mengklaim dirinya sebagai penyebab situasi tersebut. Sebaliknya, ketika masuk dalam keadaan yang negatif, ia akan menuding pihak lain sebagai penyebab keadaan tersebut. Aku harus selalu dibenarkan, dan kalian harus senantiasa disalahkan.

Mengapa rasa malu lebih kuat menempel dalam jiwa manusia, boleh jadi karena perasaan itu sudah lebih dahulu muncul, yakni saat individu berusia sekitar lima belas bulan. Perasaan bersalah menyusul belakangan, yaitu tatkala individu menginjak usia tiga tahunan.

Memberantasnya susah luar biasa, karena sudah menjadi sifat bawaan bahwa manusia suka dielu-elukan dan benci menjadi objek kecaman. Boleh jadi itulah penjelasan mengapa penjahat semacam koruptur menutup wajah mereka saat digelandang ke KPK, namun kemudian tersenyum lebar setelah majelis hakim mengetuk palu tanda akhir persidangan. Vonis bersalah yang hakim jatuhkan tetap tidak mampu menstimulasi terbitnya perasaan bersalah. Dewi Justisia hanya mengaktifkan perasaan malu para cecunguk, sehingga ketika mereka sudah terbiasa menjadi sorotan publik, rasa malupun pupus.

Ulasan tentang perbedaan antara rasa malu dan rasa bersalah menjadi relevan untuk menyoroti pertikaian yang terjadi dalam Partai Golkar, antara kubu Agung Laksono dengan kubu Aburizal Bakri; atau antara Koalisi Merah Putih dengan Koalisi Indonesia Hebat; atau antara Institusi KPK dengan Institusi Polri (in casu antara person Bambang Widjojanto dan Abraham Samad dengan Komjen Budi Gunawan). Siapa yang tergerak oleh perasaan malu dan siapa pula yang terlecut oleh perasaan bersalah, hanya mereka berdua dan –tentunya- Allah yang tahu.

Menarik dikaji, mengapa keadaan berbuat salah, timbul rasa malu bila diketahui orang lain, dan reaksi timbulnya rasa malu tersebut lalu bersikap reaktif, tidak mengakui rasa bersalahnya, acap terjadi dalam “budaya Timur” dan jarang terjadi dalam budaya Barat?

Dari telaah filsafati, Budaya Barat menekankan analisis mengabstraksikan pengetahuan secara simbolis. Bahkan sekarang muncul begitu banyak pengetahuan-pengetahuan spesialis, yang membuat orang semakin terkotak dalam spesialisasinya sendiri.

Sebaliknya budaya Timur menekankan pengetahuan intuitif yang menyeluruh dan melibatkan unsur-unsur emosi. Bagi orang Timur yang nyata tidak harus selalu bisa dijelaskan secara rasional. Mereka mengakui bahwa ada hal-hal yang tidak dapat dijelaskan akal budi seperti misteri dan irasionalitas. Maka pusat kepribadian manusia tidak terletak pada inteleknya, melainkan pada hatinya.

Seorang misionaris Metodist yang terkenal, E. Stanley Jones, pernah berkata mengenai perbedaan Timur dan Barat. Di Timur orang bertanya-tanya allah mana yang harus dipercaya, namun di Barat orang bertanya-tanya mengapa harus ada Allah. Untuk orang Barat agama harus sistematis rasional dan akibatnya apologetika berkembang, tapi di Timur orang beragama untuk menghayati hubungannya dengan Allah.

Budaya Barat lebih menghargai hak-hak individu. Suasana bebas dijamin supaya orang bisa menikmati hak-haknya. Di Timur martabat manusia juga diakui, namun ikatan hubungan dengan orang lain dan kelompok lebih ditekankan. Kita tidak pernah dibiarkan benar-benar mengurus diri kita sendiri. Kalaupun orang tak terang-terangan mencampuri urusan kita, minimal kita bila menjadi bahan omongan orang lain. Di Barat orang tidak suka usil dengan urusan orang lain, sepanjang orang lain itu tidak menganggu kebebasannya.

Tapi di Timur sudah menikah pun orang tua masih turut campur, karena pernikahan di Timur lebih dari melibatkan dua orang yakni dua keluarga. Itu sebabnya pernikahan yang tidak direstui orang tua, bagi orang Timur tidak baik. Selain itu, orang tidak dapat dengan bebas mengungkapkan isi hatinya, karena banyak pembatasan kultural. Kreativitas belum tentu diharga, terutama kalau itu lain dari yang biasanya. Maka orang Timur lebih mudah malu, pendiam, tidak mau menonjolkan diri dan pasrah.

Bisa dikatakan kegotongroyongan dalam lingkungan sosial yang karib membedakan sekali budaya Timur dari budaya Barat. Di dunia Barat tidak ada lingkungan karib. Manusia sejati adalah manusia yang bisa mencapai sesuatu bersandarkan kemampuannya sendiri. Ideal hidup seperti ini menjadi sumber sikap gigih manusia Barat terhadap hidup seperti yang terlihat dalam mengeksplorasi alam dan mengorbankan diri demi kemanusiaan. Namun tatkala masalah dan stres datang, mereka mudah merasa kesepian. Di Timur orang hidup dalam lingkungan karib, sehingga ia lebih tergantung pada ‘apa kata orang’ dalam komunitas.

Dalam kehidupan Kristiani, tak bisa dipungkiri acap terjadi keadaan seperti tersebut diatas, seperti yang diwartakan Yeremia 6 : 13-15. Semua berlomba-lomba nampak seperti orang saleh sampai kemudian diketahui telah berbuat hal-hal yang tidak senonoh. Ketika keadaan itu terjadi, untuk menutupi rasa malunya, lalu bersikap protektif dan cenderung mencari apologi dengan menyalahkan pihak lain.

Sampai batas ini, agaknya kita perlu instrospeksi diri, bahwa seandainya kita berbuat salah, sekalipun tidak ada orang yang tahu, satu hal yang pasti diketahui oleh Sang Maha Tahu, itulah Tuhan Yesus sendiri.

Bila demikian, mengapa kita tidak segera meretas sadar, mengakui kesalahan dan memohon ampun kepada Tuhan, seperti yang dilakukan Raja Daud dalam Mazmur 51 : 3 : “Kasihanilah aku, ya Allah, menurut kasih setiaMu, hapuskanlah pelanggaranku menurut rahmatMu yang besar!”.

*) Penulis adalah pensiunan Jaksa Utama Gol. IVE Kejagung RI.
Mantan Inspektur Polisi Gol. IIIB Polda Metro, Mantan Asisten Gol. IIIA
FH & IPK UI. Penatua GMIT (1988) di Larantuka, Flores Timur dan
Anggota Jemaat HKBP Kebayoran lama, Jaksel.

Sumber : Immanuel HKBP. No. 7 | Juli 2015 | Tahun Ke-125
Hal : 75-76

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *