LIDAH UNTUK MEMUJI TUHAN, BUKAN UNTUK MENGUTUK

Jakobus 3: 1-12

menaklukan-lidah-1-638Dalam pasal 1-2 kita melihat bagaimana Yakobus menjelaskan dua karakter Kristen yang dewasa: bersabar dalam kesulitan (Yak. 1) dan melakukan kebenaran (Yak. 2). Dalam bab 3 dia berbagi karakteristik ketiga orang percaya dewasa: Penguasaan atas lidah.

Kemampuan berbicara adalah salah satu kekuatan terbesar yang Tuhan berikan kepada kita. Dengan lidah, kita bisa memuji Tuhan, mengajarkan Firman Allah dan memimpin orang-orang berdosa kepada Yesus. Tapi dengan lidah yang sama kita bisa mengatakan kebohongan yang dapat merusak reputasi atau menghancurkan hati bahkan hidup seseorang. Kita ingat kutipan syair lagu lama: Memang lidah tak bertulang, tak terbatas kata-katanya. Tinggi gunung s’ribu janji, lain di bibir lain di hati…dst.

Dalam rangka untuk menekankan kepada orang percaya pentingnya lidah dan kata-kata dikendalikan dan untuk memberikan kesadaran betapa besarnya konsekuensi yang diakibatkan oleh lidah, Yakobus memberikan enam gambaran tentang lidah, yakni: kekang, kemudi, api, binatang beracun, mata air, dan pohon ara. Kita dapat menempatkan enam gambaran tersebut menjadi tiga klasifikasi utama yang mengungkapkan tiga kekuatan lidah.

  1. Kekuatan untuk Memerintah/ Mengatur: (Ay. 1-4)

Dalam konteks ini ada beberapa orang di antara kumpulan tersebut yang berebut ingin mengajar dan berusaha menjadi pemimpin. Yakobus harus memperingatkan mereka: “Janganlah banyak orang di antara kamu mau menjadi guru…” (ay. 1). Karena mereka yang mengajarkan Firman akan dihakimi menurut ukuran yang lebih berat. Seorang guru harus menggunakan lidah untuk mengajar dan berbagi tentang kebenaran Allah. Adalah suatu hal yang sangat mengerikan ketika seorang guru mengajarkan Firman Tuhan namun ia tidak dapat menjaga lidahnya atau dengan kata lain melakukan dosa dengan lidah dan kata-katanya. Selanjutnya, seorang guru harus mempraktekkan apa yang diajarkan; jika tidak, pengajarannya adalah sebuah kemunafikan. Setiap orang percaya harus mengakui bahwa “kita semua bersalah dalam banyak hal” (ay. 2). Dan dosa yang diakibatkan oleh lidah tampaknya ada pada urutan teratas. Pengendalian terhadap lidah merupakan suatu tanda kedewasaan rohani. Kata-kata biasanya mengakibatkan perbuatan atau kata-kata biasanya mendahului perbuatan. Selama Perang Dunia II ada poster di Kapal Perang Sekutu yang bertuliskan ‘panjang lidah menenggelamkan kapal dan juga menghancurkan kehidupan’.

Tali kekang yang kecil memungkinkan penunggang kuda mengendalikan kuda, dan kemudi kecil memungkinkan nahkoda mengarahkan kapal.

Lidah adalah anggota kecil dalam tubuh namun lidah ibarat tali kekang yang harus mengatasi sifat liar kuda, dan kemudi yang harus melawan dorongan angin dan arus deras yang akan menghalau laju kapal tersebut. Lidah manusia juga harus mampu melawan segala sesuatu yang salah, bukan justru tunduk kepada ketidakbenaran.

Penulis Amsal telah memperingatkan manusia dengan kalimat “Hidup dan mati dikuasai lidah, siapa yang suka menggemakannya akan memakan buahnya” (Ams. 18:21). Begitu pentingnya penguasaan dan pengendalian kata-kata lewat lidah ini sehingga tidak heran kalau Daudpun berdoa, “Awasilah mulutku, ya Tuhan, berjagalah pada pintu bibirku” (Mzm 141:3). Kekang dan kemudi memiliki kekuatan untuk mengarahkan, yang berarti mereka mempengaruhi kehidupan orang lain. Mulutmu adalah harimaumu, kata pepatah kita.

  1. Kekuatan untuk Menghancurkan: Api dan hewan (Ay. 5-8)

Bila Anda melihat dokter pertama ia memeriksa adalah lidah. Dia bisa mendiagnosa penyakit hanya dengan melihat lidah.

Pada malam tanggal 2 September, 1666 (tepatnya 349 tahun yang lalu) api kecil memercik di sebuah toko roti di Pudding Lane, London, yang diawali oleh kecerobohan seorang pembantu. Di jalan-jalan London, di mana bangunan berdiri rapat tanpa batas, api kecil itu segera menjadi neraka. Disertai tiupan angin timur, api menyebar dengan sangat menakutkan, membakar atap-atap rumah yang umumnya terbuat dari sejenis ter. Catatan peristiwa ini berasal dari buku harian Samuel Pepys, seorang Sekretaris Angkatan Laut, yang menyaksikan kehancuran tersebut dari Sungai Thames yang dekat dengan lokasi kejadian.

Setelah empat hari, akhirnya api padam dengan kondisi 80% kota tersebut hancur, termasuk 13.000 rumah, 89 gereja dan 52 pabrik. Gereja Katedral St. Paulus tinggal puing-puing. Ini adalah bencana terbesar yang pernah terjadi. Sungguh menakutkan…namun kata-kata dari lidah manusia bisa mengakibatkan kebakaran yang lebih menakutkan (bnd. Amsal 26:20-28). Itulah sebabnya pemaZmur sendiri di dalam segala kesadarannya memohon bantuan Allah untuk menjaga lidah dan mulutnya.

Salomo menulis, “Orang yang berpengetahuan menahan perkataannya, orang yang berpengertian berkepala dingin. Juga orang bodoh akan disangka bijak kalau ia berdiam diri dan disangka berpengertian kalau ia mengatupkan bibirnya (Amsal. 17:27-28). Api dapat membakar dan menyakiti, demikian juga kata-kata kita dapat membakar dan menyakiti.

Lidah tidak hanya seperti api, tetapi juga seperti binatang berbahaya. Beberapa hewan beracun, dan beberapa lidah menyebarkan racun. Hal yang membahayakan tentang racun adalah bahwa ia bekerja diam-diam dan perlahan-lahan, dan kemudian membunuh. Berapa kali kita memperoleh pengalaman berbicara dengan orang yang memiliki lidah beracun dan mencoba menyuntikkan bisanya ke dalam percakapan dan kita tidak menyadarinya pada awalnya? Yakobus mengingatkan kita bahwa hewan dapat dijinakkan; dan, dalam hal ini, api bisa dijinakkan. Bila kita menjinakkan binatang, kita mendapatkan pekerja. Bila kita mengendalikan api, kita menghasilkan energi. Lidah tidak dapat dijinakkan oleh manusia, tetapi bisa dijinakkan oleh Allah. Jika hati kita penuh dengan kebencian, Iblis akan menyalakan api. Jika hati kita dipenuhi dengan cinta kasih, Allah akan menyalakan api.

  1. Kekuatan untuk Menyenangkan: Mata Air dan Pepohonan (Ay. 9-12)

Di negara-negara panas seperti Palestina, mata air alami memancarkan air dingin yang menyegarkan yang diperlukan untuk hidup. Air memberi hidup, dan kata-kata kita bisa memberikan kehidupan juga. “Perkataan mulut orang adalah seperti air yang dalam, tetapi sumber hikmat adalah seperti batang air yang mengalir” (Amsal 18: 4). Lidah juga seumpama pohon. Di Palestina dan dunia Arab umumnya, pohon zaitun sangat penting bagi perekonomian: pohon ini membantu menahan tanah agar tidak longsor; memberikan keindahan dan keteduhan dan menghasilkan buah. Demikianlah kata-kata orang berhikmat dapat membantu dan menenteramkan orang lain. “Bibir orang benar menggembalakan banyak orang” (Amsal. 10:21). Dalam Yohanes 6:63, Yesus berkata, ” Perkataan-perkataan yang Kukatakan kepadamu adalah roh dan hidup”.

Kita ulang melihat tiga kekuatan ini; Kekuatan untuk Mengatur, Kekuatan untuk menghancurkan dan Kekuatan untuk Menyenangkan.

Setiap orang memiliki masalah dengan penguasaan lidah. Beberapa orang berjuang lebih dari yang lain, tetapi masing-masing dari kita perlu menemukan cara untuk menjinakkan kekuatan tersebut. Mari kita lihat lima langkah praktis untuk dipertimbangkan dalam proses ini:

  1. Cepat untuk mendengar dan lambat untuk berbicara: “Hai saudara-saudara yang kukasihi, ingatlah hal ini: setiap orang hendaklah cepat untuk mendengar, tetapi lambat untuk berkata-kata, dan juga lambat untuk marah” (Yak. 1:19).

“Lebih baik diam dan dianggap bodoh, daripada membuka mulut dan menunjukkan kebodohan” (Abraham Lincoln).

  1. Lebih sering mengekang lidah: “Jikalau ada seorang menganggap dirinya beribadah, tetapi tidak mengekang lidahnya, ia menipu dirinya sendiri, maka sia-sialah ibadahnya (Yak. 1:26).
  2. Menolak untuk menghancurkan atau membunuh karakter orang lain

” Saudara-saudaraku, janganlah kamu saling memfitnah… , janganlah kamu bersungut-sungut dan saling mempersalahkan…” (Yak. 4:11, 5: 9)

  1. Hanya mengucapkan apa yang benar

” Tetapi yang terutama, saudara-saudara, janganlah kamu bersumpah demi sorga maupun demi bumi atau demi sesuatu yang lain. Jika ya, hendaklah kamu katakan ya, jika tidak hendaklah kamu katakan tidak, supaya kamu jangan kena hukuman ” (Yak. 5:12).

  1. Biarkan Allah yang memimpin kita untuk berbicara, bukan keinginan daging atau keinginan iblis

“Tetapi tidak seorang pun yang berkuasa menjinakkan lidah; ia adalah sesuatu yang buas, yang tak terkuasai, dan penuh racun yang mematikan” (Yak.3:8). Kita tidak bisa menjinakkan lidah kita tanpa bantuan Allah.

 Sebelum kita berbicara sesuatu yang mungkin berbahaya ada baiknya kita bertanya pada diri sendiri lima pertanyaan berikut ini:

 Apakah itu benar?

Apakah yang saya akan bicarakan merupakan suatu kebenaran? Jika tidak, berhenti. Jika ya, lanjutkan ke pertanyaan kedua.

Apakah itu perlu?

Yesus berkata kita akan dihakimi untuk setiap kata yang ceroboh. Ada begitu banyak hal yang kita katakan yang tidak perlu.

Ketiga bertanya, Apakah itu menguntungkan?

Apakah hal yang akan saya katakan akan membangun seseorang atau justru menjatuhkan mereka?

Keempat, Apakah saya layak membagi cerita atau kabar ini?

Dan terakhir, mari bertanya pada diri sendiri, Apakah motivasi saya murni?

 Tuhan bisa menggunakan lidah kita untuk membimbing orang lain dalam kehidupannya dan untuk memberi mereka kekuatan dalam cobaan hidup. Mari kita biarkan Allah yang berkuasa atas lidah kita setiap hari dan memintaNya untuk menggunakan kita untuk menjadi berkat bagi orang lain.

Pdt. P.T. Sitio, S.Th.
Sermon Parhalado HKBP Kebon Jeruk
Kamis, 3 September 2015
Evangelium Minggu XV D. Trinitatis

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *