DUNIA YANG KECEWA OLEH AGAMA

Pdt. Luhut P. Hutajulu. D. MinREFLEKSI: DUNIA YANG KECEWA OLEH AGAMA
Oleh : Pdt. Luhut P. Hutajulu. D. Min
(Immanuel No. 6-7/Juni-Juli 2013)

YESUS MENDIDIK MURID-MURIDNYA MELALUI KEKECEWAAN MEREKA (YOHANES 21 : 1 – 7)

Merasa kecewa terhadap keadaan sekarang? Bagus! Itu pertanda bahwa kita masih mempunyai dambaan. Rasa kecewa timbul karena kita mempunyai cita-cita. Apakah yang terjadi kalau seseorang dikecewakan oleh pengharapan-pengharapan religiusnya, dikecewakan oleh iman dan agamanya? Sama seperti seorang pemuda yang dikecewakan oleh kekasihnya. Ia bukan saja dapat berhentik mencintai, tetapi juga sebaliknya. Ia dapat berbalik menjadi benci terhadap apa yang mula-mula ia sayangi. Sang pemuda tadi terhadap kekasihnya. Seseorang tadi kepada agamanya. Yesus mendidik murid-muridNya melalui rasa kekecewaan mreka menuju kepada kebulatan tekad menjadi saksi yang tangguh dan handal.

Tidak terlalu salah, kalau dikatakan bahwa murid-murid Yesus juga pernah menjadi orang yang kecewa. Orang-orang yang kecewa di dalam kehidupan dan pengharapan religius mereka.

Dengan tanpa ragu, mereka pernah meninggalkan jala dan kehidupan mereka sehari-hari sebagai nelayan, untuk mengikuti Guru mereka. Semua itu mereka lakukan dengan rela karena menyandang suatu pengharapan yang besar. Bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian.

Namun, ternyata harapan mereka itu akhirnya sia-sia. Sia-sia pula semua pengorbanan dan kesukaran yang telah rela mereka alami. Sang Guru yang menjadi tumpuan harapan mereka itu makin lama makin hebat dan termasyhur, tetapi sebaliknya malah semakin dibenci dan tidak popular. Bahkan, akhirnya Ia dihukum mati dengan cara yang seberat-beratnya dan sehiba-hibanya. Tanpa perlawanan. Tiga tahun yang sia-sia. Lalu, tamatlah pengharapan dan cita-cita mereka. Amat kecewa. Akibatnya sudah dapat kita duga. Mereka berhenti berharap. Bukan itu saja, mereka berbalik seratus delapan puluh derajat dari pengharapan mereka semula. Kembali menjadi nelayan! Kembali menebar jala! Kembali kepada hidup mereka semula! Keadaan sekarang menjadi sama seperti keadaan sebelum Yesus memanggil mereka, tetapi ditambah sebongkah kekecewaan. Kembali kehidupan mereka yang sehari-hari! Tanpa pengharapan-pengharapan religius. Tanpa bayangan kursi Kerajaan Sorga. Kembali kepada nilai-nilai kehidupan duniawi. Ikan telah mengganti iman. Bagaimana dengan pengalaman mereka yang tiga tahun itu ? Mereka tentu menganggapnya sebagai kebodohan semata-mata, karena mereka begitu lekas terbujuk oleh impian-impian kosong. Tiga tahun mereka sia-siakan untuk mengejar khayalan hampa. Atau, mereka dapat menghibur diri mereka : untung saja hanya tiga tahun! Mereka segera tahu bahwa semuanya tidak berguna, dan mereka cepat-cepat dapat menukar haluan. Sekarang hanya satu kemungkinan yang terbuka: memungut kembali puing-puing hidup mereka yang telah hancur itu satu persatu, berusaha membangun kembali diatasnya.

RefleksiGenerasi dunia abad ke-21 ini dapat dikatakan juga sebagai generasi yang kecewa. Generasi yang dikecewakan oleh agama mereka, oleh pengharapan-pengharapan religius mereka. Agama dirasakan sebagai tidak membawa kegunaan apa-apa, tidak membawa berkat dan manfaat. Pengalaman keagamaan mereka hanya menunjukkan pada kesia-siaan dan kekecewaan. Kata ”Gereja” dan ”Kristen” bagi mereka sudah disejajarkan dengan kekolotan dan keterbelakangan. Gereja dianggap sebagai kekuatan reaksioner, yang berdiri sekedar untuk mempertahankan tata hidup dan tata pikir yang lama, dunia yang kuno. Siapakah orangnya yang mau hidup dalam keterbelakangan? Oleh karena itu, dunia modern sekarang ini dikenal juga dengan sebutan dunia yang sekuler, dunia yang duniawi. Dunia yang sudah meninggalkan nilai-nilai dan pengharapan-pengharapan. Menghargai ”ikan” daripada ”iman”. Agama mereka anggap sebagai penghambat kemajuan manusia, melemahkan semangat manusia untuk berusaha sebanyak-banyaknya dan sebaik-baiknya. Bukankah agama yang selalu berteriak tentang keterbatasan manusia, kelemahan manusia, kekerdilan manusia? Agama mereka anggap sebagai pengikat kebebasan martabat manusia, membuat manusia terikat dan terpenjara dalam norma-norma dan takhayul-takhayul moral yang usang, Bukankah agama pula yang paling dulu berteriak, bahwa ini dosa, dan itu haram; membuat manusia sesak tak dapat bergerak? Tetapi, agama lupa bahwa apa yang 20 tahun lalu ia katakan dosa, sekarang ia katakan halal. Apa yang sekarang ia katakan haram, 20 tahun lagi ia katakan kehendak Tuhan. Lalu siapa orangnya yang mau selalu 20 tahun terbelakang ?

Itulah dunia modern kita ini! Kembali ke danau! Kembali menebar jala! Tanpa harapan agamis lagi! Tetapi, mengganti ”iman” dengan ”ikan” ternyata juga tidak menyelesaikan semua persoalan. Tidak mengobati semua kekecewaan. ”Mereka berangkat lalu naik ke perahu, tetapi malam itu mereka tidak menangkap apa-apa”. Kembali menjadi nelayan ternyata tidak membuat para murid Tuhan terlepas dari kesulitan, kesukaran dan kekecewaan yang lain. Bukankah begitu juga yang dialami oleh dunia modern dan maju sekarang ini? Bukan dunia yang tanpa persoalan, tapi dunia dengan persoalan-persoalan baru. Manusia dapat menciptakan alat-alat yang hebat, tetapi kini muncul bahaya bahwa alat-alat itu telah mempererat manusia. Penyakit lama berhasil dicegah, tetapi penyakit-penyakit baru muncul sebagai wabah. Angka-angka kematian memang menurun, tetapi bertambahnya kelahiran menciptakan persoalan sulit dan rumit. Banyaknya mobil dan pabrik adalah pertanda dan prasyarat kemajuan, tetapi orang pun ribut tentang bahaya pengotoran udara, dan sebagainya, dan seterusnya. Karena itu, pertanyaan yang aktual sekarang ini adalah : apakah yang dapat dikatakan oleh Injil Yesus Kristus? Apakah yang dapat dikatakan oleh ’agama’ kepada dunia yang meremehkan ’agama’?

Yesus telah memberi contoh. Ia berdiri di tepi pantai, tanpa murid itu tahu bahwa ialah Yesus. Ia menegur murid-muridNya itu dengan pertanyaan : hai, anak-anak, adakah kamu mempunyai lauk pauk? Pertanyaan yang duniawi, yang sehari-hari, yang mata sekuler. Kemudian Ia berkata : Tebarkanlah jalamu di sebelah kanan perahu! Juga sebuah perintah yang sangat duniawi, yang sangat konkret, yang sangat sekuler. Ia tidak berkotbah. Ia tidak memakai kata-kata yang religius, tetapi kata-kata yang sangat biasa. Tentang hal-hal yang sangat praktis dan sederhana. Tebarkanlah jalamu di sebelah kanan perahu!

Tidaklah seperti itu pula rasanya yang harus dilakukan Gereja di tengah dunia dewasa ini? Bukan berusaha memperkenalkan diri sebagai Gereja melalui sikap, bahasa dan tradisinya yang khas, tetapi memperkenalkan diri melalui sikap, bahasa dan tindakan yang praktis yang sehari-hari, yang mengena pada pusat keprihatinan dunia sekitar kita: tebarkanlah jalamu di sebelah kanan perahu!

Saran-saran, sehingga perahu dunia ini sarat dengan ikan. Dan melalui itu, mereka kembali mengenali bahwa yang berdiri itulah Tuhan! Ketika dunia membutuhkan ikan, Yesus memberikan mereka ikan. Ketika mereka mendapat ikan, barulah mereka kembali kepada iman. Sesungguhnyalah mereka kembali kepada pengharapan mereka semula. Bahkan pengharapan yang lebih besar. Melalui pendidikan Yesus selama 40 hari setelah kebangkitan-Nya membuat mereka yang pernah kecewa itu dilantik menjadi duta-duta Kristus, menjadi tiang-tiang Gereja sampai sekarang.

Bukanlah itu yang kurang pada Gereja-gereja kita dewasa ini? Kita ingin didengar, tetapi amat sedikit mau mendengar. Kita ingin dimengerti, tapi amat malas untuk mengerti. Untuk mempertahankan diri, kita sering berusaha menutup diri rapat-rapat, supaya ”angin busuk” tidak meniup masuk. Tetapi, apa yang dilakukan Yesus adalah sebaliknya, yaitu bagaimana Gereja membuka pintunya lebar-lebar, supaya angin segar kembali bertiup. Bagaimana Gereja dapat hidup di tengah dunia ini, memenangkan dunia ini dan menjadi bagi dunia ini. Agama bukanlah simbolisasinya, melainkan esensinya. Esensi itu adalah dambaan untuk menciptakan damai dengan Tuhan sambil menciptakan hubungan damai dengan lingkungan sekitar. Itulah iman secara dasariah. Memang gereja bisa mengecewakan, sebab gereja adalah komunitas orang yang lemah, namun disitu kita justru merasakan kemurahan hati yang kuat. Gereja adalah komunitas orang yang imannya kecil, namun di situ kita terhisab pada Kristus yang anugerahNya besar.***

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *