PA Naposobulung

Bahan Pendalaman Alkitab

Naposobulung HKBP Lubuk Baja
II Timotius 2 : 14 – 16

14. Ingatkanlah dan pesankanlah semuanya itu dengan sungguh-sungguh kepada mereka di hadapan Allah, agar jangan mereka bersilat kata, karena hal itu sama sekali tidak berguna, malah mengacaukan orang yang mendengarnya.

15.Usahakanlah supaya engkau layak di hadapan Allah sebagai seorang pekerja yang tidak usah malu, yang berterus terang memberitakan perkataan kebenaran itu.

16 Tetapi hindarilah omongan yang kosong dan yang tak suci yang hanya menambah kefasikan.

Dalam sebuah notulen, Waktu Perayaan Puncak Jubileum 125 tahun HKBP, Oktober 1986, di Seminarium Sipoholon saya membaca ilustrasi khotbah demikian:
Sesuai perintah raja, dalam rangka menjamu tamunya, koki kerajaan menyiapkan hidangan makan, katanya: “Tuan, pesanan tuan telah saya kerjakan, yaitu memasak masakan paling enak, silahkan makan!” Setelah selesai makan, raja memanggil kokinya, lalu berkata: “Memang sup lidah yang kau masak itu enak sekali. Esok, masakkan dulu untuk kami masakan yang paling tidak enak!” Esoknya, selesai makan raja tersebut heran lalu memanggil sang koki, katanya: “Apakah engkau lupa pesananku kemarin? Aku minta untuk memasak yang paling tidak enak. Mengapa engkau membuat masakan lidah lagi seperti yang kemarin?” Dengan tenang koki menjawab: “Saya tidak keliru tuan, sebab barang yang paling enak dan yang paling tidak enak; barang yang paling baik dan barang paling tidak baik itulah LIDAH.

Di zaman kita ini pun, sebagai orang kristen, kita perlu mendengar kembali tentang lidah, mulut, sebab begitu banyak ungkapan-ungakapn yang tidak berguna, menyakitkan keluar dari banyak mulut manusia.

Lidah Menentukan:
Mati dan hidup adalah dalam kuasa lidah, dan barang siapa yang suka akan dia itu kelak akan makan buah-buahnya (Amsal 18.21) Siapakah orang yang suka hidup dan mendapati hari yang baik? Hendaklah lidahnya dijaga daripada kejahatan dan bibirnyapun daripada perkataan penipu (Mazmur 34.13-14)
Lidah itu Tajam
Engkau mengupayakan pembunuhan dan celaka, lidahmu seperti pisau cukur yang tajam; dikerjakannya tipu daya (Mzm 52.4) “…lidahnyapun seperti pedang yang baharu diasah (Mzm 57.5 bdk 64.4); Adalah orang yang punya perkataan kurang ditimbang, seperti keris yang menikam tajamnya (Amsal 12.18);

Lidah sebagai Alat Ukur Kesempurnaan Hidup
a. Tanda kesungguhan: …barangsiapa tidak bersalah dalam perkataannya, ia adalah orang sempurna (Yak 3.2). Jikalau ada seseorang menganggap dirinya beribadah, tetapi tidak mengekang lidahnya, ia menipu dirinya sendiri, maka sia-sialah ibadahnya (Yak 1.26).
b. Perkataan menunjukkan kepribadian: Dan semua itu membenarkan Dia dan mereka heran akan kata-kata yang indah yang diucapkanNya (Luk 4.22). … sebab Ia mengajar mereka sebagai orang yang berkuasa, tidak seperti ahli-ahli Taurat mereka (Mat 7.29) dan orang kristen juga diharapkan; “Hendaklah kata-katamu senantiasa penuh kasih, jangan hambar, sehingga kamu tahu, bagaimana kamu harus memberi jawab kepada tiap orang (Kol 4.6).
c. Setiap perkataan harus dipertanggungjawabkan; Tetapi Aku berkata kepadamu: setiap kata sia-sia yang diucapkan orang harus dipertanggungjawabkannya pada hari penghakiman. Karena menurut ucapanmu engkau akan dibenarkan, dan menurut ucapanmu pula engkau akan dihukum (Mat 12.36-17).

Lidah Harus Dipelihara
Pemazmur 141.3 berkata: “Awasilah mulutku, ya TUHAN, berjagalah pada pintu bibirku”, sebab kata-kata yang keluar dari mulut, walaupun sudah saling memaafkan pada hakikatnya tidak dapat dihapus sama sekali. Kata-kata yang sudah sempat direkam oleh otak, susah dihapus dari ingatan. Karena itu lidah harus berbuah yang baik, seperti firman TUHAN: “Janganlah ada perktaan kotor keluar dari mulutmu, tetapi pakailah perkataan yang baik untuk membangun, dimana perlu, supaya mereka yang mendengarnya, beroleh kasih karunia (Ef 4.29).

Bagaimana supaya kata-kata yang keluar dari mulut kita menjadi berkat, berfaedah bagi orang lain? Untuk itu harus dilihat ke asalnya, yaitu HATI. Yesus berkata: “Tetapi apa yang keluar dari mulut berasal dari hati dan itulah menajiskan orang” (Mat 15.18); … “Karena yang diucapkan mulut meluap dari hati” (Mat 12.34b). Kita harus mengenal HATI kita sendiri melalui: (1) kata-kata yang melimpah/kata-kata telanjur/tanpa rem, spontan dan kata-kata rahasia dari kita (2) dalam doa pribadi kita, (3) firman TUHAN, (4) nasihat saudara-saudara seiman. Dengan demikian kita dapat mencuci HATI, tidak cukup dengan mencuci mulut dengan cara: bertobat dari kesalahan hati, bukan hanya dalam perbuatan, tetapi sampai batin, bahkan keinginan-keinginan, angan-angan dan cita-cita. Ingin saja, sudah dosa (Ul 5.21; Mzm 119.113; Mat 5.28; 1 Tim 6.9-10). Setelah hati bersih, harus diisi dengan sumber bersih, yaitu Firman TUHAN (Kol 3.16; 1 Pet 4.11); hidup dalam Roh Kudus (Yoh 14.26; Mat 10.19-20); Salib penyangkalan diri (Luk 9.23); 1 Pet 3.10).

Karena itu selayaknyalah kita berkata: “Selidikilah aku, ya Allah, dan kenallah hatiku, ujilah aku dan kenallah pikiran-pikiranku; lihatlah, apakah jalanku serong, dan tuntunlah aku di jalan yang kekal (Mzm 139.23-24).

tujuan hidup

Menentukan Tujuan Hidup

Dari beberapa paparan Alkitabiah diatas, kita akan masuk ke diskusi kelompok untuk menjawab Tema PA kita malam hari ini.
1. Menurut saudara, tujuan hidup yang seperti apa yang saudara dambakan?
2. Menurut pemahaman saudara, apa dampak (positif dan negatif) dari kemajuan tekhnologi yang mempengaruhi kualitas persekutuan dan komunikasi kita di Naposobulung?
3. Menurut saudara, masih relevankah segala budaya kesantunan dan tata krama berbicara untuk waktu kita saat ini? Jika masih/ tidak, mengapa demikian?

2 thoughts on “PA Naposobulung

  1. aku anak TUHAN,tapi selama aku merantau di kota batam ini,aku jarang sekali beribadah kepada TUHAN
    Aku sadari memang keberadaan tempat tinggal aku jauh dari MEZBAH TUHAN,bahkan setiap hati sabat
    aku selalu merasa bingung seperti orang bodoh.
    tidak tahu harus bertindak apa,hanya untuk mencari gereja.

    • Horas Sdrku. Gito Abdi,
      Suatu hal yang sangat baik sekali kalau Sdr. Gito telah menyadari kesalahannya dan
      masih memiliki rinduan yang kuat untuk beribadah di Mezbah Tuhan (baca : Gereja).
      Kami tidak mengetahui didaerah mana Sdr. Gito Abdi tinggal, tetapi sebagai anak Tuhan
      yang selalu merindukan beribadah kepadaNya… sejauh dan tantangan apapun pasti dapat kita lalui. Dan apabila ada beberapa orang Saudara-Saudara seiman yang punya kerinduan seperti
      Saudara… dapat lah dibentuk suatu Persekutuan Doa/Ibadah Bersama di daerah tsb.
      Demikian saran kami. Tuhan memberkati.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *