Ketika hidup tak sempurna

Tiga bersaudara dan seorang sahabat mereka—semuanya wanita—sedang dalam perjalanan ke luar kota dengan mengendarai mobil. Dua kakak yang tertua sudah mahir mengemudikan mobil, dan merekalah yang menyetir bergantian di awal perjalanan. Sementara si bungsu baru saja mendapatkan SIM, dan sangat ingin merasakan nikmatnya mengemudi. Ketika sampai di daerah yang sepi, sang kakak mengizinkan adik bungsunya memegang setir. Saking semangat si adik mengemudi, ia terlena dan tak sungguh-sungguh waspada memperhatikan jalan. Di sebuah perempatan ia menerobos lampu merah. Sebuah truk trailer dari arah melintang tak dapat mengerem lagi, dan menabrak keras mobil mereka. Kakak kedua dari si bungsu, tewas seketika. Sementara yang lain terluka dan segera dilarikan ke rumah sakit.

Sang sahabat, yang paling baik keadaannya, menjadi pihak yang harus menelepon dan memberitahukan kejadian itu pada kedua orangtua tiga bersaudara tersebut. Tak mudah menyampaikan sebuah berita buruk—apalagi sangat buruk, seperti kematian seorang anak. Namun harus dilakukan. Akhirnya orangtua mereka mendengar semuanya, dan segera datang ke rumah sakit yang diberitahukan.

Sesudah menyampaikan berita itu, si sahabat mulai ketakutan. Ia tak berani membayangkan bakal seperti apa marahnya orangtua tersebut pada si bungsu, yang ”menyebabkan” kejadian itu, hingga kakaknya tak terselamatkan? Ya, ia berpikir demikian karena di keluarganya, selalu ada seseorang yang ”harus disalahkan” bila sebuah kesalahan terjadi. Tak peduli hal kecil atau besar. Bila ruang keluarga atau ruang belajar berantakan, maka selalu ada teriakan, ”Siapa yang melakukan ini?” Bila isi tong sampah berhamburan karena ada kucing masuk rumah, maka akan terdengar hardikan ibu pada si anak, ”Ini pasti gara-gara kamu!” Dan hardikan begitu kerap terdengar, ”Kamu yang salah!” … ”Ini semua salahmu!”

Tanpa berani mendekat, sang sahabat tadi hanya memandangi dari jauh ketika orangtua sahabat-sahabatnya itu datang, agar hardikan yang bakal terdengar tak begitu tajam melukainya juga. Namun ternyata bayangannya itu keliru. Kejadian berikutnya tak seperti yang ia pikirkan. Orangtua yang sedang berduka itu menghambur memeluk kedua putrinya yang terluka. Mereka menangis dan menciumi bertubi-tubi kedua buah hatinya, dengan kerinduan dan sayang yang besar. Hardikan tak kunjung terdengar. Malah, yang berulangkali terucap dari mulut mereka adalah, ”Syukurlah, kalian masih hidup! Ayah-Ibu senang sekali kalian masih hidup!” Bahkan terutama ditujukan pada si bungsu.

Kepada si bungsu? Ya, benar! Sejak pertama mereka bertemu, tak ada sedikitpun kalimat menyalahkan muncul dari mulut mereka. Tak ada tudingan, tak ada tuntutan untuk membayar kesalahan. Hingga si bungsu bahkan tak sempat merasa takut ditolak, sebab orangtuanya malah mulai menggodanya hingga tersenyum ketika mengomentari kakinya yang digips tebal.

Keluarga ini sama sekali tak mempermasalahkan siapa berbuat apa. Ketika situasi porak poranda, mereka berusaha membereskan saja apa yang bisa, dan melanjutkan kehidupan. Ketika ditanya bagaimana mereka dapat bersikap demikian, jawab sang ayah adalah, ”Anak kedua kami sudah meninggal, kami memang sangat kehilangan. Namun tak ada apa pun yang dapat kami perbuat untuk menghidupkannya lagi. Sedangkan anak bungsu kami masih punya hidup yang panjang. Apakah yang akan terjadi dengannya bila kami menyalahkannya dan membuatnya merasa bersalah seumur hidup?” Dan benar, si bungsu telah sangat ditolong hingga ia dapat melanjutkan hidup dengan semangat yang tidak dipatahkan, dengan dukungan penuh yang masih terus diberikan kepadanya.

Sebuah cermin bagi kita. Keluarga ini memiliki sebuah prinsip berharga yang kerap kita lewatkan: bahwa kadang-kadang menyalahkan itu tidak penting, bahkan tidak ada gunanya sama sekali. Khususnya terhadap anak-anak kita sendiri. Apalagi di usia mereka yang masih kecil (usia 0 hingga praremaja), di mana mereka menghabiskan waktu paling banyak dengan kita. Terhadap mereka, kita bisa menjadi pribadi yang paling menuntut dan paling banyak menyakiti. Sebab acap kali kita terlalu terpaku untuk mencapai kondisi yang sempurna. Rumah yang bersih, tertib, teratur, tanpa masalah, tanpa kesalahan, tanpa keributan. Walau sejujurnya, kita pun tak selalu bisa sesempurna itu menjalaninya.

Ketika anak-anak membuat sesuatu menjadi berantakan—yang sebenarnya masih dalam batas wajar bila kita mengingat ia masih anak-anak—terlalu mudah rasanya omelan dan hardikan keluar dari mulut kita. Padahal itulah investasi kita. Apa yang kita ucapkan dan sikapkan baginya, menjadi investasi kita dalam hidupnya. Ketika gerak dan hidupnya dibatasi oleh begitu banyaknya aturan yang melebihi kemampuannya, ia pun bertumbuh dalam ketakutan dan kekuatiran untuk berbuat salah.

Di pihak lain, kita pun ”membiasakan diri” untuk berpola sikap demikian. Kita jadi terbiasa menghardik dan tak lagi merasa bersalah ketika melakukannya. Maka, kita tak melatih diri untuk bisa melihat secara objektif ketika sebuah ”ketidakberesan” terjadi. Bila untuk hal ”kecil” saja kita bisa marah-marah, lalu bagaimana mungkin kita dapat mengendalikan diri bila menghadapi masalah sebesar yang dihadapi keluarga yang diceritakan di awal tadi?

Anak-anak yang hidup dengan kekuatiran berbuat salah pun akan menuai sikap mental yang negatif. Ia bisa menjadi sangat ketakutan akan kesalahan hingga ia tak berani melakukan atau mencoba hal-hal baru. ”Daripada aku melakukannya dan tidak bisa sempurna melakukannya hingga aku dimarahi, mending aku tidak usah melakukannya,” begitu pikirnya.

Atau, jika tidak, ia justru akan sangat berani mencoba segala sesuatu, sebab ia sudah ”kebal” terhadap sikap menyalahkan yang sering ditunjukkan orangtuanya. Saking beraninya, ia bahkan tak takut lagi menyerempet hal-hal yang memang membahayakan dirinya dan seharusnya ia hindari. Sebab pikirnya, ”Ah, mau dimarahi sekeras apa pun, tak apalah. Aku sudah biasa mendengarnya. Yang penting, aku bisa menikmati hidupku.”

Tak satu pun dari dua pilihan itu ingin kita alami, bukan? Maka, tak pernah ada kata terlambat bila hari ini kita mau mengubah cara kita berkata-kata dan bersikap. Khususnya ketika menghadapi kesalahan yang dibuat anak-anak. Biarlah anak-anak dan kita sama-sama melatih diri untuk hidup secara wajar. Bahwa kesalahan dan ketidaksempurnaan adalah bagian yang mesti kita terima dalam hidup. Tanpa perlu ada pihak yang disalahkan. Sebab menyalahkan tak pernah ada gunanya.

Justru dalam hidup yang penuh ketidaksempurnaan ini, kita perlu mengembangkan pola hidup yang saling menerima kembali setelah sebuah kesalahan dilakukan. Pola hidup saling mengampuni setiap kali. Sebab itulah yang akan membangun hidup anak-anak kita. Bahwa ketika mereka meyakini selalu ada kasih dan penerimaan dalam keluarganya, maka ia menghargai dirinya sendiri dan mendorongnya untuk bertumbuh maksimal, sesuai dengan tujuan Allah menciptakannya!

Artikel Rohani ini ditulis oleh:  Agustina Wijayani

Sumber: Gloria Cyber Ministries

HKBP Lubuk Baja, Batam

hidup

hidup

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *