Ringkasan Khotbah, Minggu 17 Juni 2012

Tuhan meninggikan orang yang setia

Dalam hidup ini, kita masing-masing berjuang untuk menggapai yang kita inginkan; ada yang telah memperolehnya, ada yang masih berjuang, tetapi ada juga yang sudah putus asa. Bagi yang telah berhasil memperolehnya bisa berkata: kudengar, berkatMu turun. Bagi yang sedang berjuang, akan ada ketekunan. Bagi yang merasa gagal mungkin menjauh dari Tuhan.

Terlepas dari apakah kita merasa sudah memperoleh, sedang berjuang, atau merasa gagal: sejauh mana kita rasakan penyertaan Tuhan? Bukankah kita seringkali mengabaikan peran Tuhan di dalam aktifitas/ kehidupan nyata? Kita hanya merasakan Tuhan hanya saat beribadah dan saat berdoa. Lalu, saat kita beraktifitas, sepertinya Tuhan tidak berperan. Padahal, dalam semua hidup ini, justru Tuhan yang menentukan. Firman Tuhan berkata: (Amsal 16:9 Hati manusia memikir-mikirkan jalannya, tetapi TUHANlah yang menentukan arah langkahnya, dan Yeremia 10:23 Aku tahu ya TUHAN, bahwa manusia tidak berkuasa untuk menentukan jalannya, dan orang yang berjalan tidak berkuasa untuk menetapkan langkahnya)

Dalam konteks pembuangan, umat Tuhan merasa bahwa mereka tidak lagi berdaya. Mereka tersadar setelah mereka terbuang, bahwa mereka telah memberontak kepada Tuhan, sehingga mereka mengalami penghukuman. Lalu pikiran mereka, bahwa Tuhan tidak mungkin lagi membebaskan mereka. Mereka hanya akan menjadi budak-budak Babel.

Tuhan sungguh-sungguh berkuasa atas kehidupan manusia. Kekuasaan Tuhan atas kehidupan, bukan berarti manusia berpangku tangan (bergantung nasib). Manusia senantiasa beraktifitas dan senantiasa melakukan yang Tuhan firmankan. Dengan kedua hal itu (bekerja dan melakukan firman Tuhan), maka Tuhan akan memberikan hasil. Kita teringat dengan kehidupan para petani. Mereka bertanam dan merawat tanamannya. Lalu mereka berdoa. Selain itu tidak ada yang dapat mereka perbuat. Mereka menantikan hasil dari kerja dan doa mereka. Lalu, ketika mereka panen – apapun hasilnya mereka syukuri. Itulah sebabnya, di beberapa daerah ada istilah Pesta Panen. Bukan karena hasilnya banyak sehingga mereka berpesta. Bagi mereka, itu semua memang telah Tuhan tentukan.

Kita pun di dalam kehidupan kita perlu lebih belajar menerima apa yang Tuhan perbuat bagi kehidupan kita. Kita perlu mengaplikasikan seremonial kerohanian dengan kehidupan nyata. Ketika kita bekerja, berbuat dan berdoa; lalu kita menyiapkan hati kita menerima yang Tuhan tentukan. Kita menerima hasil itu sebagai anugerah. Sebab sesungguhnya Tuhan berkuasa atas kehidupan manusia. Tuhan akan meninggikan orang-orang yang setia dengan firmanNya. Sekalipun Yesus dihina dan menderita, Yesus dengan setia melakukan kehendak Bapa. Tapi lihatlah, dunia memandang pada Yesus. Allah telah meninggikan Yesus dengan penuh kemuliaan. Setialah pada firmanNya maka Tuhan akan meninggikan engkau. Amin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *