Jangan menganggap diri bijak

Ayat harian dari Almanak HKBP: Amsal 3:7
Janganlah engkau menganggap dirimu sendiri bijak, takutlah akan TUHAN dan jauhilah kejahatan.
Unang tung na bisuk ho diparbaga roham, habiari ma Jahowa, jala paholang dirim sian hajahaton.

Belakangan ini sering kita dengar ungkapan dikalangan kaum muda, “Ssst…. narsis…” katanya kepada orang yang senang memuji diri sendiri, jika ada orang yang agak lama di depan cermin, atau memandangi foto dirinya, berulangkali mengamati dirinya, dialah yang dimaksud dengan “narsis” itu. Apa yang dimaksud dengan “narsih”?

Berasal dari mitologi Yunani, ada seorang muda yang bernama Narsiscus yang bolak balik ke suatu kolam memandangi wajahnya yang cakap (saat itu belum ada cermin). Itu saja yang dilakukannya karena dilihatnya di kolam parasnya tampan. Sebab di permukaan air itu ada “wajah orang” yang cakap, pada hal itu adalah bayangannya sendiri. Dari situ muncul ungkapan “narsis”. Dan kini pun ungkapan itu dikenakan kepada orang yang selalu puji diri, menganggap diri lebih hebat dari semua orang. Selalu menunjuk kepada kebaikannya dan perbuatan benarnya, sementara yang dilakukan temannya tidak pernah benar. Atau seperti elite Yahudi, Farisi, Ahli Taurat dan sebagian Imam Kepala, mengatakan bahwa Yesus tidak benar Anak Allah. Walaupun Tuhan Yesus telah mengingatkan kepada kitab para nabi, dinyatakan beberapa tanda mujijat, tetap mereka tidak terima. Hanya apa yang di dalam hati mereka itulah yang benar. Singkatnya ukuran kebenaran adalah dari diri mereka sendiri. Tentunya, jika sudah demikian, dia tidak takut Tuhan lagi., sebab dia sudah menganggap dirinya sama dengan Allah. Dan mereka tidak takut lagi kepada Tuhan, sama dengan sudah dalam kejahatan.

Inilah yang diingatkan Amsal kepada kita semua. Jangan menganggap diri bijak, agar tidak jatuh dalam kecongkakan dan meremehkan Tuhan. Dan kita harus hati-hati apabila kita bijak, jika itu membawa tinggi hati, berarti bukan dari Tuhan. Kita tahu, apabila menjadi tinggi hati atau kejahatan, keangkuhan, kebohongan bukan berasal dari Tuhan, melainkan dari hati manusia dan iblis. Kebijakan atau sama dengan hikmat dari Tuhan adalah murni, pendamai, peramah, penurut, penuh belas kasihan dan berbuat kebaikan. Apabila ada kita terima kebijakan atau hikmat dari Tuhan, tentunya itu penting dilakukan untuk mengerjakan rencana Tuhan. Karena itu, marilah kita pakai hikmat yang ada pada kita masing-masing untuk memulikan Tuhan melalui pekerjaan kita sehari-hari. Amin!

Renungan: Untuk apa dan bagaimana engkau perlakukan hikmat bijak yang ada padamu?

Pokok Doa: Ya Tuhan, kuatkan aku setia dan teguh memakai hikmat sesuai kehendakMu. Amin

Disadur dari Buku Renungan Harian HKBP: “Mendekat kepada Allah”

HKBP Lubuk Baja, Batam

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *