Jokes dari Ayub Yahya

Luar Biasa
Dua orang anak sekolah minggu sedang berbincang-bincang. Anak pertama berkata, “Wow, sungguh mujizat luar biasa. Tuhan telah membelah Laut Merah agar orang-orang Israel dapat menyeberanginya dengan berjalan kaki.” Temannya berkata dengan sinis, “Itu bukan Laut Merah. Itu Laut Teberau. Lagian itu cuma rawa-rawa, dalamnya hanya setengah meter. Jadi sama sekali tak ada mujizat.” Anak pertama menjawab, “Kalau begitu, Tuhan sangat hebat, ya. Luar biasa.” Temannya heran, “Apanya yang luar biasa kalau begitu?” Anak pertama menjawab dengan bangga, “Apa nggak hebat? Tuhan telah menenggelamkan seluruh pasukan Mesir dalam rawa yang dalamanya hanya setengah meter. Luar biasa!”

Ayah’s Quote:
Si pesimis melihat gelas setengah kosong. Si optimis melihat gelas setengah penuh. Cara pandang yang membedakan keduanya.

Paling Hebat
Di sebuah hutan, ada seekor singa yang menganggap dirinya sangat hebat. Apalagi karena ia memiliki julukan sebagai si Raja Hutan. Suatu hari ia berkeliling untuk mensurvei pandangan penghuni hutan terhadap dirinya. Ia datang kepada seekor Gorila dan bertanya, “Hai Gorila, siapakah yang paling gagah di hutan ini?” Gorila menjawab, “Anda, Tuanku.” Si Singa sangat bangga. Ia kemudian pergi menemui seekor Banteng dan mengajukan pertanyaan yang sama. Banteng menjawab, “Sudah tentu Anda, Rajaku.” Ia kemudian pergi menemui beberapa binatang yang lain. Semua menjawab sama. Maka si Singa merasa sangat bangga. Dan menjadi sombong. Di tengah jalan ia bertemu dengan Gajah. Iapun mengajukan pertanyaan yang sama. Bukannya jawaban yang ia peroleh malah sebaliknya. Gajah ngamuk. Ia menendang si Singa. Menginjak dan mengangkatnya di udara sebelum kemudian membantingnya ke tanah. Singa babak belur. Sambil meringis Singa berkata kepada Gajah, “Kalau kamu memang nggak tahu jawabannya, nggak usah marah begitu, dong..”

Ayah’s Quote:
Orang yang membusungkan dada terlalu ke depan, biasanya tidak dapat melihat ke bawah. Orang sombong biasanya tidak bisa melihat kekurangannya.

Nonton Film
Saat sedang menonton film, seorang Ibu ingin ke kamar kecil. Pelan-pelan ia berjalan keluar dari barisan kursinya. Ketika kembali dari kamar kecil, ia lupa nomor kursinya. Setelah beberapa saat mencari, ia bertanya pada seorang Bapak yang duduk di kursi paling pinggir, “Pak, apakah Bapak yang kakinya keinjak saya waktu tadi saya keluar?” Bapak itu menjawab sambil berharap permintaan maaf, “Iya, Bu.” Ibu itu tersenyum lega, “Oh, berarti ini benar barisan kursi saya.”

Ayah’s quote:
Di dunia ini memang banyak orang yang walau sadar telah berbuat salah, tapi mulutnya terlalu berat meminta maaf.

Bertemu Tuhan
Pada suatu malam seorang pria bermimpi bertemu dengan Tuhan. Dalam mimpinya itu terjadi percakapan berikut:
Pria : “Tuhan, benarkah bagi-Mu uang satu milyar sama dengan sepeser?”
Tuhan : “Ya, Benar!”
Pria : “Dan benarkah bagi-Mu seribu tahun sama dengan sedetik?”
Tuhan : “Ya, Benar!”
Pria : “Kalau begitu, berilah aku sepeser uang.”
Tuhan : “Tunggulah sedetik lagi!”

Ayah’s quote :
Kerap kita jadikan doa sebagai alat untuk memaksakan kehendak kita kepada Tuhan. Sebagai mantra. Yang harus terjawab sesuai keinginan kita. Pada waktu yang kita tetapkan.

Ramalan Cuaca
Beberapa orang kru film sedang syuting di sebuah lokasi di tengah gurun. Suatu hari seorang Indian tua mendatangi sutradaranya dan bilang, “Besok hujan akan turun.” Besoknya hujan turun. Seminggu kemudian, Indian tua itu mendatangi sutradaranya lagi dan bilang, “Besok akan ada badai.” Besoknya badai pun datang.”Orang Indian tua itu sangat luar biasa “kata si sutradara. Dia katakan kepada sekretarisnya untuk menyewa saja Indian tua itu untuk meramal cuaca sampai syuting yang masih tersisa selesai. Sejauh itu, setelah beberapa hari ramalannya selalu tepat, tiba-tiba Indian tua itu tak muncul lagi selama dua minggu. Akhirnya si sutradara mendatangi rumah si Indian tua itu. “Besok kami akan syuting adegan yang sangat penting” kata si sutradara, “Dan kami sangat tergantung kepada anda, seperti apa kira-kira cuacanya besok.” Si Indian tua angkat bahu dan menjawab dengan santainya, “Nggak tahu. Radio saya lagi rusak.”

Ayah’s quote :
Kita kerap mudah terlempar dari satu ekstrim ke ekstrim yang lain. Dari under-estimate ke over–estimate. Terlalu berharap. Mengidolakan. Dan akhirnya, jadi tergantung pada seseorang. Bahkan untuk hal-hal sederhana.

Bercanda
Suatu hari ada pemuda melamar ke suatu perusahaan skala menengah. Posisi yang ditawarkan adalah Asisten Manajer HRD.
HRD Manager: “Apabila Saudara diterima di perusahaan ini, berapa gaji yang Saudara harapkan?”
Pemuda: “Saya ingin gaji dalam US dollar saja, pak. Tidak usah terlalu tinggi, cukup 10.000 USD saja”
HRD Manager: “Menurut saudara, itu sesuai dengan jabatan yang Saudara lamar, ya?”
Pemuda : “Iya Pak. Sesuai juga dengan kemampuan saya”
HRD Manager : “Ehm, bagaimana kalau perusahaan menawarkan lebih banyak: kami sediakan mobil Mercedes lengkap dengan supirnya, rumah di Pondok Indah dengan kolam renang, liburan setiap akhir minggu ke Bali, cuti 12 hari setiap akhir tahun ditambah bonus 12 kali gaji?”
Pemuda: “Ah, jangan bercanda, pak!”
HRD Manager: “Lho… kan Saudara duluan yang mengajak bercanda ..”

Ayah’s Quote :
Menghargai diri kita itu baik. Menghargai kemampuan kita itu perlu. Menunjukkan kepintaran kita. Stadar dan ukuran kita dalam menilai diri sendiri. Oke-oke saja. Tapi, over-estimate hanya akan menunjukkan kebodohan kita.

Sopir Taksi
Setelah berjalan sekian lama, penumpang menepuk pundak sopir taksi untuk menanyakan sesuatu. Reaksinya sungguh tak terduga. Sopir taksi begitu terkejutnya sampai tak sengaja menginjak gas lebih dalam dan hampir saja menabrak mobil lain. Akhirnya ia bisa menguasai kemudi dan menghentikan mobilnya di pinggir jalan. “Tolong, jangan sekali-sekali melakukan itu lagi,” kata sopir taksi dengan wajah pucat dan menahan marah. “Maaf, saya tidak bermaksud mengejutkan. Saya tidak mengira kalau menyentuh pundak saja bisa begitu mengejutkan Bapak.” Supir taksi itu masih dengan wajah pucat pasi menjelaskan “Persoalannya begini, ini hari pertama saya jadi sopir taksi. Bapak juga merupakan penumpang pertama. Sebelumnya saya adalah sopir mobil jenazah.”

Ayah’s Quote :
Jika sesuatu tindakan itu baik, biasakanlah. Jika sesuatu itu tindakan yang buruk, jangan dibiasakan. Karena mengubah kebiasaan bukan hal yang mudah.

Saya Mau Turun
Seorang gadis cantik menaiki bus. Seorang laki-laki yang duduk dekat gadis itu langsung berdiri, mempersilakan gadis itu duduk. Tetapi gadis itu langsung mendorong perlahan laki-laki itu ke tempat duduknya sambil berkata, “Terima kasih, saya berdiri saja”.
Laki-laki itu langsung berdiri lagi, tetapi lagi-lagi gadis itu mendorongnya sambil mengatakan bahwa ia berdiri saja. Pada kali ketiga pria itu berdiri, ia langsung membentak, “Nona saya mau turun. Pemberhentian saya sudah terlewat!”.

Renungan :
Kerap kita salah duga dengan maksud seseorang. Kita salah mengartikan perhatian seseorang. Atau kita kerap pula terlalu curiga dengan ketulusan seseorang.

Mahasiswa Baru
Suatu kali dalam sebuah kelas kuliah sejarah. “Hei, kamu yang berdiri di belakang,” kata dosen pengajar. “Coba sebutkan para pelaku yang menandatangani Perjanjian Linggarjati!”
“Maaf, Pak, saya nggak tahu.”
“Koq nggak tahu?! Baiklah, kalau begitu sebutkan saja tahun berapa perjanjian itu ditandatangani!”
“Maaf, Pak, saya juga nggak tahu.”
“Hah?! Nggak tahu juga. Bahan itu kan sudah saya tugaskan untuk dibaca minggu lalu. Lantas untuk apa kamu datang ke sini?!”
“Mau memeriksa kabel lampu ini, Pak. Saya petugas PLN”.

Ayah’s quote:
Segala sesuatu tuh mesti jelas dulu. Jangan main “hantam”. Jangan asal ambil sikap atas dasar pra-duga atau sangkaan yang belum tentu. Mending kalau cuma malu sendiri. Lha, kalau membawa orang lain dalam kesulitan juga?! Repot kan.

Menyamar
Seorang polisi menangkap seorang preman yang menyamar jadi polisi gadungan.
Polisi kemudian bertanya kepada preman tersebut,
“Mengapa kamu memakai seragam polisi?”

Sang preman dengan enteng menjawab,
“Loh, bapak saja yang polisi bisa menyamar dengan berpakaian preman, lalu mengapa preman tidak boleh menyamar jadi polisi?”

Ayah’s quote :
Hati-hati dengan “pembenaran”. Sebab biasanya pembenaran tuh dicari-cari. Dan nggak selalu seiring sejalan dengan kebenaran. Jangan mencari-cari pembenaran. Carilah kebenaran.

Adu Hebat
Ada perlombaan hebat-hebatan dinas rahasia yang diikuti oleh seluruh dinas rahasia di dunia. Di Final, bertemulah 3 agen dari dinas rahasia terhebat. Untuk memilih yang terhebat akhirnya juri melepaskan 3 ekor kelinci di 3 hutan yang berbeda. Ketiga agen tersebut diwajibkan menangkap ketiga kelinci tersebut. Yang tercepat maka dia yang menjadi pemenang. Agen 1 masuk hutan. Dengan keunggulan teknik intelejennya, ia memasang mata-mata dan menyiapkan jebakan untuk menangkap kelinci tersebut. Tiga minggu kemudian tanpa disadari si kelinci, akhirnya si kelinci tersebut tertangkap masuk ke dalam jebakan Agen 1. Agen 2 lain lagi aksinya. Mereka memasang agen-agennya di pinggir hutan. Kemudian mereka membakar hutan itu sehingga banyak hewan dan tumbuhan yang mati terbakar. Tiga hari kemudian kelinci yang dicari-cari keluar dan langsung ditangkap oleh agen 2 yang telah menunggu di luar hutan. Sedangkan Agen 3 lain lagi caranya. Setelah 3 jam masuk hutan, ia keluar dengan menyeret beruang yang sudah bonyok. Beruang itu terus berteriak-teriak, “Iya deh … ampuuunnn … gue ngaku … gue kelinci.”

Ayah’s quote :
Menghalalkan segala cara bukan cara terpuji dalam mencapai tujuan. Hasil memang penting. Tapi proses mencapai hasil juga nggak kalah penting. Kadang justru pada proses itulah bisa terlihat kehebatan sesungguhnya dari seseorang dalam mencapai sebuah hasil.

Perpustakaan
Di tengah malam, telepon di rumah seorang petugas perpustakaan bernama Bobi berdering. “Selamat malam. Maaf mau tanya, perpustakaan buka jam berapa ya?” tanya suara seorang lelaki di telepon.
“Ya ampun, Anda menelepon tengah malam begini hanya ingin tahu kapan perpustakaan buka?” tanya Bobi.
“Tapi ini sangat penting”, kata penelepon.
“Jam sembilan pagi”, kata Bobi.
“Jam sembilan??? Tidak bisa lebih pagi lagi?” tanya si penelepon.
“Memangnya kenapa Anda ingin datang pagi-pagi?” tanya Bobi.
“Siapa bilang saya ingin datang? Saya ingin keluar dari perpustakaan ini…”

Ayah’s quote :
Berpraduga sering mengantar kita pada mispersepsi. Maka dalam hidup ini, jangan menghakimi seseorang sebelum mendapatkan informasi secara lengkap. Sebaliknya, jangan memberikan informasi terselubung, yang memungkinkan orang salah duga terhadap kita. Mau ya mau. Nggak ya nggak. Jangan mau yang nggak nggak.

Tulisan: Ayub Yahya
Sumber: ayubyahya.blogspot.com

Publikasi > Humor
HKBP Lubuk Baja, Batam

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *