Si Poltak dari Sipiongot

Si Poltak adalah anak sulung dari sebuah keluarga halak hita (Batak). Dia bekerja di sebuah perusahaan yang maju pesat di Pulau Batam, dan karirnya pun sangat baik.

Setiap bulan dia selalu mengirimkan uang buat orangtuanya di sipiongot untuk membantu menyekolahkan adik-adiknya, dan ini dilakukan secara teratur dan rutin. Jumlahnya selalu disesuaikan dengan besarnya gaji yang diterima.

Kalau dia mendapat insentif, bonus dan sebagainya, Poltak akan mengirimkan jumlah yang lebih besar. Dan setiap bulan dia selalu meminta agar orangtuanya berdoa untuk dia, agar dia selalu dalam pemeliharaan Tuhan. Hingga pada saat Indonesia diterpa krisis ekonomi, perusahaan tempatnya bekerja mulai kelimpungan dan akhirnya harus ditutup.

Poltak harus pensiun dini/PHK. Sebagai kompensasi, dia menerima uang pesangon cukup besar, jauh lebih besar dari yang diterima rutin setiap bulannya. Dan pada kondisi begini pun dia tidak lupa mengirimkan sebagian kepada orangtuanya, jumlahnya jauh lebih besar dari yang dikirimkannya setiap bulan. Dan dia juga menitipkan pesan seperti ini” Amang, inang!! Las ma rohamuna manjalo kiriman on. Unang lupa hamu manangianghon ahu, ai nunga memble ahu nuaeng.” (Ayah, Ibu, Semoga hati kalian senang menerima kiriman ini. Jangan lupa mendoakan aku, karena saya sekarang sudah MEMBLE). Orangtua si Poltak sangat senang mendapat kiriman yang sedemikian banyak. Dalam bayangan mereka, anaknya mendapat posisi yang lebih bagus dan gaji yang berlipat ganda.

Tuhan mendengarkan doa mereka. Ini harus disyukuri. Dan mereka pun mengundang para tetangga dan sisolhot (kerabat) dan mengadakan partangiangan (doa) ucapan syukur. Sintua (majelis) juga diundang.

Dalam acara partangiangan tersebut, ortu si Poltak mengungkapkan “tema besar” acara partangiangan tersebut.

Temanya adalah “Mandok mauliate tu Tuhan-ta, ala naung memble do anakhon nami si Poltak. Jala asa tatangiangkon ibana, asa lam tu memble na tu joloan on”. (“Mengucap syukur kepada Tuhan kita, karena anak kami si Poltak sudah memble. Doakanlah dia, agar semakin memble di masa yang akan datang“) Dan demikanlah acara partangiangan tersebut berlangsung, mengikuti tema besar yang ditentukan tuan rumah. Mereka berdoa dengan khusuk, terlebih orangtuanya, mengucap syukur atas si Poltak yang sudah memble saat ini. Dan agar Tuhan memberi berkat yang berkelimpahan, dan karunia agar si Poltak semakin memble. Demikian singkat cerita, si Poltak dapat penawaran bekerja pada posisi yang lebih baik di salah satu perusahaan besar asing yang tidak terkena dampak krisis. Dan dia dibayar jauh lebih besar dari yang diterimanya di perusahaan yang sebelumnya. Dia mengucap syukur dan berdoa sepenuh hati, atas berkat kasih Tuhan. Dan dengan hati berbunga-bunga dia pergi ke kantor pos, mengambil pos wesel dan menuliskan pesannya di sana “Amang, inang!! Mauliate ma ditangiang muna. Mauliate di Tuhan-ta, ai dibege do tangiangta. Horas. Sian anakhon muna: Poltak”. (Ayah, Ibu!! terimakasih atas doanya. Terimakasih kepada Tuhan karena sudah didengarNya doa kita. Salam. Dari anakmu: Poltak”.) Dan dia menuliskan angka setengah dari gajinya untuk dikirimkan. Wesel pos tiba di huta (kampung)sipiongot di alamat orangtua Poltak. Orangtuanya sangat-sangat senang. Lebih senang lagi, setelah membaca pesan si Poltak, dan angka kiriman di wesel . “Mauliate ma Tuhan, dibege Ho do tangiang nami. Dilehon Ho do pasu-pasu tu anak nami si Poltak. Nunga lam memble be ibana.” (Terima kasih Tuhan, karena Engkau mendengar doa kami. Diberikan olehMu berkat kepada anak kami si Poltak. Sudah semakin memble dia.) Dan tiba pada akhir tahun, Poltak pulang kampung ke sipiongot menemui orangtuanya. Setelah melepas rindu, bongkar-bongkar oleh-oleh untuk semua, ibunya bertanya.” Cerita ma jolo ho anaha, aha ma karejo dohot pangkatmu nuaeng amang, ai tung balga kirimanmu tu hami. Tung apala las do rohanami, jala dibege Tuhan do tangiang nami, asa lam tu memble-na ho dipasu-pasu Tuhan”. (Ceritakanlah anakku, apakah kerja dan pangkatmu sekarang nak, karena kirimanmu kepada ayah ibu sungguh besar. Kami sangat bahagia, Tuhan telah mendengar doa kami, bahwa kamu semakin memble dan diberkati Tuhan). Si Poltak mula-mula terdiam, agak kaget, setengah tidak mengerti. Kok orangtua saya mendoakan saya agar semakin memble???? Setelah diingat-ingat, dia tidak dapat menahan senyumnya.

Dan sambil tertawa kecil dia menceritakan tempat bekerjanya sekarang jauh lebih baik dari yang sebelumnya. Dia tidak mengungkapkan mengenai hal PHK dan pesangon yang dia terima. Dan tidak lupa dia mengucapkan terimakasih atas doa orangtuanya. Dan dalam kesendiriannya, dia merenungkan semua kejadian itu. Orangtuanya mendoakan dia agar semakin memble, pada saat dia memble betulan setelah di PHK. Sementara dia berdoa agar Tuhan menunjukkan kasihnya berupa tempat pekerjaan baru baginya. Dan dia mendapat tempat kerja dan posisi yang lebih bagus, dan dia tidak memble lagi.

Setelah sekian lama merenung, dia mengerti bahwa Tuhan bekerja dengan caranya sendiri. Tuhan lebih mendengar doa yang keluar dengan bahasa iman, lebih dari bahasa mulut. Dan dia bangkit dari tempat duduknya, melipat tangan dan berdoa atas berkat Tuhan yang berkelimpahan, dan atas orangtua yang selalu berdoa untuknya.”

Catatan :
1.Kisah ini diceritakan kembali oleh Namboru si Poltak.
2.Nama dan tempat adalah fiktif, kalau ada nama yang sama,itu hanya kebetulan saja.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *