Lebih berbahagia memberi daripada menerima

Oleh: Pdt. T.A. Pandiangan, S.Th
Kisah Para Rasul 20:35b

Hati-hati: Penyakit “ingin memiliki”!
Salah satu penyakit yang sukar diobati dalam hidup manusia adalah keinginan memiliki atau mempunyai. Mengapa disebut penyakit? Sebab, bila “keinginan mempunyai” telah merasuki kehidupan seseorang, maka dia akan berkembang menjadi monster yang menakutkan dan berbahaya terhadap sesama manusia bahkan terhadap alam dan isinya. Segala suatu maunya menjadi kepunyaannya. Dan apabila sudah sempat dia miliki sangat sulit sekali untuk melepas kembali. Ibarat hewan, orang yang berpenyakit “ingin memiliki” adalah perpaduan dua jenis hewan, yaitu cumi-cumi dan kepiting. Dia bagaikan cumi-cumi yang ingin meraih apa saja untuk dimiliki, diarahkan ke mulutnya. Terkadang tidak perduli dari sumber yang bersih atau yang berlumpur. Tetapi sekaligus dia bagaikan kepiting yang memegang mangsanya, tidak mau dan tidak mudah melepas. Lebih baik patah daripada lepas, itulah prinsip kepitan sang kepiting.

Nah, bahaya jika “keinginan memiliki” ini telah merasuk manusia, dia kurang bahkan sama sekali tidak perduli dengan manusia dan alam. Kalaupun ada kepeduliannya adalah sebatas objek eksploitasi untuk mendatangkan “sesuatu” bagi dirinya untuk dimiliki. Juga terhadap istri/suami dan anak-anak dijadikan milik sama dengan harta, tidak diberi kebebasan sebagai manusia yang utuh (selalu dikepit). Seterusnya, kita sudah tahu bagaimana efeknya bagi “yang dimiliki”, tentu tidak ada lagi kebebasan eksistensi sebagai manusia. Pada akhirnya, lebih tepat, puncak dari semua ketidak pedulian itu adalah ketidak pedulian terhadap TUHAN yang mencipta dan memelihara. Kalaupun ada pengakuan adanya TUHAN, dalam pelaksanaannya, TUHAN itu ingin diperalatnya untuk mendatangkan apa saja yang dapat dimilikinya.

Kebanggaan orang seperti ini, barangkali dapat kita lihat contohnya dalam Alkitab. Ketika ada seseorang bekerja menghasilkan harta hingga dapat menabung karena berlimpah hasil usahanya, ibarat deposito atau asuransi pada zaman ini, lalu dia berkata: [Luk 12:16-19]

16 “Ada seorang kaya, tanahnya berlimpah-limpah hasilnya.

17 Ia bertanya dalam hatinya: Apakah yang harus aku perbuat, sebab aku tidak mempunyai tempat di mana aku dapat menyimpan hasil tanahku.

18 Lalu katanya: Inilah yang akan aku perbuat; aku akan merombak lumbung-lumbungku dan aku akan mendirikan yang lebih besar dan aku akan menyimpan di dalamnya segala gandum dan barang-barangku.

19 Sesudah itu aku akan berkata kepada jiwaku: Jiwaku, ada padamu banyak barang, tertimbun untuk bertahun-tahun lamanya; beristirahatlah, makanlah, minumlah dan bersenang-senanglah! 

Lihatlah, kebanggaannya itu. Tetapi ingat bagaimana dengan miliknya itu, apakah menyelamatkan jiwanya? Lihat juga bagaimana hubunganannya denga dunia sekitarnya; manusia dan alam.

Ukuran Hidup Manusia
Mengapa “keinginan memiliki” merasuk kehidupan seseorang? Sebenarnya ingin memilik adalah manusiawi, tetapi apabila keinginan memiliki dan kemauan memberi tidak seimbang, inilah yang menjadi penyakit. Lalu mengapa demikian? Sebabnya, karena dunia ini telah terlanjur membuat ukuran keberhasilan adalah kepemilikan. Secara tidak sadar atau sadar kita sudah biasa mengukur keberhasilan manusia dengan apa yang dia miliki. “Nga hasea be si Aha i, do ba, nga adong jabuna, adong muse dalan-dalanna”. “Nga sonang be i, ai nga godang simpanananna”. Kepuasan hidup ditentukan oleh apa yang dia miliki. Dan hal-hal yang dimiliki itu adalah berupa harta benda. Sebaliknya apabila belum memiliki harta benda dianggap belum manusia. Dan karena itu dunia ini sepertinya baru bersuka cita apabila banyak menerima. Menerima ini dan itu sementara memberi sangat sedikit bahkan kalau bisa tidak memberi apa apa sama sekali.

Ukuran Hidup dari Yesus Kristus
Akan tetapi jika kita amati dengan baik, apakah Yesus mengikut pola hidup atau ukuran keberhasilan yang diperagakan manusia? Sama sekali tidak. Lihatlah, Ia tidak membawa koper, tidak punya tempat untuk meletakkan kepala (Mat 8:20, apakah Yesus tidak punya kasur?). Dia tidak memakai ukuran apa yang Dia terima, melainkan apa yang Dia beri. Perhatikanlah dalam keempat kitab Injil:

Ia memberi pengakuan kepada Zakheus, Ia memberi harga diri kepada perempuan Samaria, Ia memberi kelepasan dari rasa bersalah kepada wanita yang akan dilempari batu. Ia memberi pegangan baru kepada orang-orang di Galilea. Ia memberi koreksi kepada orang Farisi. Ia memberi pengampunan kepada di Kapernaum. Ia memberi hidup kepada Lazarus. Ia memberi makan kepada orang-orang di tepi danau Tiberias. Ia memberi teguran kepada Marta. Ia memberi kesembuhan kepada orang lumpuh di Bethesda. Ia memberi keampunan kepada orang banyak.

Jadi kesibukan Yesus dalam hidupNya adalah memberi bukan mempunyai atau memiliki. Dan secara tegas Dia berkata “…Aku akan memberi kelegaan kepadamu” (Mat 11:28) dan “… Aku memberikan hidup yang kekal” Yoh 10:28), bahkan puncaknya Ia “memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang” (Mrk 10:45).

Namun demikian, harus segera kita sadari pula bahwa memang Yesus tidak hanya memberi. Sebab Dia pun pernah menerima ungkapan kasih dari seorang perempuan yang mengurapi kakiNya dengan minyak wangi. Pernah menerima sambutan meriah, dielu-elukan di Yerusalem. Pernah menerima bantuan dari Simon Kirene pada masa passion, yaitu memikul salib.

Jadi sebenarnya dimensi hidup Yesus adalah menerima dan memberi. Namun kedalaman dan keluhuran hidup_Nya terletak dalam memberi dan puncaknya adalah memberi hidup-Nya sendiri.

Teladan bagi umatNya
Kwalitas hidup kita, manusia pilihan Kristus, hendaknya meniru pola hidup Yesus Kristus (bdk Ef 5:1, Therefore be imitators of God as dear children ). Karena itu kita harus ingat bahwa hidup kita dinilai bukan dari apa yang kita miliki, melainkan dari apa yang kita berikan. Dan harus diingat pula, bahwa memberi bukan ketika sudah kelimpahan melainkan memberi walaupun masih dalam kekurangan kita (bandingkan penilaian Yesus atas pemberian janda dalam Luk 21:3-4). Itu berarti, pemberian butuh pengorbanan. Pengorbanan yang didasari oleh kasih, sebagaimana Yesus berkorban memberi nyawa-Nya karena kasih-Nya kepada kita. Karena itu jemaat mula-mula pun telah mengikuti teladan itu. Lihat dalam Kis 2: 44-45; 4:32-37. Paulus sendiri berulang kali mengingatkan jemaat layanannya agar memberi dengan suka rela (2 Kor 9:7-9), memberi demi keseimbangan (2 Kor 8:10-15).

Lebih Baik Memberi dari pada Menerima
Ungkapan ini adalah ungkapan Yesus yang dikutip Paulus saat berpisah dengan para penetua di Efesus agar mereka giat memberi sebagaimana dia juga memberi (Kis 20:35). Mengapa lebih baik? Pertama memberi adalah perintah TUHAN (bdk Mat 10:8b). Dengan memberi berarti sudah menuruti atau meniru Dia. Kedua, dengan pemberian itu ada orang yang berbahagia, yaitu sipenerima tetapi kebahagiaan akan berganda jika pemberian itu disertai dengan sukarela. Ketiga, pemberian orang percaya dalam sukacita, adalah sama dengan memberi kepada TUHAN (Mat 25:40; Ams 19:17). Dan pemberian sedemikian adalah mengumpulkan harta di Sorga, harta yang tidak dapat didekati pencuri dan tidak dapat dirusakkan ngengat (Mat 19:21, Luk 12:33). Keempat, dengan memberi ada dorongan untuk berusaha. Ketika Paulus mengatakan ungkan di atas adalah berkaitan dengan dorongan agar para pendengarnya semakin giat berkarya untuk dapat memberi sesuatu. Keinginan memberi akan mendorong seseorang menghasilkan sesuatu yang dapat diberikan. Ketika dorongan ini ada, lalu dapat terwujud, maka di situlah puncak sukacita.

Disadur dari Bahan PA Gabungan NHKBP di HKBP Lubuk Baja

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *