Pemuda dan Gereja (6)

Ditulis oleh: Pdt. PT. Sitio, STh (HKBP Lubuk Baja)
sambungan dari: Pemuda dan Gereja (5)

V. Pemuda dalam Gereja dan Masyarakat

Sebelumnya, telah disebutkan sekilas bahwa Gereja berada dalam konteks kehidupan masyarakat yang sedang mengalami perubahan sosial. Arus perubahan sosial tampaknya cukup kuat mempengaruhi hidup dan kehidupan kita dalam berGereja maupun dalam bermasyarakat. Ada dua fenomena perubahan sosial, secara khusus yang erat berkaitan dengan kehidupan pemuda, yang ingin saya kemukakan pada kesempatan ini.

Pertama, pemahaman tentang fungsi Gereja. Sekarang ini bagi sebagian pemuda, fungsi Gereja bukan saja sebagai sarana pembangunan iman atau hal-hal rohani. Tetapi Gereja sudah beralih fungsi sebagai sarana hiburan dan sarana gaul kaum muda. Fakta mengenai hal ini dapat kita saksikan diberbagai daerah. Mau band bisa di Gereja, mau dengar musik kontemporer bisa juga di Gereja. Ada juga artis yang disebut sebagai artis rohani yang tidak kalah dengan artis yang kerap tampil di televisi. Tersedia juga tabloid rohani, majalah gaul dan lain-lain. Pendek kata, sekarang ini apapun hiburan yang lazim di lingkungan sekuler dapat juga kita jumpai di beberapa Gereja. Sudah sejak lama muncul Gereja-Gereja yang menggunakan musik sebagai “alat pemasaran” untuk menggaet para pemuda agar betah di Gereja. Kita banyak melihat dan mendengar, konser musik rohani yang dikemas sedemikian rupa dan ditata dengan falisilitas multimedia secara profesional.

Kita tidak sepenuhnya menentang kegiatan-kegiatan semacam itu. Karena kita tahu bahwa pemuda adalah komunitas yang bersemangat, dan saya setuju apabila Gereja menyediakan sarana yang mengakomodasi aspirasi pemuda. Tetapi janganlah kiranya selera sedemikian membuat kita jadi mengabaikan tugas panggilan kita sebagai garam dan terang bagi dunia sekitar kita. Dalam arti menjadi larut semata-mata untuk memenuhi selera sendiri dalam suasana ibadah yang hiruk-pikuk dan sibuk dengan urusan internal sendiri, tetapi lengah merespons masalah-masalah sosial yang terjadi. Antara lain misalnya, tindak kekerasan, pencemaran lingkungan hidup, perambahan hutan, dan lain sebagainya.

Kita sebagai orang percaya tidak pantas terjebak ibarat “katak dalam tempurung,” tidak mengetahui dunia luar. Dalam kehidupan kita sekarang ini di Indonesia banyak hal yang patut kita sikapi bersama. Kita sama-sama mengetahui bahwa Perundangan tentang otonomi khusus berlandaskan syariat agama tertentu sudah diterapkan di berbagai daerah, seperti di Nanggoe Aceh Darussalam. Hal ini ditengarai akan terus berlanjut pada upaya-upaya “ekspansi” pelaksanaan syariat agama tertentu di berbagai daerah di Indonesia. Atas nama otonomi daerah, pemerintah daerah membuat peraturan daerah sektarian seperti terjadi di Sumatera Barat. Kita juga mendengar tentang berdirinya bank-bank syariah, terbitnya peraturan bersama dua menteri yang masih tetap mengatur syarat mendirikan rumah ibadah, dan seterusnya. Semua ini patut kita sikapi dengan cermat dan arif, tanpa harus emosional. Maka itu, setiap warga jemaat, secara khusus pemuda, sangat penting mempunyai wawasan luas dalam memahami kondisi bangsa dan negara ini.

Kedua, kegandrungan pada gaya hidup (lifestyle) yang dianggap modern. Dalam kehidupan kita sehari-hari dapat kita melihat betapa masyarakat masa kini gampang terpesona oleh hal-hal yang lagi ngetrend dan jadi mode. Kita dapat saksikan sendiri, banyak orang yang mengandrungi apa yang dianggap sebagai gaya hidup. Kondisi ini antara lain ditandai dengan kegandrungan pada merk asing, makanan serba-instan (fast food), telepon seluler (HP), dan tentu saja serbuan gaya hidup lewat industri iklan dan televisi yang sudah sampai ke ruang-ruang kita yang paling pribadi, dan bahkan mungkin ke relung jiwa kita yang paling dalam. Terlebih di daerah perkotaan, dengan menjamurnya pusat perbelanjaan bergaya semacam shopping mall, tempat-tempat rekreasi, dan lain sebagainya. Semua ini tampak menanamkan nilai, cita rasa dan gaya hidup yang serba mewah.

Kini apa yang dianggap sebagai lifestyle modern bukan lagi monopoli artis, model, peragawan(wati) atau selebriti yang memang sengaja mempercantik diri untuk tampil di panggung. Tapi gaya hidup sedemikian sudah ditiru secara kreatif oleh sebagian besar masyarakat kita. Terkesan kuat bahwa masing-masing orang, terlebih kaum muda, seakan berlomba untuk mengikuti mode dan gaya hidup modern. Mengenakan berbagai asesori (perhisasan) serta mode dan fashion dalam tata busana untuk tampil di ruang publik.

Dengan mengemukakan hal itu, saya tentu tidak bermaksud mengajak pemuda untuk tidak beradaptasi dengan perkembangan zaman. Namun saya mau menekankan hendaknya kita jangan menjadi terbeban hanya untuk mengekspresikan diri sebagai orang yang bergaya hidup modern. Artinya, kita sebagai orang Kristen harus berupaya untuk tidak begitu saja terjerumus menjadi ‘kurban’ gaya hidup modern. Melainkan patut tetap menjadi diri sendiri, memiliki jati diri bukan menjadi orang lain dengan memaksakan diri meniru, menjiplak gaya hidup orang lain. Hal ini dapat kita tempuh dengan mengendalikan diri sendiri. Prinsip pengendalian diri sangat relevan termasuk untuk membedakan antara kebutuhan dan keinginan. Pemenuhan ‘keinginan’ biasanya adalah tanpa batas dan nyaris tidak pernah ada putus-putusnya. Sedangkan pemenuhan ‘kebutuhan’ dapat saja terwujud dengan pola hidup sederhana.

Lagi pula, saya mengamati bahwa bagi sebagian besar masyarakat kita apa yang disebut sebagai gaya hidup modern itu dianggap menjadi lambang prestise dan prestasi. Padahal jika kita telisik lebih mendasar sebenarnya gaya hidup tersebut justru menguat ke arah level simbolik. Dalam arti, hal-hal permukaan akan menjadi lebih penting daripada substansi. Gaya menjadi lebih penting daripada fungsi. Penampakan luar, penampilan, serta hal-hal yang bersifat ‘kulit’ menggantikan substansi dan esensi. Sehingga bisa terjadi, misalnya, seorang lulusan SMU tampak tampil dengan ‘gaya hidup modern’ namun wawasan maupun cakupan pengetahuan yang dimilikinya setara dengan seorang yang hanya lulus Sekolah Dasar.

Sehubungan dengan semua itu, menurut saya dalam konteks perubahan sosial masyarakat masa kini paling tidak ada dua hal pokok yang relevan kita akomodasi, yaitu menjadi transformator dan mengimplementasikan perspektif multikultural. Kedua hal tersebut perlu kita diskusikan lebih lanjut untuk kemudian dapat kita aplikasikan dalam upaya menciptakan masa depan yang lebih baik dalam kehidupan berGereja dan bermasyarakat.

Bersambung…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *