Tips mengatasi stress

Tips: Bagaimana Kita Mengatasi Stress?
Ariana – Jakarta

Di tengah persaingan dunia kerja yang sangat ketat, kesibukan yang padat, pekerjaan yang tidak kunjung selesai, putus cinta, komunikasi yang kurang harmonis, tidak tercapainya keinginan kita, sering mengalami kegagalan, kemacetan lalu lintas, dan berbagai macam persoalan hidup lainnya yang kerap datang menghampiri kita, dapat membuat seorang mengalami stress.

Di suatu pagi, ketika saya sedang menyalakan laptop di ruangan kerja, tiba-tiba teman sebelah ruanganku baru datang, berkata “Ri, kemarin kita pulang malam, sekarang pagi hari sudah berada di kantor lagi, sepertinya kita di rumah cuma menumpang tidur. Aku lagi stress nih, pekerjaan yang satu belum selesai, ditambah lagi pekerjaan yang baru, mana entar siang ada meeting lagi”, katanya sambil meggerutu.

Kata stress pun menjadi akrab di telinga kita dan tak jarang kita sendiri pun mengalami stress dalam kehidupan sehari-hari.

Ada berbagai jenis stress, yang sifatnya ringan timbul sesaat, misalnya tiba-tiba saja kita diminta untuk menghadiri meeting ataupun mendadak diminta presentasi, dengan terpaksa kita harus menyiapkan segala sesuatunya dalam waktu yang singkat, stress kala menghadapi dead line yang ketat, stress berada di lingkungan baru, bahkan ada stress yang berkepanjangan sampai mengakibatkan depresi.

Kira-kira beberapa bulan sebelum lulus kuliah, saya sudah diterima bekerja di perusahaan konsultan, saat itu saya sedang membuat skripsi, berhubung kesibukan bekerja yang padat, skripsi saya pun sempat tertunda, begitu mendengar beberapa teman telah melakukan ujian sidang skripsi dan dinyatakan lulus dan akan diwisuda beberapa bulan kemudian, akhirnya dengan kemauan keras dan ketekunan, akhirnya dapat juga menyelesaikan skripsi dengan tepat waktu. Berhubung pada saat itu saya belum mempunyai hak cuti, akhirnya saya mengambil unpaid leave, yaitu cuti yang dipotong dari gaji selama beberapa hari, dalam rangka belajar untuk menghadapi ujian sidang.

Ujian sidang skripsi saya akan dilaksanakan pada sore hari, dengan dosen penguji tiga orang, yaitu dosen pembimbing, dan dua dosen lainnya sekitar dua jam dalam ruangan tertutup. Pada pagi harinya, tiba-tiba saya stress, mau belajar lagi, rasanya tidak ada yang masuk ke otak, di rumah pun saya bolak balik ke kamar kecil dan minum air putih, rasanya saya benar-benar tidak siap menghadapi ujian sidang skripsi dan akhirnya saya pun menguatkan diri saya sendirinya dan berdoa agar diberikan kelancaran dalam ujian sidang, rasanya saat itulah saya pertama kali mengalami stress.

Untungnya pada saat sidang skripsi berlangsung, saya pun dapat menjawab dengan baik dan tepat semua pertanyaan baik dari dosen pembimbing maupun dosen penguji, dan mendapat nilai yang baik, rasanya lega sekali. Tiga minggu kemudian saya pun menghadiri acara wisuda bersama-sama dengan teman-teman kuliah saya yang lainnya, mengenakan kain kebaya, konde dan pakaian wisuda beserta toga, rasanya senang sekali dapat lulus kuliah dalam waktu 4 tahun, karena di semester terakhir, saya hanya kuliah 1 mata pelajaran saja.

Kesibukan bekerja di konsultan pun kian bertambah, setelah mengikuti pelatihan di Puncak, Jawa Barat selama tiga pekan, saya pun di tempatkan dari satu klien ke klien lain, pekerjaan di kantor konsultan cukup berat, dead line yang ketat, hampir setiap hari lembur, bahkan pada hari Minggu dan hari libur pun, kita diminta untuk masuk bekerja, dan belum lagi staff klien yang tidak selalu ramah terhadap kita, bahkan beberapa diantaranya menunjukkan rasa tidak suka kepada staff konsultan, dianggapnya kita merepotkan pekerjaan mereka, belum lagi atasan kita sendiri yang kurang memberikan pengarahan kepada kita, karena account yang dipegangnya terlalu banyak dan lagi-lagi dead line yang ketat menjadi alasan.

Saya seringkali bekerja sendirian di kantor klien, kesibukan yang luar biasa, rasa kesepian saat di kantor klien, ditambah lagi staff klien yang kurang bersahabat dan atasanku yang jarang mengunjungi membuatku merasa stress dalam kurun waktu sekitar dua bulanan, saya pun menghindari ajakan teman-teman untuk pergi, begitu bangun tidur, tiba-tiba saya merasa mual yang luar biasa, sering pusing, jantung agak berdebar-debar, sulit tidur, kulit muka pun terasa kering, dan saya pun berubah dari orang yang optimis menjadi pemurung dan cenderung menghindari orang, dan bersikap acuh dan tidak peduli.

Orang tua saya pun mengetahui kalau saya sedang mengalami stress berat, mungkin dalam taraf depresi ringan, akhirnya mengajak saya ke dokter umum dan akhirnya dokter pun memberikan semacam obat penenang agar saya dapat tidur dengan nyenyak, akhirnya pada malam itu, saya mengambil keputusan untuk membuat surat pengunduran diri di perusahaan konsultan tersebut dan tidak minum obat penenang tersebut, karena sebenarnya permasalahannya saya adalah stress bekerja.

Pada pagi harinya, sebenarnya hari itu saya seharusnya berada di kantor klien, saya menyempatkan diri untuk datang ke kantor, memberikan surat pengunduran diri ke HRD Manager.

Sesampainya di sana, saya pun dinasehati oleh HRD manager diminta untuk mempertimbangkan pengunduran diri saya, dan berhubung saya telah mengikuti pelatihan di daerah Puncak, jika saya tetap mengundurkan diri, saya diminta untuk mengganti biaya pelatihan, yang besarnya kira-kira 6 bulan dari gaji saya saat itu. Saya tertegun dan kaget, dari mana uang yang harus diperoleh untuk mengganti uang pelatihan tersebut dan HRD manager mengembalikan surat pengunduran diri saya.

Saya pun segera pergi ke kantor klien untuk bekerja kembali, dan saya pun memikirkan apa yang menyebabkan saya menjadi stress, akhirnya beberapa hari kemudian ketika senior in charge saya datang, saya pun berterus terang kepadanya, sambil meminta maaf bahwa saya tidak dapat membantunya lagi dan meminta agar saya diberikan penugasan oleh senior in charge lainnya. Sebenarnya senior in charge ini sangat baik kepada saya, saya pun telah memegang beberapa kliennya, dari satu klien ke klien lainnya, dan rencananya setelah penugasan di klien ini selesai, saya akan ditempatkan di klien lainnya, tetapi saya memang memerlukan penggantian suasana kerja untuk mengatasi rasa stress saya.

Dua minggu kemudian, saya pun sudah bertugas di klien lain dengan senior in charge lainnya, penggantian suasana kerja dan senior in charge, serta staff klien yang ramah, dan dibantu oleh keinginan yang kuat dalam diri saya sendiri untuk mengatasi rasa stress tersebut, akhirnya perlahan tapi pasti, hidup saya pun kembali normal dan tidak jadi mengundurkan diri, untungnya HRD manager sangat baik, sehingga rencana pengunduran diri saya pun tidak diketahui oleh teman-teman yang lainnya dan senior charge saya.

Senior in charge yang menjadi atasan saya, ketika saya baru pertama kali bekerja, begitu mengetahui kalau saya sedang tidak ada pekerjaan di klien lainnya, langsung menawarkan saya untuk tugas ke luar kota untuk pertama kalinya ke kota Padang dan sepulangnya dari penugasan dari kota Padang, setelah bekerja selama satu tahun saya pun dipromosikan sebagai senior in charge dan mempunyai account sendiri, dan saya pun bekerja di kantor konsultan selama dalam kurun beberapa tahun, sampai akhirnya pindah ke kantor lain, untuk mencari pengalaman di bidang usaha lain.

Sampai saat ini, saya pun masih sering mengalamai stress ringan, ketika boss marah-marah, dead line pekerjaan yang ketat, belum lagi perbedaan pendapat ketika di ruangan meeting, dan berbagai persoalan hidup lainnya.
Bagaimana Kita Mengatasi stress?

Stress adalah suatu kondisi di mana kita merasa kurang nyaman, tertekan, dan kita merasa sendirian, cendrung menutup diri, pesimis dan stress yang berkepanjang dapat menimbulkan depresi, hilangnya kepercayaan diri.

Beberapa tips yang biasa saya lakukan ketika stress itu muncul, tentunya tips ini hanya berdasarkan pengalamanku sendiri, mudah-mudahan bisa bermanfaat bagi orang yang sedang mengalami stress ringan.

  • Selalu berpikir positif, ketika kita berpikir positif, memberikan sebuah kekuatan dan energi untuk menghadapi sebuah permasalahan.
  • Tidak ada manusia yang sempurna, setiap manusia pernah mengalami sebuah kegagalan dan kekeliruan, dan dengan belajar dari pengalaman kegagalan di masa lalu, justru menjadi pengalaman yang sangat berharga pada masa kini. Tidak ada permasalahan yang tidak dapat diselesaikan, jika ada kemauan dan usaha.
  • Kita membutuhkan sahabat, ketika sedang stress, kita membutuhkan seorang sahabat untuk berbagi, mendengarkan curhat kita. Meskipun sahabat hanya menyediakan telinganya untuk mendengarkan curhat kita, rasanya sedikit beban yang berkurang, dan terkadang sahabat dapat memberikan jalan keluar atas permasalahan yang kita hadapi. Sahabat yang baik, biasanya sudah teruji oleh waktu dan dapat memegang semua rahasia kita, tanpa harus kita mengatakan “jangan bilang siapa-siapa ya”.
  • Berani untuk mengatakan tidak, jika memang penugasan yang diberikan kepada kita, tidak mungkin kita selesaikan dalam tenggang waktu yang diberikan, biasanya saya akan mengatakan “akan saya usahakan”. Tetapi ketika mendekati batas waktu yang diberikan, ternyata masih belum selesai, biasanya saya akan menginformasikan hal ini juga.
  • Menekuni kembali hobby kita yang telah lama kita tinggalkan, karena kesibukan dan rutinas sehari-hari.
  • Tidak ada salahnya, sekali-kali memberi hadiah kepada diri sendiri, ketika dapat menyelesaikan sesuatu pekerjaan tepat waktu atau kita mencapai prestasi tertentu.
  • Mengambil cuti beberapa hari, pergi berlibur ke tempat-tempat yang ingin kita kunjungi. Suasana liburan dapat memberikan efek positif. Biasanya saya suka memanfaatkan waktu ketika mendapat tugas di luar kota, dengan mengambil cuti 1 – 2 hari untuk menjelajahi tempat-tempat yang belum pernah saya kunjungi, bertugas sekalian berlibur, tentunya tergantung dengan situasi dan harus mengajukan surat cuti sebelumnya.
  • Saat ini situs pertemanan, membuat kita dapat dengan mudah menemukan teman-teman semasa sekolah dan kuliah dulu, bertemu dengan orang-orang di masa lalu dan nostagia kenangan indah, dapat menimbulkan semangat tersendiri.
  • Mencoba mencari apa yang menjadi pemicu stress itu sendiri dan berusaha untuk mengatasinya, bukan menghindarinya, karena jika kita menghindarinya hanya bersifat sementara saja.
  • Berdoa kepada Tuhan, mohon petunjukNya, karena setiap manusia tidak akan diberi cobaan yang di luar batas kemampuannya.(1 Kor 10:13)

Stress memang akrab dalam kehidupan sehari-hari, bukan hanya menghampiri orang yang bekerja, bahkan siswa sekolah dan mahasiswa pun dapat mengalami stress ketika akan menghadapi ujian. Tingkat persaingan yang sangat ketat di dunia pendidikan dan pekerjaan dan era globalisasi, dapat membuat seseorang mengalami stress.

Saya bersyukur, meskipun dalam perjalanan hidup saya pernah mengalami stress berat, bahkan cendrung mencapai tahap depresi ringan pada masa lalu, tetapi saya dapat melewati dan mengatasi stress dan menjadikan pengalaman yang berharga pada masa kini.

Sakit jasmani maupun rohani adalah kekalahan, Kesehatan adalah kemenangan, seyogiannya semua orang mencoba tetap sehat… (Thomas Carlyle)

Tulisan > Umum, Tips buat kesehatan

HKBP Lubuk Baja, Batam

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *