Tanya Jawab: Jangan cerai kecuali?

Tanya:
Amang, saya melihat ada dua orang Kristen yang bercerai bukan karena kematian, menikah dan menjalani pemberkatan pernikahan di sebuah gereja (bukan HKBP). Bolehkah itu? Dan apakah HKBP juga menjalankan praktek yang seperti itu? (Nita)

Jawab:
Gereja HKBP memang melarang perceraian sebagaimana diatur dalam Ruhut Parmahanion & Pamisangon (RPP) atau dalam (Bahasa Indonesia: Hukum Penggembalaan dan Siasat) dan juga janji pernikahan di Agenda Pernikahan HKBP. Itu berdasarkan firman Tuhan “Apa yang telah dipersatukan oleh Allah tidak boleh diceraikan manusia” (Markus 10:9).

Sebab itu gereja HKBP menganggap janji pernikahan sebagai sesuatu yang permanen atau final, ibarat patok yang tidak bisa dicabut lagi kecuali oleh kematian. Kita harus setia kepada pernikahan kita dalam suka maupun duka, sehat atau sakit, sampai maut memisahkan. Gereja hanya menerima wewenang dari Tuhan untuk melayani pernikahan dan bukan perceraian. Sebab itu dalam usianya yang jelang 150 tahun dan telah mengeluarkan puluhan ribu akta pernikahan (perkawinan) HKBP belum pernah satu kali pun menerbitkan akta perceraian.

Sebagai seorang pendeta dan teolog saya bukan hanya wajib taat kepada azas ini tetapi juga setuju. Bagi saya perceraian itu tetap adalah sebuah tindakan yang buruk. Selain mengorbankan anak-anak yang tidak pernah meminta dilahirkan dan tidak pernah dapat memilih orangtuanya, perceraian sangat merusak makna pernikahan sebagai lambang perjanjian kasih setia Kristus kepada umatNya (lihat Efesus 5:21-33, Wahyu 19:7, 21:22).

Mungkin ada yang mengatakan lantas bagaimana dengan firman Tuhan yang mengatakan bahwa perceraian dimungkinkan bila ada perzinahan? (Lihat: Matius 5:32). Terhadap orang yang berpendapat seperti ini kita juga harus mengatakan bahwa istilah perzinahan itu sangat luas. Yesus sendiri mengatakan dalam Matius 5:28 Siapa saja yang memandang perempuan dan menginginkannya maka dia sudah berzinah. Pertanyaan: siapakah kalau begitu yang tidak pernah berzinah sepanjang hidupnya? Apakah karena itu semua orang harus bercerai? Berhubung perzinahan itu sangat luas cakupannya dan sukar dibuktikan maka gereja berpendapat menolak perceraian termasuk karena tuduhan perzinahan. Sebaliknya gereja mendorong pasangan yang terluka karena perzinahan agar saling mengampuni dan bertobat serta memulihkan janji pernikahan kudusnya yang dianggap sebagai simbol hubungan kasih-setia Tuhan dan gerejaNya.

Bagaimana dengan pasangan yang mengalami kekerasan dalam rumah tangga? Bukankah lebih baik gereja mengijinkan perceraian daripada membiarkan kekerasan terus terjadi? Menurut saya dua-duanya harus ditolak, artinya kekerasan memang harus dihentikan segera (salah satu caranya adalah dengan berpisah ruang sementara) namun tetap tidak ada perceraian. Selama masa “retret” atau pemisahan sementara itu kedua pasangan dapat berdoa dan merenung dan yang melakukan kekerasan mendapat kesempatan untuk bertobat agar tidak melakukan lagi kejahatan itu.

Lantas bagaimana dengan perceraian karena tidak memiliki keturunan? Itu pun tidak dapat dibenarkan. Tujuan pernikahan bukan hanya untuk memiliki anak, tetapi untuk saling mengasihi dan saling membahagiakan, serta untuk memuliakan Tuhan. Sebab itu ketiadaan anak tidak bisa dijadikan pembenaran perceraian.

Di HKBP seorang yang menceraikan pasangannya dihukum dengan cara mengeluarkannya dari persekutuan gereja dan memaklumatkannya di warta jemaat. Jika perceraian itu disetujui oleh dua pihak maka dua-duanya dihukum oleh gereja. Namun jika yang seorang tidak setuju maka hanya yang menyetujui perceraian itu yang dihukum. Orang yang ditinggalkan pasangannya itu boleh menerima pemberkatan nikah lagi di gereja jika bekas pasangannya itu sudah menikah lagi. Sebaliknya, orang yang dihukum oleh gereja, boleh kembali ke gereja dan mendaftar jadi anggota pelajar (ruas parguru) jika istrinya yang pertama sudah menikah lagi.

Gereja HKBP menghormati keputusan lembaga pengadilan namun tidak dalam kasus perceraian. Walaupun suatu pasangan sudah diputuskan oleh pengadilan bercerai gereja HKBP tidak mengakuinya. Mengapa? Karena kita harus lebih taat kepada Allah daripada kepada manusia (Kis 5:29).

Pdt. Daniel T.A. Harahap.
sumber: rumametmet.com

Publikasi > Tulisan > Tanya Jawab

HKBP Lubuk Baja, Batam

9 thoughts on “Tanya Jawab: Jangan cerai kecuali?

  1. Bagaimana kalau kita atau gereja tidak tahu apakah bekas pasangan yang akan menikah lagi itu sudah menikah lagi atau belum? Bagaimana gereja mencari tahu hal itu dan bagaimana Amang kalau kenyataannya bekas pasangannya itu belum menikah lagi, apa pernikahan itu diperbolehkan oleh gereja?

    • Dalam prosedur pernikahan di HKBP ada beberapa tahapan dan syarat-syarat yang perlu dipenuhi oleh calon Pengantin yang berencana untuk membangun Rumah tangganya dan menginginkan Pemberkatan di Gereja.

      1. Calon Pengantin mendaftarkan dirinya ke Gereja dengan membawa surat-surat seperti : Surat tanda Babtis,Surat sidi, dan jugasurat Parhuriaon(Surat tanda jemaat gereja).

      2. Gereja tentu akan mengecek keabsahan dari surat-surat tersebut diatas.

      3. Sebelum acara Pemberkatan Nikah,ada yang dinamakan dengan Martumpol pada saat Martumpol,gereja akan memanggil kedua belah pihak(orang tua) dan juga saksi-saksi dari kedua belah pihak calon Pengantin. Pada saat Martumpol, Parhalado dari Huria juga dilibatkan sebagai saksi. Pangula ni Huria akan bertanya kepada kedua belah pihak apa masih ada hubungan calon pengantin dengan wanita atau pria yang lain yang belum diselesaikan.

      4. Menurut aturan Gereja, rencana Pemberkatan Nikah kedua mempelai
      haruslah diumumkan(ditingtingkan) ke seluruh Jemaat pada ibadah
      minggu (normalnya dua kali warta/2 minggu). Artinya, bila ada permasalahan yang belum selesai terutama hubungan Calon pengantin dengan wanita/pria yang lain,maka rencana Pemberkatan bisa ditunda
      bahkan dibatalkan gereja.

      Dengan prosedur/aturan diatas,maka sangatlah kecil kemungkinan calon
      Pengantin yang bermasalah fatal bisa dengan mudah mendapatkan
      Pernikahan Kudus digereja.

      Kita tidak boleh juga melupakan penyertaan TUHAN kepada Gereja-NYA
      sehingga bisa dihindarkan hal-hal yang tidak sesuai dengan kehendak-NYA.

      Apabila ada orang yang dengan sengaja berbohong dan memberikan
      keterangan palsu, maka saya yakin, ia sendiri akan menanggung dosa yang diperbuatnya,dan akan mempertanggungjawabkannya dihadapan TUHAN kelak.
      St. TF. Nainggolan, ST
      Demikian jawaban dari Saya, St. TF. Nainggolan, ST.
      Mungkin ada jawaban yang lebih sempurna dari Amang/Inang Fulltimer

  2. amang,
    teman saya bercerai karena istrinya kembali ke agama yang dianutnya sebelum menikah dengan teman saya (non kristen).
    Dia sudah bergumul cukup lama kira2 8 thn sampai akhirnya dia menyetujui untuk mensahkan perceraiannya dipengadilan agama karena pada prinsipnya dia tidak mau bercerai tetapi dia juga tidak mungkin untuk pindah ke agama lain sesuai dengan keinginan istrinya (karena perbedaan prinsip dan keyakinan ini mrk sudah berpisah 8 thn sampai akhirnya dia menyetujui perceraian pengadilan). Jika ingin menikah lagi, apakah dia boleh menerima pemberkatan dari gereja? apakah dgn menceraikan istrinya dia berdosa?

    • Kalau si perempuan itu sudah menikah lagi dan disertai dengan surat dari pengadilan serta saksi-saksi yang mendukung, maka si laki-laki boleh menikah lagi. Intinya, kalau si perempuan belum menikah, maka si laki-laki tidak dapat menerima pemberkatan di gereja.

      • Amang,,,kenapa pula si perempuan hrs menikah dulu…sementara si perempuan itu berpikiran, laki-laki itu yg hrs menikah dulu….Kalo mereka ber-2 berpikiran spt itu, bagaimana mereka bisa menikah lg???

  3. Amang,
    saya orang Jawa yang menikah dengan orang Batak. Anak saya 1 orang perempuan.
    Dulu saya menikah di HKBP dan semua prosedur yang disebutkan diatas sudah saya jalani. Selama 5 tahun saya hidup terpisah dengan suami saya karena dia tidak menerima saya sejak kasus penganiayaan yang menimpa bapak saya yang dilakukan suami saya.
    Beberapa bulan yang lalu kami sepakat untuk rujuk kembali. Tetapi sifat suami yang sewenang-wenang tidak berubah.
    Sekarang saya mendapatkan surat dari ketua adat bahwa kami dinyatakan cerai. Padahal saya tidak pernah ditanya ataupun dimintai pendapat oleh pihak yang dulu memberi marga kepada saya. Jadi hanya berdasarkan data sepihak dari suami saya, ketua adat tersebut menyatakan kami cerai.
    Saya mohon info bagaimana langkah yang harus saya tempuh. Apakah benar HKBP akan mengeluarkan surat cerai berdasarkan surat dari ketua adat tersebut (seperti informasi dari suami saya)?

    • Inang mona,

      Turut merasakan kesedihan serta prihatin atas situasi yang inang alami saat ini. HKBP memahami bahwa pernikahan itu adalah sesuatu yang kudus dimana kedua mempelai berjanji kepada Tuhan untuk menghadapi segala suka dan duka bersama dibahtera rumah tangga. Janji kepada Tuhan ini juga melibatkan seluruh warga jemaat yang hadir menyaksikan sehingga HKBP memahami bahwa kedua mempelai yang telah dipersatukan oleh Tuhan menjadi sebuah keluarga hanya dapat dipisahkan oleh maut/ kematian. Lain dari situ HKBP sebagai tubuh Kristus tak berhak menyatakan perpisahan/ mengeluarkan surat perceraian seperti informasi yang disampaikan suami inang.

      Langkah yang paling bijak untuk inang lakukan sekarang adalah tetap mempertahankan keutuhan rumah tangga dengan cara memelihara anak yang telah Tuhan titipkan untuk dirawat dan tidak merencanakan menikah dengan laki-laki yang lain. Meskipun inang tinggal berjauhan (baca: ditinggalkan suami) status inang sebagai warga jemaat di HKBP tidaklah gugur/ hilang. Surat “perceraian” yang dikeluarkan oleh ketua adat yang inang maksudkan tidak akan mempengaruhi status inang sebagai warga jemaat HKBP. Demikian jawaban yang bisa saya sampaikan kepada inang. Semoga memberi pencerahan.

      Teriring salam dan doa,

      Pdt. Tumpal Amudi Pandiangan
      Pendeta NHKBP Ressort Batam

  4. Saya keturunan Suku Jawa menikah dengan Pria Batak dan berjemaat di HKBP Cijantung, Jakarta. Amang saya mau tanya Baru-baru ini(…) seorang St HKBP Cijantung, menikah dengan perempuan suku batak yang sdah bercerai (janda). Apakah ini diperbolehkan? Dan kenapa Pendeta di HKBP tsb menngabulkannya? Apakah memang dalam lingkungan HKBP di ijinkan hal tersebut?

  5. Shalom, saya mau bertanya sehubungan dengan tugas sekolah.
    Bagaimanakah apabila seseorang ingin bercerai karena tidak puas secara biologis? dan pertanyaan kedua bagaimanakah apabila ada yang ingin bercerai karena penghasilan suami lebih kecil dari istrinya? terima kasih

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>