Persepuluhan: Apa, Kenapa & Bagaimana


Tanya:

Saya ingin menanyakan konsep perpuluhan dari sudut pandang HKBP. Selama ini saya merasa terpanggil untuk melakukan perpuluhan ke gereja dan saya sudah melakukan perpuluhan setiap bulannya tetapi menurut orang-orang tua bahwa perpuluhan tidak langsung dengan memberikan sepersepuluh dari penghasilan itu ke gereja, tetapi bisa dengan cara memberikan kepada orang sakit, pengemis, persembahan dan kegiatan yang lebih bersifat sosial. Apakah konsep perpuluhan kristen HKBP seperti itu sehingga jarang sekali jemaat yang memberikan perpuluhannya ke gereja termasuk naposo yang sudah bekerja? Mohon amang bisa bantu memberikan petunjuk apa yang seharusnya saya lakukan supaya saya tidak salah melangkah, karena perpuluhan ini sudah menjadi pergumulan saya sejak tahun lalu dan tahun ini saya sudah berkomitmen untuk memberikan perpuluhan kepada Tuhan. (DS, dan pertanyaan banyak orang lain via email dan message FS)

Jawab:

Sebelumnya saya menerima beberapa email dan message FS yang isinya juga menanyakan soal persembahan persepuluhan. Menurut saya agar dapat memahami makna persepuluhan dengan baik dan benar maka kita harus memahami apa sebenarnya makna persembahan menurut iman Kristen kita.

Pertama : Persembahan adalah tanda pengakuan
Dengan memberi persembahan kita mengaku bahwa tubuh, jiwa, dan roh serta segala yang ada pada kita adalah berasal dari Tuhan dan pada hakikatnya milik Tuhan. Diri kita dan seluruh harta kita seratus persen adalah milik Tuhan yang dipercayakanNya kepada kita untuk kita kelola dan nikmati sesuai dengan kehendak Tuhan, dan kita pertanggungjawabkan kepadaNya (Matius 25:14-30). Sebagian dari apa yang ada itu kita potong (dengan sadar dan sengaja) dan kita kembalikan lagi kepada Tuhan dalam ibadah sebagai tanda pengakuan kita bahwa diri dan segala kekayaan kita berasal dari Tuhan dan pada dasarnya milik Tuhan.

Tradisi Israel kuno menyebutkan jumlah yang harus kita potong untuk diserahkan sebagai persembahan itu adalah sepuluh persen dari hasil panen dan ternak, sebab itulah disebut persepuluhan. Pada awalnya berbentuk natura kemudian dapat digantikan dengan uang. Sebenarnya bukan jumlah pemberian sepuluh persen itu yang pokok, sebab seperti dikatakan di atas hidup kita seratus persen adalah pemberian dan milik Tuhan. Satu lagi: Tuhan adalah Pemilik kehidupan dan Dia sama sekali tidak tergantung kepada pemberian kita (Mazmur 50). Lagi pula Tuhan itu maha baik dan maha pemurah, Dia mengasihi kita dan bahkan memberikan AnakNya yang tunggal kepada kita (Yohanes 3:16). Lantas apa makna persepuluhan itu? Dengan mengembalikan sepersepuluh atau 10% dari penghasilan dan kekayaan pemberian Tuhan kita mau melatih dan mendisiplinkan diri kita mengaku bahwa Tuhanlah yang empunya hidup kita. Artinya: kita mau belajar memberikan persembahan secara tetap dan teratur, tidak tergantung mood atau suasana hati, juga situasi dan kondisi ekonomi. Ini baik dalam rangka melatih iman.

Kedua:persembahan tanda syukur dan terima kasih.
Dengan memberi persembahan kita mengaku bahwa kita sudah menerima sangat banyak kebajikan dan kemurahan Tuhan. Sebagian kita kembalikan kepada Tuhan sebagai tanda syukur atau ucapan terimakasih. Sebab itu kita memberikannya dengan penuh sukacita dan ikhlas! Persembahan sebab itu adalah respons atau jawaban orang beriman terhadap kasih dan berkat Allah yang begitu besar kepadanya. Persembahan adalah respons karena dan bukan syarat supaya mendapatkan berkat Allah! Persembahan termasuk persepuluhan bukanlah situmulans untuk merangsang kebajikan Allah namun respon orang beriman terhadap kebajikan Allah.
Sebab itu Maleakhi 3:10 juga harus dipahami bukan sebagai perintah Tuhan untuk memaksa kita memberi “upeti” kepadaNya, tetapi lebih sebagai seruan Tuhan agar kita percaya kepadaNya bahwa Dia baik dan setia serta selalu mencurahkan segala berkatNya. Kita tidak sedang bernegosiasi bisnis dengan Tuhan. Tanpa disogok, atau diberi persembahan pun, Tuhan Allah tetap baik dan setia, serta melimpahkan rahmatNya kepada kita. Namun sebagai orang-orang beriman tentu kita pantas bersyukur. Salah satu ungkapan syukur itu adalah memberi persembahan persepuluhan. Atau: persembahan mingguan, bulanan, atau tahunan. Sebagai persembahan syukur gereja tentu tidak perlu mematok jumlahnya. Jika kita mau komit (tanpa diperintah oleh siapapun) memberikan 10% dari penghasilan kita baik-baik dan sah-sah saja. Jika kita menetapkan kurang atau lebih juga baik dan sah. Ingat: Tuhan tidak membutuhkan belas kasihan umatNya. Sebaliknya Dialah yang berbelas kasih kepada umatNya. Karena itulah doa persembahan selalu berbunyi: Siapakah kami ini sehingga dapat memberi kepadaMu?

Ketiga: tanda kasih dan kemurahan hati
Yesus Kristus sudah memberikan diriNya kepada kita, menderita dan berkorban bagi kita. Sebab itu kita juga mau memberi, berbagi dan berkorban bagi sesama kita. Sebagaimana Kristus rela memecah-mecah tubuh dan mencurahkan darahNya untuk umat yang dikasihiNya, kita juga mau memecah-mecah roti dan berkat kehidupan untuk sesama. Ketika memberi persembahan kita sekaligus mau mengingatkan diri kita dan membaharui komitmen/ janji kita untuk selalu memberi, berbagi dan berkorban sebagaimana telah diteladankan oleh Kristus, Tuhan kita. (I Yoh 3:16-18).

Tidak ada patokan yang mengatakan bahwa persembahan persepuluhan harus ditujukan kepada gereja sebagai organisasi. Persembahan persepuluhan juga bisa diberikan kepada orang-orang miskin, lembaga sosial dan kemanusiaan. Yang penting di sini adalah persembahan persepuluhan itu adalah juga sekaligus tanda komitmen solidaritas dan cinta kasih kita kepada saudara-saudara Tuhan yang miskin, sakit, menderita dan terabaikan. Apa yang kita berikan kepada saudara-saudara Yesus yang miskin sama artinya dengan memberikannya kepada Tuhan. Sebab itu DS dan kita silahkan saja tentukan kemana hendak menyalurkan komitmen persepuluhannya. Bisa utuh kepada gereja, lembaga sosial dan kemanusiaan, atau dibagi-bagi. Jika menyampaikannya kepada gereja bisa juga tentukan persembahan persepuluhan secara spesifik ditujukan untuk pelayanan dibidang apa: diakoni, kesaksian, pembangunan, sekolah minggu dan lain-lain.

Keempat: tanda iman atau kepercayaan
Kita percaya bahwa Tuhan mencukupkan kebutuhan kita dan menjamin masa depan kita. Sebab itu kita tidak perlu kuatir atau kikir. Dengan memberi persembahan kita mau mengatakan kepada diri kita bahwa kita tidak takut kekurangan di masa depan sebab Allah menjamin masa depan. Persembahan adalah tanda iman kita kepada pemeliharaan Allah di masa depan. Sebab itu kita memberi persembahan tidak hanya di masa kelimpahan tetapi juga di masa kekurangan, tidak saja sewaktu kaya namun juga saat miskin. (Lih. Flp 4:17-19, II Kor 9:8).
Dengan memberikan persembahan, termasuk persepuluhan, termasuk di saat kita miskin atau kekurangan, kita sebenarnya mau melatih diri kita tetap beriman kepada Tuhan. Bahwa dengan memberikan sepersepuluh dari penghasilan kita maka kita tidak akan jatuh semakin miskin atau mati kelaparan. Di sini tentu saja kita harus kritis. Seandainya karena satu atau lain hal kita “gagal” memberikan persembahan perpuluhan kita juga tidak perlu merasa berdosa. Tuhan tidak pernah menuntut apa-apa dari kita. Dia sangat mengasihi kita. Namun, sebaliknya kita harus juga hati-hati, sebab kita juga bisa jatuh dalam sikap pembenaran diri, bermain-main atau seenaknya saja dalam memberi persembahan. Dan hal itu tidak baik bagi perkembangan jiwa kita. Kita harus belajar bertumbuh dan semakin dewasa dalam iman.

Kembali ke pertanyaan DS: silahkan saja memberi persembahan persepuluhan dengan motivasi dan pemahaman sebagaimana telah diterangkan di atas. Gereja kita HKBP memang sengaja tidak menjadikan persembahan persepuluhan sebagai sebuah aturan atau dogma sebab dalam memberi persembahan yang terpenting bukanlah jumlah nominalnya tetapi motif atau alasan hati yang ada dibalik persembahan itu. Persembahan apapun dan berapa pun, termasuk persepuluhan, yang keluar dari hati yang bersih dan tulus, penuh syukur, dan tidak punya pamrih, tentu berkenan di hati Allah.

Pdt Daniel Taruli Asi Harahap
sumber: rumametmet.com

HKBP Lubuk Baja, Batam

2 thoughts on “Persepuluhan: Apa, Kenapa & Bagaimana

  1. Saya ingin menanyakan :
    1.Apakah salah seorang memberi perpuluhan padahal untuk memenuhi kebutuhannya sendiri masih kurang?
    2.Apakah salah jika seorang mengembalikan perpuluhan dengan kerelaan hati ke gereja tapi ada anggota keluarga yang kekurangan yang membutuhkan dan tidak dapat dibantu karena budgetingnya pas-pasan? Apakah boleh perpuluhan tersebut dialihkan kepada keluarga yang membutuhkan?
    3. Apakah benar bila seorang anak bisa memberi perpuluhan ke gereja tapi tidak cukup untuk menyisihkan kepada orang tuanya?
    4. Apakah boleh dikatakan benar bila perpuluh tersebut dikelola sendiri untuk kepentingan pelayanan ( bila Si A seorang pelayan tapi tidak mendapat kontribusi dari gereja untuk transportasi, fotocopy, alat peraga dll )
    Mohon pejelasannya, terima kasih.

    • Syalom buat Ito Sarmah.

      Dalam Perjanjian Lama, perpuluhan itu wajib bagi umat Allah. Dengan pemahaman bahwa perpuluhan itu adalah bahagian yang menjadi milik Allah yang dipergunakan oleh para imam bait Allah untuk pelayanan, termasuk kebutuhan para imam, membantu orang-orang miskin, para janda, dll.
      Perpuluhan adalah bagian yg paling baik dari yang kita miliki, dalam pengertian bukan perpuluhan dari sisa-sisa yg kita miliki. Tetapi dari keseluruhan yg kita miliki, juga dengan kesadaran bahwa segala sesuatu itu berasal dari Allah.

      HKBP sendiri tidak terlalu menekankan perpuluhan tetapi juga tidak menolak jika ada jemaat yg memberikan perpuluhan kepada Gereja. Hal ini disebabkan ‘mungkin’ antara lain karena: HKBP telah memilii yayasan orang buta, penyakit kusta, yatim piatu, yang semua dana untuk itu telah dialokasikan atau diterima dari donateur, dalam hal ini jemaat, atau Gereja luar negeri. Sementara itu, untuk para imam; pelayan fulltimer (Pdt, Guru, Bibelvrow, Diakones) telah juga dicukupkan oleh jemaat lokal lewat persembahan, ucapan syukur dan iuran tahunan jemaat (tehnisnya boleh berbeda-beda).

      Kembali kepada pertanyaannya: mana lebih baik, memberikan perpuluhan kepada Gereja atau membantu saudara atau bahkan orang tua yang kekurangan ekonomi? Maka saya berpendapat, lebih baik membantu saudara atau orang tua atau bahkan orang-orang miskin yang ada di sekitar kita. Bukankah Yesus berkata, apa yg kamu lakukan kepada salah seorang saudaraku yang kecil ini ( orang miskin, sakit, para janda dan anak-anak telantar), kamu telah melakukannya untuk aku. Sekali lagi saya katakan LEBIH BAIK….bukan harus. Artinya kalau memungkinkan memberi perpuluhan, baiklah kita memberikannya sepanjang itu didasari oleh Syukur kepada TUHAN, bukan dengan sungut-sungut dan dengan tepaksa.
      Salam,
      Pdt. P.T. Sitio, STh

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *