Menolong anak yang suka berbohong

Berbohong merupakan perbuatan yang tidak baik. Sering orangtua menjadi marah kepada anaknya bila kedapatan berbuat begitu. Bahkan tidak jarang si anak dicaci-maki secara berlebihan. Padahal di balik itu, mungkin ada kebutuhan sang anak yang tidak terpenuhi.

Tomi, 8 tahun, berbohong kepada ibunya bahwa ia sudah menyelesaikan PR-nya, padahal sebenarnya belum. Ibunya baru mengetahui ulah Tomi setelah membuka-buka buku pelajarannya. Semua itu dilakukan Tomi karena ia takut diomeli ibunya.

Menjadi orangtua memang bukan pekerjaan mudah. Kadang-kadang sadar atau tidak sadar, sikap orangtua sendiri dapat menyebabkan anak suka berbohong. Belum lagi tekanan-tekanan atau pengaruh yang diterimanya dari lingkungan sekitar dan teman-temannya.

Berikut ini ada beberapa tip yang dapat menolong kita dalam mengatasi anak yang suka berbohong:

1. PERHATIKAN tindakan atau perilaku kita sebab hal itu lebih penting daripada kata-kata. Orangtua yang menetapkan peraturan di rumah tetapi tidak menaatinya, memberikan teladan yang tidak baik bagi anak-anak. Jika seorang ayah kedatangan tamu namun ia menyuruh anaknya untuk mengatakan bahwa ia sedang tidak ada, si anak akan menyimpulkan bahwa inilah cara terbaik untuk menghindar, yakni dengan berbohong.

2. MENGHORMATI privasi (keleluasaan) anak kita. Sekalipun orangtua bertanggung jawab memenuhi kebutuhan anak-anaknya, itu tidak berarti segala sesuatu harus dilakukan oleh mereka. Ada bidang-bidang tertentu dalam kehidupan anak yang memerlukan privasi. Sebagai contoh, hak mengatur kamarnya atau tidak membuka surat dari temannya. Anak-anak hendaknya diajar mandiri, namun bertahap dan dalam lingkup yang terbatas.

3. MENGENAL teman-teman anak kita. Menurut hasil penelitian, anak-anak yang suka berbohong, juga mempunyai teman-teman yang suka berbohong. Begitu anak-anak memasuki dunia sekolah, mereka akan bertemu dengan bermacam-macam anak dari latar belakang yang berbeda-beda. Orangtua tentu tidak mungkin mengawasi anaknya terus-menerus di sekolah. Pada saat anak-anak menginjak usia remaja, teman-temannyamenjadi amat berarti baginya. Karena itu, orangtua harus mengetahui siapa saja teman anak-anaknya, dan apa yang mereka lakukan dalam mengisi waktu senggang. Sekali-sekali mintalah anak kita mengajak teman-temannya berkunjung ke rumah. Jika orangtua merasa kurang setuju anaknya bermain-main dengan teman-temannya, mereka harus mengatakannya dengan alasan yang jelas. Misalnya, karena anak-anak itu tampaknya suka berbohong, mencuri atau kurang sopan.

4. MENETAPKAN sebuah cara tertentu untuk menangani anak kita yang suka berbohong. Memaksa mereka bersikap jujur bukanlah cara yang bijaksana. Jauh lebih baik orangtua membicarakan hal itu dengan sang anak dalam sikap lemah lembut dan bijaksana. Jika anak kita suka berbohong, mengenai keterlambatannya pulang sekolah, bicarakanlah dengan si anak bahwa kita merasa cemas kalau ia pulang terlambat. Mintalah ia menelepon kita jika ia memang harus mengerjakan tugas lain. Yang penting, tekankan kepada si anak bahwa kita tidak menginginkan terjadi sesuatu dengannya.

5. PERCAYALAH kepada anak kita. Penting sekali bagi orangtua untuk mengembangkan suatu hubungan saling mempercayai. Jika anak mengatakan bahwa ia terlambat pulang karena mengunjungi teman yang sakit, sebagai orangtua kita tidak perlu langsung menelepon untuk menanyakan kebenaran informasi tersebut. Cobalah mempercayai apa yang dikatakannya.

6. DAN yang tak kalah pentingnya adalah mengajar anak-anak tentang kebenaran firman Tuhan. Yesus pernah berkata, “Jika ya, hendaklah kamu katakan ya, jika tidak hendaklah kamu katakan tidak. Apa yang lebih daripada itu berasal dari si jahat” (Matius 5:37).

Sumber Artikel Rohani: Gloria Cyber Ministries
HKBP Lubuk Baja, Batam

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>