Cucu panggoaran

MESKI petang kian merapat, Nai Posma masih lelap di pondok humanya; tak lagi giat mengusir burung-burung kecil berwarna coklat yang terus berdatangan untuk menyantapi padinya. Sebagaimana padi yang terhampar di seluruh wilayah Janji Matogu, padi milik Nai Posma pun sudah mulai bunting dan menguning.

Ia amat kaget ketika tiba-tiba dibangunkan Amani Posma. Setengah sadar ia bertanya, gerangan apa kiranya yang penting hingga ayah anak-anaknya itu menemuinya ke pondok reot yang teronggok di tengah sawah mereka. Dengan nada riang dan raut muka berbinar-binar, Amani Posma berkata bahwa putra sulung mereka, Padot, baru saja menelepon, memberitahukan kelahiran anak lelakinya. Kegembiraan Nai Posma langsung membuncah dan tanpa menunggu waktu meminta suaminya kembali menghubungi Padot melalui telepon selulernya.

Suaranya terdengar lantang dan beberapa kali mengulang perkataannya karena koneksi telepon mereka tak begitu bersih. “Tak terkira lagi gembira hatiku ini, Amang. Seandainya bisa terbang, saat ini juga aku terbang ke Jakarta untuk melihat cucuku itu.” Entah apa yang dikatakan Padot, Nai Posma tampak manggut-manggut sembari tersenyum. “Olo, Amang, olo,” ucapnya sambil mengangguk, “Sampaikanlah salamku kepada mertuamu, ya.”
Perasaan Nai Posma bergelora laksana ombak samudera. Keutuhan dirinya sebagai natua-tua, seolah sudah terpenuhi setelah menunggu begitu lama. Cucu dari anak lelakinya yang pertama, akhirnya ada. Selama ini, ia dan suaminya acap merasa ada yang kurang dalam diri mereka lantaran belum memiliki nama panggoaran yang diambil dari nama cucu keturunan anak lelaki sulung mereka. Walau ketiga putrinya (kakak dan adik-adik Padot) sudah memberi mereka tujuh cucu, rasanya masih timpang dan karenanya mereka lebih senang dipanggil “Nai Posma” dan “Amani Posma” ketimbang “Ompung ni si Togi,” nama anak sulung Posma.

Usai menelepon Padot, Nai Posma langsung meminta suaminya mengirim SMS ke semua anaknya yang bermukim di perantauan; Posma di Cilegon, Tiodor di Kerinci, Astina di Sei Rampah, juga Manginar di Medan. Langsung pula diajaknya Amani Posma pulang ke huta, ingin segera menyampaikan berita gembira tersebut pada segenap tetangga dan kerabat mereka. Rasanya ia amat ingin bila semua orang yang dikenal dan mengenal mereka di Janji Matogu, Sibuntuon, Sihubak-hubak, Sirait Uruk, Porsea kota, tahu kelahiran cucu panggoaran-nya. Langkahnya tergesa ketika menelusuri pematang-pematang sawah hingga meninggalkan suaminya jauh di belakang.

Seperti dugaannya, para tetangga dan kerabatnya begitu antusias mendengar kabar lahirnya sang cucu; semakin melonjakkan gembira hatinya. Saat bertutur, dua tiga tetes air bening dari matanya sempat membasahi wajahnya yang cekung dan legam karena sering dibakar sinar matahari.

“Bah … tuani ma, Eda,” kata Ompu Netty boru Siagian sambil menyalami Nai Posma.

“Amang tutu …, akhirnya doamu dikabulkan Tuhan,” ujar Ompu Elprida boru Naipospos, yang tergopoh-gopoh muncul dari rumahnya setelah mendengar keriuhan di halaman huta.

“Laki-laki atau perempuan, Inanguda?” tanya Amani Binsar Manurung.
“Laki-laki, Amang,” sahut Nai Posma bersemangat.

“Bah, persis seperti kata pepatah. Hatop adong nadiaduna, lambat adong nadipaima. Tak sia-sialah kalian menunggu, langsung dapat cucu panggoaran laki-laki.”

Nai Posma tersenyum bangga, raut mukanya berbinar-binar.
“Jadi, kapanlah Namboru berangkat ke Jakarta?” tanya Nai Luhut boru Sitorus yang datang bergabung seraya membetulkan letak sarungnya.

“Kalau bisa, secepatnyalah, Inang. Sudah tak sabar lagi aku menggendong cucuku itu, tapi panen padi kita masih sekitar sebulan lagi…”
Nai Luhut dan yang lain manggut-manggut.

“Kasihan pula amangboru-mu,” lanjut Nai Posma, “pastilah kesusahan bila kutinggal sebelum panen selesai, walau ada si Sabam menemaninya.”

“Siapa nama anaknya ito Padot itu, Inangtua?” tanya Donda boru Manurung yang baru datang dari sawah.

“Belum ada, eh … belum tahulah, Inang. Siapa tahu sudah mereka siapkan. Tapi memang sudah kusiapkan nama cucuku itu. Beberapa bulan lalu aku mimpi ada orangtua menemuiku, tak kukenal siapa dia. Katanya, cucuku itu laki-laki, eh … ternyata benar.”
“Baaa …”
“Jadi, siapalah nama cucumu yang sudah kau siapkan itu, Inang?” tanya Nai Sangap boru Panjaitan mengulang pertanyaan Donda.
“Si Pangihutan, Inang. Supaya mangihut hal-hal yang baik. Tapi nama tersebut belum pernah kuberitahu pada siapa pun, termasuk simatua-mu.”
Nai Sangap dan orang-orang yang mengitari Nai Posma manggut-manggut.
“Kalau begitu, mulai sekarang, Inangtua sudah bisa kami panggil Ompu Pangihutan, ya,” kata Donda.
Nai Posma tersenyum sambil manggut-manggut.
Untuk merayakan gembira hatinya, diajaknya tetangga dan kerabatnya itu melanjutkan perbincangan di rumahnya. Ia gelar tikarnya yang besar di ruang tengah rumahnya yang berlantai semen. Dua ekor ayam peliharaannya yang baru kembali ke kandang ia perintahkan agar disembelih Sabam, sementara Donda dan Nai Luhut dimintanya mengulek bumbu serta memasak nasi.

Saat berbincang menunggu matangnya makanan untuk disantap bersama, Nai Posma mengingatkan suaminya agar menemui sintua untuk memberi ucapan syukur kepada gereja. Jemari tangannya begitu ringan saat mengeluarkan lembaran-lembaran Rp 10.000. dan Rp 20.000. lusuh dari dompet plastiknya, padahal biasanya ia selalu merasa berat setiap kali mengeluarkan kertas yang amat berharga itu, karena harus susah-payah ia kumpulkan. “Biarlah uangku yang tak banyak ini kuserahkan kepada gereja sebagai tanda terimakasihku pada Tuhan,” ujarnya seraya menyodorkan uang berjumlah Rp 250.000. itu ke tangan Amani Posma.***

SATU setengah bulan kemudian, usai memanen padi dan menjual sebagian beras hasil sawahnya di pasar Balige, Nai Posma berangkat menuju Jakarta. Sengaja ia naik bus meski uangnya cukup untuk membeli tiket pesawat dari Medan karena bermaksud mampir dulu di Kerinci untuk mengunjungi Tiodor. Putri keduanya itu, persis di bawah Padot, guru SMP di sana. Suaminya, Manahar Simanullang, bekerja di sebuah perkebunan sawit. Dari Kerinci Nai Posma akan meneruskan perjalanan ke Cilegon untuk mengunjungi Posma. Putri sulungnya itu bersama suaminya, Haposan Hutagalung, membuka usaha tambal ban sekaligus menjual bensin dan solar galon, oli, minyak rem, di tepi jalan raya Cilegon.
“Sudah kuesemes ke menantu dan boru kita memberitahukan keberangkatanmu siang ini,” kata Amani Posma kepada Nai Posma di sebuah kedai kopi merangkap stasiun bus ALS, persis di tepi jalan raya Porsea. Diingatkannya lagi Nai Posma agar tak lupa mengenali barang-barangnya yang sudah diberi Sabam tanda-tanda khusus berupa tulisan spidol agar tak tertukar dengan barang milik penumpang lain. Barang bawaan Nai Posma lumayan banyak. Sebuah koper biru tua berisi pakaiannya, tiga karung beras hasil sawahnya, dan sebuah tas besar yang saudah lusuh berisi delapan potong sarung Balige, empat kilogram ikan asin, enam bungkus tipa-tipa, dan dua kilogram andaliman. (Selama ini, melalui SMS, kedua putrinya sering mengaku mengidamkan ikan asin goreng jenis sangge atau kepala batu dengan sambal berbumbu andaliman. Posma bahkan mengaku sudah amat rindu mengunyah tipa-tipa yang dulu sering ia bikin bersama kawan-kawannya seusai panen).
Tak lupa Nai Posma membawa sehelai ulos mangiring yang ia beli saat menjual berasnya ke pasar Balige, khusus untuk cucunya yang baru lahir; ulos yang memiliki makna, kiranya dengan lahirnya Pangihutan, akan disertai hadirnya lagi adik-adiknya, perempuan maupun lelaki. Ia tak terlalu memasalahkan lelahnya perjalanan dengan bus melintasi wilayah Sumatera Utara, Riau, dan dari sana melanjutkan perjalanan menembus hutan Jambi, Sumatera Selatan, Lampung, lalu menyeberangi Selat Sunda sebelum tiba di Cilegon. Perjalanan yang membutuhkan waktu berhari-hari dan pasti menjemukan itu seperti terhapuskan suka-cita yang terus bergelinjang di dadanya.
***
NAI POSMA hanya tiga hari di Kerinci, walau Tiodor dan suaminya terus berusaha menahan agar tak buru-buru ia pergi.

“Dua hari lagi pun Omak di sini,” bujuk putri keduanya itu di depan kedai Salero Bundo, stasiun bus P.O Andalas. “Kami kan tak selalu mudah bertemu dengan Omak.”

“Kan sudah kubilang, Inang, sepulang dari Jakarta, aku masih mampir ke Sei Rampah melihat adikmu. Kasihan bapakmu kalau terlalu lama kutinggalkan.” Meski Tiodor merajuk, Nai Posma tetap bertahan. “Sudahlah, Inang” ujarnya seraya mengelus rambut Tiodor, “aku sudah senang melihat kalian semua sehat, terutama cucuku yang dua itu. Doakan saja supaya Tuhan memambahkan rejeki bagi kalian supaya bisa pulang ke Toba tahun baru nanti, atau Omak dan bapakmu bisa mengunjungi kalian ke Kerinci ini.”
Wajah Tiodor cemberut, “Kayaknya memang hanya ito Padot yang penting bagi Omak,” gerutunya sambil menyibak-nyibakkan rambutnya yang panjang. “Kami bukan tak gembira atas kelahiran paramaan kami, tapi dari dulu Omak memang…”
“Eh, jangan bilang begitu, Inang. Semua kalian anak-menantu dan cucuku sama berharganya bagi diriku.”

Dalam perjalanan menuju Cilgeon, pernyataan Tiodor yang disangkal Nai Posma itu terngiang kembali. Di benaknya ia akui bahwa sejak kecil memang selalu mengistimewakan Padot dan sering berbuat tak adil pada anak-anaknya yang lain. Barangkali karena Padot anak lelakinya yang sulung, yang entah kenapa bagi umumnya perempuan Batak seperti dirinya, senantiasa menempatkan anak lelaki sulung dan bungsu di sudut hati tersendiri.

Dulu, kendati uangnya tak banyak, ia akan berusaha mengabulkan permintaan Padot, terutama saat meneruskan SMA-nya di Medan dan melanjutkan kuliah di Fakultas Ekonomi, Universitas Parahyangan, Bandung. Sementara Posma, walau terbilang cerdas, tak sempat kuliah karena alasan biaya. Tiodor pun hanya ia bolehkan mengambil D3 di IKIP Medan, sementara Astina hanya boleh sekolah perawat dua tahun di Pematang Siantar. Anak lelakinya Manginar yang dulu ngotot kuliah di Surabaya karena diterima di Institut Teknologi Surabaya, hanya ia bolehkan kuliah di Medan, itupun harus menumpang di rumah namboru-nya agar lebih ringan biayanya. Sementara si bungsu Sabam harus menganggur dan tinggal di kampung setamat SMA karena tak masuk di universitas negeri.

Nai Posma memang begitu bangga pada Padot. Selain terbilang anak pintar yang pendiam, tampang dan fisiknya agak beda dari saudara-saudara dan teman sebayanya. Sejak murid SMA, ia sudah disukai gadis-gadis, walau akhirnya Gerda, adik kelasnya di Universitas Parahyangan, penakluknya.

Tetapi, yang tak pernah ia ungkapkan kepada siapa pun termasuk pada suaminya, sesungguhnya ia tak menghendaki menantu setipe Gerda untuk putra kebanggaannya itu. Menurutnya, boru Batak kelahiran Malang itu masih kurang cantik untuk ukuran Padot; pun punya sejumlah kekurangan karena sama sekali tak paham Bahasa Batak dan tak begitu kental menerapkan tata-krama dan paradaton Batak. Tujuh tahun lalu, ketika Padot memutuskan menikahi Gerda, Nai Posma memang tak terang-terangan mengajukan keberatan. Padahal, saat itu, ia amat berharap Padot tak buru-buru menikah agar sempat membantu biaya sekolah adik-adiknya, dan perempuan yang akan diperistrinya, setidaknya memenuhi kriteria yang sudah terpatri di benaknya-sebagaimana umumnya kemauan ibu-ibu Batak pedesaan. Meski hatinya berat, pernikahan anak lelaki sulungnya itu ia setujui dengan jumlah sinamot yang membuat mulutnya sempat menganga-walau seluruhnya ditanggung Padot.

Sejak berumahtangga, Padot dan menantunya baru sekali pulang ke Janji Matogu, itupun hanya dua hari dan Nai Posma amat tak puas karena menurutnya, sikap Gerda tak ada bedanya dengan boru sileban. Mungkin karena saat itu Gerda lebih banyak diam dan lebih senang berduaan dengan Padot di kamar-bisa jadi karena tak paham Bahasa Batak. Tetapi Nai Posma selalu berusaha keras untuk menutupi kekurangan Padot dan menantunya. Bila Posma, Tiodor, Astina, atau Manginar, menggunjingkan ketakramahan dan ketidakpedulian Gerda pada mereka (via SMS atau telepon), jangan diharap akan ditanggapi Nai Posma.

Baginya, Padot dan Gerda seperti tak punya kekurangan, kendati sebenarnya diam-diam sering ia telan sejumlah kekecewaan. Demi menjaga perasaan Padot pula maka ia kubur perbuatan yang semestinya dilakukan seorang parumaen terhadap simatua-nya. Dan, selama tujuh tahun ini ia turut dicengkeram kecemasan seraya terus berdoa supaya Tuhan berbaik hati mengaruniai Padot dan Gerda keturunan; terlepas dari kepentingan mereka yang membutuhkan sebuah nama cucu untuk dijadikan pangggoaran.

***
TIGA minggu lewat dua hari sudah Nai Posma di Celegon. Ia kian gelisah dan sering mengeluhkan panasnya udara dan bisingnya jalan raya. Acap ia uring-uringan karena katanya tak bisa tidur nyenyak dan kehilangan nafsu makan, selain memikirkan keadaan Amani Posma di kampung yang kurang sehat.

Posma dan suaminya merasa tak enak hati, apalagi hunian mereka amat sempit dan bersahaja, rumah petak setengah beton merangkap tempat usaha, persis di sisi jalan raya yang lalu lintasnya padat dan berdebu. Tapi, bisa jadi penyebab utama yang membuat Nai Posma kerap mengeluh dan uring-uringan, karena belum juga bisa bersitatap dengan Padot dan cucu yang amat ingin digendongnya.

Padot masih di Balikpapan mengaudit perusahaan klien kantornya. Pada hari Nai Posma tiba di Cilegon, Padot baru pulang dari Surabaya untuk melakukan tugas yang sama di perusahaan lain. Esoknya langsung berangkat ke Semarang dan sesudah empat hari di sana terbang lagi ke Balikpapan. Sebagai akuntan, ia begitu sibuk. Gerda sendiri masih cuti dan sejak melahirkan bayinya memilih tinggal di rumah orangtuanya di Bukit Sentul, Bogor. Alasannya, supaya ada yang mengurus keperluannya dan bayinya. Apartemen mereka di Taman Rasuna sesekali saja ditengok Padot, biasanya sepulang kerja dari kantornya di gedung Menara Imperium.

Hampir tiap hari Nai Posma menyuruh putri atau menantunya menelepon atau meng-SMS Padot, menanyakan kapan menjemput dirinya ke Cilegon, selain mengungkapkan perasaannya yang tak sabar lagi melihat cucunya. Nai Posma bahkan sudah beberapa kali berkata akan ke Bukit Sentul untuk melihat cucunya, namun Padot tetap mengatakan tak usah karena selain jaraknya cukup jauh dari Cilegon, terasa kurang afdol bila ia tak di sana. Dalam setiap percakapan mereka atau via SMS, Nai Posma tak lupa mengatakan bahwa ia sudah menyiapkan sebuah nama dan membawa ulos mangiring untuk cucunya, juga oleh-oleh sekarung beras hasil sawah mereka dan dua bungkus tipa-tipa.

Tapi, herannya, manakala bertelepon dengan Padot, Nai Posma akan menutupi kekecewaan dan kekesalan hatinya karena belum juga dijemput. Semua keluhannya seolah raib ditelan bumi, termasuk kekecewaannya pada Gerda yang belum pernah berinisiatif menelepon dirinya sejak tiba di Cilegon.
Diam-diam, Posma (dan suaminya) sudah kesal, apalagi merasa tak enak karena mereka seperti ditempatkan penampung kekecewaan dan keluhan Nai Posma belaka. Akibatnya, terkadang Posma begitu mudah membentak anak-anaknya karena menurutnya ribut hingga ompung tak bisa tidur. Mungkin perasaan Posma bertambah sensitif lantaran kondisi keuangan rumahtangganya yang tak mampu memiliki mobil sederhana sekalipun untuk membawa ibunya ke Bukit Sentul atau berekreasi ke Ancol, Monas, dan Taman Mini. Tapi, dengan keterbatasannya, ia ingin menyenangkan hati Nai Posma, bahkan sudah siap menyewa angkot untuk membawa mereka ke Bukit Sentul. Padotlah yang tak setuju, karena katanya akan segera datang menjemput mereka ke Cilegon.

Sore itu, Padot menelepon Nai Posma. Bicaranya agak tergesa. Katanya, ia baru tiba di Bandara Soekarno-Hatta dari Balikpapan karena jantung mertua lelakinya tiba-tiba mengalami penyumbatan dan atas anjuran dokter harus segera dioperasi di Singapura. Ia bergabung dengan Gerda bersama kedua mertuanya di bandara dan tengah menunggu penerbangan ke Singapura. Lebih lanjut ia katakan, mungkin sekitar seminggu di Singapura supaya ada yang menemani mertuanya karena kondisi Gerda masih lemah sebab baru tiga bulan partus hingga belum bisa diharapkan bergerak cepat manakala diperlukan.

“Baaa..,” tanggap Nai Posma agak terkejut namun nadanya amat jelas menyisipkan kekecewaan. “Mudah-mudahanlah operasi mertuamu berlangsung baik. Sampaikanlah salamku kepada mereka.”

“Iya, Omak. Tolong doakan mertuaku dan penjalanan kami ke Singapura.”
“Kudoakan pun, Amang. Tapi, aku mau bilang sekarang bahwa dua hari lagi aku akan pulang. Kasihan bapakmu, walau hatiku tak puas karena belum melihat cucuku itu.”

“Pulang?” sela Padot keheranan, “Maksud Omak, pulang ke kampung?”
“Olo, Amang, kasihan bapakmu. Kemarin adikmu si Sabam menelepon, katanya bapakmu sudah seminggu kurang sehat.”

“Tapi, Omak kan belum sempat melihat si Biyanca Rajdjingar?”
“Kenapa harus kulihat dulu biangta najingar, Amang? Ada rupanya anjing kalian?”

“Bukan biangta najingar, Omak, tapi Biyanca Rajdjingar. Itu nama cucumu!”
“Bah-bah-bah, kenapa kalian bikin nama cucuku itu seperti…?”
“Mmm…, Biyanca itu nama pilihan menantumu, Omak. Sedang Rajdjingar, diambil dari nama dokter yang dulu membantu pengobatan kami di Penang.”
Nai Posma tak lagi memberi tanggapan, namun dari raut wajahnya terlihat jelas bahwa ia amat kecewa. Ia benar-benar tak sanggup membayangkan dirinya dan suaminya, kelak akan dipanggil dan dijuluki orang-orang di Janji Matogu, “Ompu biangta najingar.” ***

Catatan:
-Biangta najingar: anjing kita yang galak/sangar
-Panggoaran: panggilan/gelar untuk seseorang (orangtua)
-Tuani ma: syukurlah
-Hatop adong nadiaduna, lambat adong naipaima: (harafiah) cepat karena ada yang dikejar, lambat karena ada yang ditunggu
-Mangihut: mengikut
-Simatua: mertua
-Parumaen: menantu perempuan
-Paramaan: anak lelaki saudara laki-laki
-Sinamot: mahar
-Boru sileban: perempuan non-Batak

Artikel ini ditulis oleh: Suhunan Situmorang

One thought on “Cucu panggoaran

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *