Apa itu martumpol?

Tanya:
Amang, di gereja HKBP sebelum menerima pemberkatan nikah lebih dulu diadakan acara yang dinamakan “martumpol” yang di banyak gereja lain tidak ada. Apakah sebenarnya “martumpol” atau “partumpolon” itu? (Erna)

Jawab:
Partumpolon adalah bahasa Batak. Arti hurufiahnya: berhadap-hadapan. Maksudnya kedua calon mempelai datang ke gereja bersama orangtua/ keluarga masing-masing untuk menyampaikan kesepakatan mereka untuk melangsungkan pernikahan dan membentuk rumah tangga. Pada jaman dahulu di Tanah Batak partumpolon dilakukan di konsistori atau kantor gereja dan dihadiri terbatas oleh calon mempelai dan keluarga dekatnya, dan bukan sebuah perhelatan besar.

Majelis gereja akan memeriksa kesiapan dan kesungguhan calon mempelai untuk menikah. Selain kelengkapan administrasi (akta baptis dan sidi, surat keterangan dari gereja asal bagi calon yang berasal dari luar jemaat bersangkutan) Majelis, biasanya dahulu Guru Jemaat, akan menanyakan langsung apakah mempelai masih atau tidak lagi memiliki ikatan dengan perempuan/laki-laki lain. Sesuai dengan tradisi adat lama, orangtua/ wali pengantin juga akan ditanya apakah mereka pernah membuat ikatan dengan pihak lain untuk berbesan. Jika semua sudah beres maka Majelis Gereja akan meminta mempelai dan orangtua/ wali serta para saksi menandatangani surat perjanjian atau kesepakatan untuk menikah.

Isi perjanjian itu adalah seperti ini:
Saya yang bernama…. marga… anak dari Bapak… dan Ibu…. alamat rumah…. Jemaat… Resor… dengan …. marga… putri dari Bapak…. dan Ibu…. alamat rumah …. Jemaat…. Resort…

Mengiyakan perjanjian sebagaimana tertulis di bawah ini:
Kami dengan kesungguhan dan kejelasan hati ingin menikah. Kami berjanji akan saling mengasihi sebagaimana pernikahan Kristen yang sejati. Kami juga berjanji tidak akan bercerai kecuali oleh diceraikan oleh kematian. Kami harus sepakat mentaati hukum dan aturan kekristenan gereja HKBP. Keanggotaan jemaat kami adalah benar dan kami juga tidak lagi memiliki ikatan dengan pihak lain. Seandainya ada yang hambatan dalam rencana pernikahan kami maka akan terlebih dulu kami selesaikan sebelum kami meminta pemberkatan nikah dari gereja.

Calon mempelai pria (nama, tanggal lahir, baptis, sidi)
Calon mempelai wanita (nama, tanggal, lahir, baptis, sidi)
Saksi-saksi:
Keluarga Mempelai Pria :
Keluarga Mempelai Wanita :
Penatua Wijk (dua orang) :
Yang Memperhadapkan (patumpolhon):
Warta Pertama tangal:
Warta Kedua tanggal:
Surat pemberitahuan akan dikirim ke jemaat : …. untuk diwartakan.
Pemberkatan nikah akan dilangsungkan hari/ tanggal …. pukul …. di gereja…..
Pendeta HKBP Resort
(nama dan tandatangan)

Berdasarkan surat perjanjian inilah gereja akan mewartakan rencana pemberkatan nikah kedua calon mempelai selama dua minggu berturut-turut. Tujuannya adalah agar seluruh pihak mengetahui bahwa si A dan si B merencanakan hendak menikah, sebab itu jika ada keberatan yang sah dari seseorang maka dapat diajukan sebelum pemberkatan dilakukan.

Bagaimana jika seorang calon membatalkan rencana pernikahannya setelah diwartakan oleh gereja? Itu bisa merupakan pelanggaran serius. Pihak yang membatalkan perjanjian tanpa alasan sah akan kena sanksi gereja karena dianggap membohongi Majelis. Namun jika ada masalah, sesuai klausul, kedua belah pihak diminta menyelesaikannya dahulu dan karena itu pernikahan tentu dapat ditunda.

Saya tidak memungkiri bahwa pada jaman sekarang telah terjadi pergeseran yang begitu besar dalam memaknai partumpolon. Di banyak gereja terutama di kota-kota partumpolon telah dibuat menjadi pesta besar, padahal pemberkatan belum dilakukan, dan pasangan belum resmi menikah. Akibatnya makna partumpolon sebagai pencatatan administratif dan penandatanganan kesepakatan untuk melangsungkan pernikahan menjadi kabur oleh kemeriahan.

Ada juga terjadi keanehan cara pikir. Ada yang menggabungkan acara martumpol dengan “marhata sinamot” (membicarakan mahar). Menurut logika, seharusnya acara “marhata sinamot” dilakukan sebelum martumpol. Sebab bagaimana nanti jika tidak terjadi kesepakatan mahar padahal kedua belah pihak sudah sepakat untuk meminta pemberkatan nikah dari gereja? Ada-ada saja.

Pdt Daniel Taruli Asi Harahap
sumber: rumametmet.com

HKBP Lubuk Baja, Batam

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *